Karhutla di Indonesia Belum Berakhir, Titik Api Kembali Bertambah dan Penanganan Diminta Menjangkau Akar Masalah

Karhutla di Indonesia Belum Berakhir, Titik Api Kembali Bertambah dan Penanganan Diminta Menjangkau Akar Masalah

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia masih menjadi perhatian pemerintah meskipun hujan mulai turun di beberapa daerah. Ancaman kebakaran belum sepenuhnya dapat dikendalikan karena masih terdapat bara api yang bertahan di bawah permukaan tanah, terutama pada kawasan gambut. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan titik api baru apabila tidak ditangani secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa penurunan luas kebakaran di sejumlah wilayah belum sepenuhnya mencerminkan berakhirnya ancaman karhutla. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 November 2026, luas lahan yang terbakar di beberapa wilayah masih mencapai ratusan hektare. Sejumlah daerah bahkan mencatat peningkatan luas kebakaran meskipun wilayah lainnya mulai mengalami penurunan.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir belum mampu memadamkan seluruh bara api, khususnya yang berada di bawah permukaan tanah gambut. Kondisi tersebut membuat potensi munculnya titik kebakaran baru masih perlu diwaspadai oleh petugas maupun masyarakat.

Berdasarkan data BNPB, Kalimantan Tengah mencatat luas kebakaran sekitar 351 hektare atau mengalami penurunan 42 persen. Papua Selatan tercatat sekitar 253 hektare atau turun 56 persen. Sementara itu, Sulawesi Tenggara memiliki luas kebakaran sekitar 95 hektare dengan penurunan 63 persen, sedangkan Nusa Tenggara Timur tercatat 16 hektare atau turun 36 persen.

Di sisi lain, perkembangan berbeda terjadi di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung. Luas kebakaran di Kalimantan Barat tercatat mencapai 19 hektare atau meningkat sekitar 217 persen. Sementara Bangka Belitung mencatat luas kebakaran sekitar 8 hektare dengan peningkatan 100 persen. Data tersebut memperlihatkan bahwa ancaman karhutla masih berlangsung secara tidak merata dan membutuhkan penanganan sesuai kondisi masing-masing wilayah.

BNPB mengingatkan bahwa bara api di bawah permukaan tanah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses pemadaman. Pada lahan gambut, api dapat merambat di bagian bawah tanah tanpa selalu memperlihatkan kobaran besar di permukaan. Akibatnya, kawasan yang terlihat sudah aman masih berpotensi menyimpan sumber panas yang dapat kembali memicu kebakaran ketika kondisi lingkungan mendukung.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan dengan memadamkan titik api yang terlihat. Petugas perlu melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi, penyisiran bara, pembasahan lahan, serta pendinginan secara berulang untuk memastikan tidak ada sumber api yang tertinggal. Pendekatan tersebut penting agar kebakaran tidak kembali muncul setelah proses pemadaman dinyatakan selesai.

Selain pemadaman, pemerintah juga terus memperkuat koordinasi antara BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta unsur masyarakat. Operasi di lapangan mencakup patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, hingga dukungan operasi udara melalui helikopter pemadam dan pesawat untuk kegiatan patroli maupun Operasi Modifikasi Cuaca.

Kementerian Kehutanan juga menekankan pentingnya penanganan yang tidak hanya berfokus pada lokasi munculnya api, tetapi turut memperhatikan kawasan yang menjadi sumber dan jalur penyebaran kebakaran. Pengawasan wilayah rawan, terutama kawasan gambut, perlu diperkuat melalui deteksi dini dan patroli terpadu. Dengan demikian, potensi kebakaran dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Aspek pencegahan juga menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Aktivitas pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar masih menjadi salah satu risiko yang harus diantisipasi. Pemerintah mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak menggunakan api untuk membuka lahan, serta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik panas, maupun aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan kawasan hutan dan lahan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, serta kualitas lingkungan. Asap kebakaran mengandung partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki gangguan kesehatan pernapasan. Oleh sebab itu, pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi kepada masyarakat terdampak perlu berjalan seiring dengan operasi pemadaman.

BNPB menegaskan bahwa upaya pengendalian akan terus dilakukan agar titik api benar-benar padam dan tidak berkembang menjadi kebakaran baru. Turunnya hujan dan berkurangnya luas lahan terbakar di sejumlah wilayah menjadi perkembangan yang perlu dijaga melalui penanganan berkelanjutan. Seluruh pihak juga diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pencegahan agar ancaman kebakaran hutan dan lahan tidak kembali meluas.

Jurnalis : Damara Rizky Elisyah

author avatar
Damara Rizky Elisyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !