Warga Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menemukan cara kreatif untuk mengubah sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), sampah organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah kini dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya yang menghasilkan berbagai produk bernilai guna.
Program tersebut dijalankan melalui Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem. Kehadiran rumah maggot secara perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Jika sebelumnya sampah organik hanya dibuang dan berpotensi menimbulkan bau maupun pencemaran, kini sebagian warga mulai memilah sampah sejak dari rumah untuk kemudian dimanfaatkan dalam proses budidaya maggot.
Ketua Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem, Riyanta, mengatakan pengelolaan sampah dengan metode tersebut memberikan manfaat ganda. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan. Sisa proses budidayanya juga dapat diolah menjadi pupuk yang kembali digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat.
Saat ini, rumah maggot tersebut mampu mengolah rata-rata sekitar 561 kilogram sampah organik setiap bulan. Sampah tersebut berasal dari sekitar 60 rumah tangga serta dua pelaku usaha angkringan. Pengolahan tersebut turut membantu mengurangi volume sampah yang berpotensi menimbulkan bau dan pencemaran lingkungan hingga sekitar 40 sampai 60 persen.
Dari proses tersebut, masyarakat dapat menghasilkan rata-rata 50 kilogram maggot segar setiap bulan. Selain itu, terdapat sekitar 420 kilogram bekas maggot atau kasgot yang dihasilkan setiap tahun serta sekitar 540 liter pupuk organik cair. Seluruh hasil tersebut tidak berhenti sebagai limbah baru, tetapi kembali dimanfaatkan dalam kegiatan ekonomi masyarakat sehingga membentuk sebuah siklus yang berkelanjutan.
Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan untuk berbagai jenis hewan ternak. Dalam satu tahun, pemanfaatannya mencakup sekitar 547,5 kilogram untuk pakan lele dan 730 kilogram untuk ayam. Sementara itu, kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan sebagian pupuk organik cair digunakan maupun dipasarkan kepada masyarakat.
Pemanfaatan hasil budidaya tersebut kemudian berkembang ke sektor lain. Masyarakat dapat mengintegrasikan kegiatan budidaya maggot dengan peternakan ayam, budidaya ikan lele, serta perkebunan. Lahan pertanian seluas sekitar 400 meter persegi turut mendapatkan manfaat dari penggunaan pupuk yang berasal dari proses pengolahan tersebut.
Dari sisi ekonomi, program ini juga memberikan hasil yang cukup berarti bagi masyarakat. Penjualan ikan lele dan telur ayam rata-rata menghasilkan sekitar Rp1,5 juta setiap bulan. Sementara itu, hasil penjualan sayuran mencapai sekitar Rp500 ribu per bulan. Produk kasgot dan pupuk organik cair juga memberikan pemasukan sekitar Rp4,5 juta per tahun.
Manfaat ekonomi tidak hanya diperoleh melalui penjualan produk. Penggunaan maggot sebagai pakan ternak juga membantu masyarakat mengurangi biaya pembelian pakan hingga sekitar Rp10,08 juta dalam satu tahun. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak sekadar menghasilkan pendapatan tambahan, tetapi juga membantu menekan biaya produksi usaha peternakan dan perikanan.
Program tersebut melibatkan masyarakat secara langsung. Sekitar 25 anggota masyarakat menjadi pengelola aktif, sementara manfaatnya dirasakan oleh sekitar 25 hingga 60 orang. Keterlibatan warga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan program karena proses pemilahan dan pengumpulan sampah harus dilakukan secara konsisten dari tingkat rumah tangga.
Program Maggot Black Soldier Fly di Karangasem merupakan hasil kolaborasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghadirkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang tidak hanya berfokus pada persoalan sampah, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menilai program tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diatasi melalui solusi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sampah organik yang sebelumnya menjadi persoalan dapat diolah menjadi sumber daya yang mendukung kegiatan ekonomi sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Kisah warga Karangasem memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif apabila dilakukan secara terencana dan melibatkan masyarakat. Dari sampah rumah tangga, warga dapat menghasilkan pakan, pupuk, serta produk peternakan dan pertanian. Model seperti ini sekaligus memberikan pelajaran bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !