SEOUL – Tren piknik di Seoul, Korea Selatan, menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Jika selama ini ayam goreng dan bir kerap menjadi pilihan untuk menikmati waktu santai di tepi Sungai Han, kini sebagian anak muda beralih membawa sashimi atau irisan ikan mentah segar untuk disantap di ruang terbuka. Tren yang dikenal dengan istilah “hoe-cnic” tersebut semakin menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda yang gemar mencoba pengalaman baru sekaligus menikmati suasana kota.
Istilah hoe-cnic merupakan gabungan kata “hoe”, sebutan dalam bahasa Korea untuk hidangan ikan mentah, dan “picnic” yang berarti piknik. Konsepnya sederhana, yakni membeli sashimi dalam kemasan siap santap, kemudian membawanya ke taman tepi Sungai Han untuk dinikmati bersama teman, pasangan, atau keluarga. Meski terlihat sederhana, perpaduan makanan laut segar, pemandangan sungai, dan suasana santai menjadikan kegiatan ini sebagai pilihan rekreasi yang berbeda.
Salah satu lokasi yang kerap menjadi titik awal kegiatan tersebut adalah Pasar Ikan Grosir Noryangjin di Seoul. Pengunjung dapat membeli berbagai jenis ikan dan makanan laut yang disiapkan sebagai sashimi untuk dibawa pergi. Setelah berbelanja, mereka melanjutkan perjalanan menuju taman di sepanjang Sungai Han, menggelar tikar, menata makanan, dan menikmati hidangan sambil memandang aliran sungai serta pemandangan perkotaan.
Sejumlah lokasi yang populer untuk menikmati hoe-cnic antara lain Yeouido Hangang Park, Nodeulseom Island, dan Yanghwa Hangang Park. Ketiganya menawarkan ruang terbuka yang memungkinkan pengunjung bersantai sambil menikmati pemandangan sungai. Pada musim gugur, suasana luar ruangan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang ingin menghabiskan waktu di luar rumah sebelum cuaca semakin dingin.
Menu yang dibawa dalam piknik ini tidak terbatas pada sashimi saja. Sebagian pengunjung melengkapinya dengan mi instan yang dimasak menggunakan fasilitas yang tersedia di taman, saus pendamping, serta minuman. Ada pula yang menyewa perlengkapan piknik, seperti tikar, meja kecil, dan tenda, untuk membuat kegiatan bersantai lebih nyaman. Kombinasi makanan laut segar dan mi hangat menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda dari piknik konvensional.
Popularitas hoe-cnic turut diperkuat oleh media sosial. Foto dan video orang-orang yang menikmati sashimi di tepi sungai beredar di berbagai platform digital, memancing rasa penasaran pengguna lain untuk mencoba pengalaman serupa. Sejumlah figur publik dan kreator konten Korea Selatan juga membagikan kegiatan piknik mereka, sehingga tren tersebut semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Menariknya, pelaku usaha di Pasar Ikan Noryangjin mulai menyesuaikan penawaran mereka dengan kebiasaan baru tersebut. Beberapa penjual menyediakan paket khusus untuk piknik, termasuk pilihan sashimi dengan konsep omakase. Paket semacam ini memungkinkan pelanggan menikmati aneka hidangan laut tanpa harus menyusun menu sendiri, sekaligus memudahkan proses pembelian makanan untuk dibawa ke taman.
Tren tersebut juga membawa perubahan pada profil pengunjung pasar ikan. Tempat yang sebelumnya lebih banyak dikunjungi konsumen berusia 40-an hingga 50-an tahun kini semakin menarik minat kelompok usia 20-an dan 30-an. Pergeseran ini memperlihatkan bahwa pasar tradisional dapat menjangkau konsumen muda ketika produk yang ditawarkan dikemas sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan mereka.
Salah satu alasan hoe-cnic diminati adalah keinginan untuk memperoleh pengalaman yang unik. Menikmati sashimi di restoran atau kawasan pesisir bukanlah hal baru, tetapi menyantap hidangan tersebut di taman di tengah kota besar memberikan suasana berbeda. Bagi sebagian anak muda, kegiatan rekreasi tidak lagi hanya berpusat pada tempat makan, tetapi juga pada pengalaman, pemandangan, dan momen yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Faktor gaya hidup sehat juga ikut mendorong minat terhadap hidangan ikan mentah. Dibandingkan sejumlah makanan piknik yang digoreng, sashimi pada umumnya mengandung protein tinggi dengan kadar lemak relatif rendah, bergantung pada jenis ikan dan potongannya. Ikan juga dapat menjadi sumber asam lemak omega-3 serta sejumlah vitamin dan mineral. Meski demikian, nilai gizi setiap hidangan berbeda-beda, sementara saus dan makanan pendamping dapat menambah kandungan kalori maupun natrium.
Konsep ini sejalan dengan gaya hidup yang kerap disebut “healthy pleasure”, yaitu upaya menikmati makanan dan kegiatan menyenangkan sambil tetap memperhatikan kesehatan. Bagi sebagian anak muda, hoe-cnic menawarkan kombinasi antara rekreasi sederhana, pilihan makanan laut, dan suasana luar ruangan. Namun, sashimi tetap merupakan makanan mentah yang membutuhkan penanganan higienis dan penyimpanan pada suhu yang tepat agar risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan.
Di balik popularitasnya, piknik dengan sashimi juga memiliki tantangan tersendiri. Kondisi cuaca menjadi faktor penting karena angin kencang dapat menerbangkan kemasan makanan, sementara hujan bisa membuat pengunjung terpaksa mengakhiri kegiatan lebih cepat. Sejumlah pengalaman yang dibagikan di media sosial memperlihatkan bagaimana piknik yang direncanakan dengan baik dapat berubah berantakan ketika cuaca tidak mendukung.
Perubahan suhu yang semakin rendah pada musim gugur juga perlu diperhatikan. Menyantap ikan mentah yang dingin di luar ruangan ketika angin bertiup kencang dapat mengurangi kenyamanan, terlebih jika kegiatan berlangsung hingga malam hari. Pengunjung disarankan mengenakan pakaian hangat, memilih waktu yang cuacanya mendukung, dan tidak memaksakan diri tetap berada di luar ketika kondisi terlalu dingin.
Konsumsi minuman beralkohol di tengah cuaca dingin juga memerlukan kewaspadaan. Alkohol dapat menimbulkan sensasi hangat, tetapi sebenarnya tidak meningkatkan suhu inti tubuh dan justru dapat memperbesar risiko hipotermia. Karena itu, pengunjung perlu menjaga tubuh tetap hangat dan membatasi waktu berada di luar ruangan, terutama ketika suhu turun tajam.
Popularitas hoe-cnic turut memunculkan persoalan pengelolaan sampah di kawasan taman. Kemasan plastik, bungkus makanan, sisa ikan, dan wadah saus dapat menambah volume sampah apabila tidak dibuang dengan benar. Pengunjung perlu memisahkan sampah sesuai fasilitas yang tersedia dan membawa kembali sampah apabila tempat pembuangan tidak memadai. Kebiasaan tersebut penting agar ruang terbuka di sepanjang Sungai Han tetap bersih dan nyaman digunakan bersama.
Bagi sektor usaha, tren ini membuka peluang bagi pedagang makanan laut untuk menjangkau konsumen baru melalui layanan bawa pulang dan paket khusus piknik. Sementara itu, taman-taman di sepanjang Sungai Han semakin berfungsi sebagai ruang rekreasi yang menggabungkan kuliner, aktivitas sosial, dan wisata perkotaan. Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana perubahan kebiasaan konsumen dapat menciptakan peluang baru bagi bisnis lokal dan destinasi wisata kota.
Tren hoe-cnic kini menjadi salah satu gambaran perubahan gaya hidup anak muda di Seoul yang semakin mengutamakan pengalaman dan fleksibilitas. Dengan membawa sashimi dari pasar ikan ke tepi Sungai Han, masyarakat dapat menikmati hidangan laut dalam suasana santai tanpa harus mengunjungi restoran. Meski demikian, kebersihan makanan, pengelolaan sampah, serta kesiapan menghadapi cuaca tetap menjadi hal penting agar kegiatan piknik berlangsung aman dan nyaman.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !