Kabut Asap dan Polusi Udara Ancam Kesehatan Mata, Kenali Gejala serta Cara Melindunginya

Kabut Asap dan Polusi Udara Ancam Kesehatan Mata, Kenali Gejala serta Cara Melindunginya

JAKARTA – Kabut asap dan polusi udara selama ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan kesehatan pernapasan. Padahal, paparan udara yang tercemar juga dapat berdampak terhadap kesehatan mata. Partikel debu, zat kimia, serta berbagai polutan yang beterbangan di udara berpotensi menyebabkan iritasi hingga gangguan penglihatan apabila seseorang terpapar secara berulang atau dalam jangka waktu panjang.

Mata menjadi salah satu organ tubuh yang rentan terhadap pencemaran udara karena permukaannya berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Ketika kabut asap menyelimuti suatu wilayah, partikel pencemar dapat menempel pada permukaan mata dan memengaruhi lapisan air mata yang berfungsi menjaga kelembapan serta melindungi bagian depan mata.

Dokter spesialis mata Columbia Asia, Dr. Siva Kumar Sundralingam, menjelaskan bahwa kabut asap terbentuk akibat penumpukan berbagai partikel halus dan kasar serta senyawa pencemar di udara. Beberapa di antaranya meliputi sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon, dan senyawa organik beracun. Kondisi tersebut dapat terjadi akibat kebakaran hutan, pembakaran lahan pertanian, emisi kendaraan bermotor, hingga aktivitas industri.

Salah satu gangguan yang dapat muncul akibat paparan polusi udara adalah konjungtivitis alergi maupun kimia. Kondisi ini terjadi ketika zat pencemar mengiritasi konjungtiva, yaitu selaput bening yang melapisi bagian putih mata. Gejalanya dapat berupa mata merah, rasa gatal, sensasi terbakar, mata berair berlebihan, hingga perasaan seperti terdapat pasir di balik kelopak mata.

Selain iritasi, paparan polusi juga dapat mengganggu kestabilan lapisan air mata sehingga memicu kondisi mata kering. Partikel pencemar dapat memengaruhi lapisan minyak yang berfungsi memperlambat penguapan air mata. Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih sensitif, terasa perih, dan dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan penglihatan kabur sementara.

Partikel halus yang masuk ke area bawah kelopak mata juga perlu diwaspadai. Kebiasaan menggosok mata ketika terasa gatal atau tidak nyaman justru dapat memperburuk kondisi karena partikel tersebut berisiko menggores permukaan kornea. Apabila terjadi luka pada kornea, risiko infeksi mikroba juga dapat meningkat.

Dampak kabut asap tidak selalu berhenti pada gangguan sementara. Paparan polusi udara yang berat, berulang, atau berlangsung dalam waktu lama juga dapat berkontribusi terhadap sejumlah masalah kesehatan mata kronis. Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain penyakit mata kering kronis atau dry eye disease, keratitis toksik, serta pterigium dan pinguekula.

Pada kondisi mata kering kronis, paparan polutan dapat memicu peradangan dan memengaruhi kelenjar meibom yang menghasilkan lapisan minyak untuk menjaga kelembapan mata. Sementara itu, keratitis toksik berkaitan dengan kerusakan sel epitel kornea akibat paparan bahan kimia. Gangguan tersebut berpotensi menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan memengaruhi kejernihan penglihatan.

Gangguan lainnya adalah pterigium dan pinguekula, yaitu pertumbuhan jaringan jinak pada konjungtiva. Paparan iritan lingkungan dalam jangka panjang, terutama apabila disertai paparan sinar ultraviolet, dapat berkontribusi terhadap munculnya kondisi tersebut. Dalam keadaan tertentu, pterigium dapat berkembang hingga mencapai kornea dan mengganggu penglihatan.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan mata, masyarakat dianjurkan memantau Indeks Standar Pencemar Udara atau kualitas udara melalui Air Quality Index (AQI). Apabila tingkat polusi berada dalam kategori tidak sehat, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi. Pintu dan jendela rumah juga dapat ditutup untuk mengurangi masuknya udara tercemar, sementara penggunaan pembersih udara dengan sistem filtrasi yang sesuai dapat menjadi salah satu upaya menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Ketika harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan kacamata pelindung dapat membantu mengurangi kontak langsung mata dengan debu dan partikel pencemar. Masyarakat juga dianjurkan menghindari wilayah dengan konsentrasi asap tinggi dan berpindah ke tempat yang memiliki kualitas udara lebih baik apabila kondisi memungkinkan.

Apabila mata terasa terkena debu atau mengalami iritasi, pembilasan menggunakan air bersih yang mengalir dapat dilakukan untuk membantu membersihkan permukaan mata. Jika mata terasa kering, penggunaan tetes mata yang sesuai dapat membantu menjaga kelembapan. Namun, apabila keluhan tidak membaik, semakin berat, atau disertai gangguan penglihatan, pemeriksaan oleh tenaga medis perlu dilakukan agar penyebabnya dapat diketahui dan memperoleh penanganan yang tepat.

Kesadaran menjaga kesehatan mata menjadi semakin penting ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat tidak cukup hanya memperhatikan risiko gangguan pernapasan, tetapi juga perlu melindungi mata dari paparan polutan. Dengan membatasi aktivitas di lingkungan tercemar, menggunakan pelindung mata, serta memperhatikan gejala yang muncul, risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap dapat diminimalkan.

Jurnalis : Wafiq Qodriyatussoleha

author avatar
Wafiq Qodriyatussoleha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !