Pemprov DKI Gencarkan Program Pilah Sampah, Target Pengiriman Sampah ke Bantargebang Tinggal 20 Persen

Pemprov DKI Gencarkan Program Pilah Sampah, Target Pengiriman Sampah ke Bantargebang Tinggal 20 Persen

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat program pemilahan sampah dari sumber sebagai bagian dari upaya mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Melalui program tersebut, pemerintah menargetkan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dapat ditekan hingga hanya menyisakan sekitar 20 persen dari total sampah yang dihasilkan masyarakat.

Kebijakan tersebut merupakan salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang yang selama bertahun-tahun menjadi lokasi pembuangan akhir sampah ibu kota. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat, volume sampah yang dihasilkan setiap hari terus mengalami peningkatan sehingga diperlukan perubahan pola pengelolaan yang lebih efektif dan berorientasi pada pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

Pemprov DKI mendorong seluruh lapisan masyarakat agar membiasakan memilah sampah rumah tangga menjadi beberapa kategori, seperti sampah organik, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi, serta sampah residu. Sampah organik diharapkan dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan melalui berbagai metode pengolahan mandiri, sementara sampah anorganik dapat disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang sehingga memiliki nilai tambah ekonomi.

Selain mengurangi beban TPST Bantargebang, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Pemerintah menilai bahwa keberhasilan pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi juga sangat ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari lingkungan rumah tangga.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, Pemprov DKI juga menggencarkan sosialisasi melalui berbagai unsur masyarakat, mulai dari kader Dasawisma, pengurus RT dan RW, sekolah, komunitas lingkungan, hingga pelaku usaha. Seluruh elemen tersebut diharapkan menjadi motor penggerak dalam membangun budaya memilah sampah serta mengurangi penggunaan barang sekali pakai yang berpotensi menambah volume sampah setiap harinya.

Pengembangan bank sampah juga menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Keberadaan bank sampah dinilai mampu memberikan manfaat ganda, yakni mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Melalui sistem tersebut, warga dapat menukarkan sampah yang masih memiliki nilai jual menjadi tabungan atau insentif ekonomi lainnya sehingga mendorong partisipasi aktif dalam pengelolaan sampah.

Pemerintah optimistis target pengurangan sampah ke TPST Bantargebang dapat tercapai apabila seluruh masyarakat terlibat secara aktif. Dengan semakin banyak sampah yang dapat diolah di tingkat rumah tangga maupun lingkungan, hanya sampah residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali yang nantinya akan dikirim ke tempat pemrosesan akhir.

Program ini juga menjadi bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat, diharapkan Jakarta mampu mengurangi volume sampah secara signifikan, menjaga kualitas lingkungan hidup, serta menciptakan kota yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warganya.

Jurnalis : Annisa

author avatar
Wartawan Fakta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya
Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !