Program Sawah Pokok Murah (SPM) yang berkembang di Sumatera Barat kembali mendapat perhatian karena menawarkan pola budidaya padi dengan biaya produksi lebih rendah. Metode tersebut mengandalkan pemanfaatan jerami dan pengelolaan lahan yang lebih sederhana sehingga penggunaan pupuk kimia, tenaga kerja, serta biaya pengolahan sawah dapat ditekan.
Inovasi ini dikembangkan oleh Ir. Djoni dan mulai dirintis sejak 2020. Gagasan tersebut berangkat dari persoalan yang dihadapi petani, termasuk tingginya biaya produksi dan kebiasaan membakar jerami setelah panen. Dalam penerapannya, jerami tidak dibakar, tetapi dikembalikan ke lahan untuk dimanfaatkan sebagai bahan organik.
Konsep Sawah Pokok Murah menitikberatkan pada efisiensi biaya produksi sekaligus upaya menjaga kondisi tanah. Pemerintah Kabupaten Agam sebelumnya telah menjalankan program ini di 92 nagari sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung swasembada pangan.
Salah satu komponen utama metode tersebut adalah Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT). Jerami sisa panen dikumpulkan dan digunakan sebagai penutup permukaan tanah. Cara tersebut ditujukan untuk membantu mempertahankan kelembapan serta menambah bahan organik di lahan, sekaligus mengurangi kebutuhan pengolahan tanah secara intensif.
Teknik SPM juga mencakup pembuatan parit selebar mata cangkul dengan jarak sekitar 125 sentimeter antarparit untuk membantu pengaturan air. Bibit padi diseleksi menggunakan metode air garam dan telur sebelum ditanam. Bibit kemudian ditanam pada usia sekitar 12 hingga 14 hari setelah penyemaian.
Dalam praktiknya, metode tersebut juga mengurangi penggunaan pupuk kimia. Berdasarkan penjelasan penggagas kepada Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumatera Barat, pupuk kimia pada metode SPM digunakan sekitar 30 persen dari kebiasaan pemberian pupuk yang dilakukan petani. Penggunaan pestisida juga ditekan dengan mengandalkan keseimbangan ekosistem di lahan persawahan.
Pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia menjadi salah satu aspek yang membuat SPM mendapat perhatian. Biaya pupuk merupakan salah satu komponen pengeluaran dalam usaha tani padi. Dengan memanfaatkan jerami sebagai sumber bahan organik dan mengurangi input dari luar, metode tersebut ditujukan untuk membantu petani menekan modal produksi.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto sebelumnya menilai metode Sawah Pokok Murah memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas. Saat meninjau penerapannya di Kabupaten Agam pada Juni 2025, ia menyebut biaya produksi metode tersebut rendah karena sawah tidak perlu dibajak setelah panen dan penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi melalui pemanfaatan jerami.
Meski demikian, pengembangan SPM masih membutuhkan pengujian dan kajian ilmiah yang lebih komprehensif. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mencatat bahwa efektivitas, keandalan, dan keberlanjutan metode tersebut masih perlu diuji secara terukur dari sisi ekologis, ekonomi, dan sosial. Kajian tersebut diperlukan agar pengembangan program memiliki dasar ilmiah yang kuat sebelum diterapkan lebih luas.
Upaya verifikasi juga menjadi perhatian lembaga pertanian pemerintah. BRMP Sumatera Barat menyatakan kesiapan untuk melakukan verifikasi langsung di lapangan terhadap petani yang menerapkan SPM. Langkah tersebut ditujukan untuk membandingkan hasil dan keuntungan metode tersebut dengan pola budidaya padi konvensional.
Di sejumlah daerah, penerapan SPM dilaporkan memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Di Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, misalnya, program sekolah lapangan berbasis SPM dilaporkan menghasilkan panen hingga sekitar 7 ton per hektare dengan peningkatan produksi dibandingkan sebelumnya serta penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang lebih sedikit.
Potensi penghematan biaya tersebut membuat Sawah Pokok Murah dinilai dapat menjadi alternatif bagi petani yang menghadapi keterbatasan modal. Selain persoalan biaya, pendekatan ini juga berupaya memanfaatkan kembali limbah pertanian yang sebelumnya kerap dibakar, sehingga memberikan manfaat tambahan dari sisi pengelolaan lingkungan.
Namun, keberhasilan penerapan metode tersebut tetap bergantung pada kondisi lahan, tata kelola air, kualitas bibit, keterampilan petani, serta hasil pengujian di berbagai wilayah. Karena itu, klaim mengenai produktivitas dan efisiensi SPM perlu terus dibandingkan dengan metode konvensional melalui penelitian dan pendampingan lapangan.
Jika hasil penelitian dan verifikasi menunjukkan bahwa metode tersebut konsisten memberikan manfaat, Sawah Pokok Murah berpeluang menjadi salah satu pendekatan dalam pengembangan pertanian yang lebih efisien. Untuk saat ini, pemerintah dan sejumlah pihak masih mendorong riset serta pembakuan metode agar penerapannya memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jurnalis : Damara Rizky Elisyah
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !