Yordania melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Suriah bagian selatan pada Senin (26/10/2026). Operasi militer tersebut dilakukan setelah otoritas Yordania mengaitkan para tersangka penyerangan sebuah gereja di wilayah Karak dengan kelompok yang disebut sebagai organisasi teroris yang beroperasi di Suriah. Namun, serangan balasan tersebut memicu ketegangan antara kedua negara setelah otoritas Suriah melaporkan adanya korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Militer Yordania menyatakan bahwa angkatan udaranya telah menyerang sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian kelompok militan di wilayah selatan Suriah. Menurut pihak Yordania, sasaran operasi tersebut memiliki keterkaitan dengan individu-individu yang diduga terlibat dalam serangan bersenjata di sebuah gereja Ortodoks Yunani di Karak. Militer Yordania mengklaim serangan itu berhasil menghancurkan beberapa posisi kelompok militan serta menyebabkan sejumlah anggotanya tewas dan terluka.
Serangan udara tersebut berlangsung setelah aparat keamanan Yordania menangkap tiga pria yang diduga terlibat dalam penembakan di Gereja Ortodoks Yunani Santo Georgius, Desa Hamoud, Kegubernuran Karak. Penangkapan dilakukan pada Senin setelah petugas menemukan para tersangka bersembunyi di sebuah rumah kosong. Ketiganya dilaporkan sempat melakukan perlawanan bersenjata sebelum akhirnya berhasil diamankan dalam kondisi terluka.
Direktur Keamanan Publik Yordania, Mayor Jenderal Obeidallah al-Maaytah, menyampaikan bahwa aparat menemukan sejumlah senjata api dan amunisi saat melakukan operasi penangkapan. Ketiga pria tersebut diidentifikasi sebagai Ahmad Sami Hussein, Mish’al Zaidan Muhammad, dan Hazza’ Zaidan Muhammad. Dua di antaranya merupakan saudara kandung, sedangkan satu orang lainnya memiliki hubungan kekerabatan melalui pernikahan. Penyelidikan terhadap para tersangka masih berlangsung untuk memastikan motif dan kemungkinan keterlibatan jaringan lain.
Serangan di Gereja Santo Georgius terjadi pada Jumat (23/10/2026), ketika umat menghadiri upacara pemakaman di Desa Hamoud. Sejumlah pria bersenjata dilaporkan melepaskan tembakan di sekitar pintu masuk gereja sebelum menyerbu kawasan tempat ibadah tersebut. Insiden itu menimbulkan kepanikan di antara para pelayat dan mengakibatkan sejumlah orang meninggal dunia serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Jumlah korban meninggal dalam penyerangan gereja tersebut kemudian meningkat menjadi sembilan orang. Peristiwa itu mendapat perhatian luas di Yordania karena serangan bersenjata terhadap tempat ibadah tergolong jarang terjadi di negara tersebut. Pemerintah Yordania menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. Raja Abdullah II juga menyampaikan sikap tegas terhadap aksi kekerasan yang mengancam keamanan masyarakat dan persatuan nasional.
Di sisi lain, pemerintah Suriah menyampaikan keberatan terhadap operasi militer Yordania. Otoritas di Damaskus menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah Suriah. Kementerian Luar Negeri Suriah menegaskan pentingnya koordinasi keamanan dan komunikasi antarpemerintah, khususnya dalam menangani persoalan yang berkaitan dengan wilayah perbatasan. Pemerintah Suriah juga menyatakan sedang menyelidiki dampak serangan udara tersebut.
Menurut laporan awal Dinas Pertahanan Sipil Suriah, serangan di sejumlah lokasi di Provinsi Daraa dan Sweida mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia, termasuk tiga anak dan seorang perempuan. Tiga orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Laporan tersebut berbeda dengan klaim militer Yordania yang menyebut sasaran operasi sebagai tempat persembunyian kelompok militan. Perbedaan keterangan ini membuat status sasaran dan rincian korban menjadi persoalan penting dalam perkembangan insiden tersebut.
Dampak ketegangan juga meluas ke jalur perbatasan kedua negara. Pemerintah Suriah menutup perlintasan Nassib mulai Selasa (27/10/2026), sehingga lalu lintas penumpang dan perdagangan antara Suriah dan Yordania dihentikan sementara dari kedua arah. Penutupan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan keamanan di Provinsi Daraa. Perlintasan Nassib merupakan jalur penting bagi pergerakan orang dan barang antara kedua negara, sehingga penghentian aktivitasnya berpotensi mengganggu perjalanan serta kegiatan perdagangan lintas batas.
Hingga perkembangan terakhir yang dilaporkan, belum ada kelompok yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan di Gereja Santo Georgius. Otoritas Yordania masih menyelidiki para tersangka dan kemungkinan hubungan mereka dengan jaringan ekstremis, sementara pemerintah Suriah berfokus pada penyelidikan atas dampak serangan udara di wilayahnya. Kedua negara menghadapi kebutuhan untuk menangani persoalan keamanan tersebut di tengah perbedaan pandangan mengenai koordinasi operasi militer dan jatuhnya korban sipil.
Jurnalis : Wafiq Qodriyatussoleha
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !