Indonesia menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan sampah. Timbunan sampah nasional pada 2025 tercatat mencapai sekitar 144.869 ton setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen disebut berasal dari rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan tempat pembuangan akhir, tetapi juga berawal dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Perekayasa Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prihartanto, menyampaikan kondisi tersebut dalam sebuah diskusi di Jakarta. Ia menilai besarnya volume sampah membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih efektif, mulai dari pemilahan hingga pengolahan sebelum sampah berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih rendahnya kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik, plastik, kertas, dan jenis sampah lainnya kerap tercampur sehingga proses pengolahan menjadi lebih sulit dan membutuhkan biaya tambahan.
Prihartanto menjelaskan bahwa sampah organik sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengomposan. Pengolahan dengan metode kompos aerobik membutuhkan pasokan oksigen yang cukup agar proses berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan persoalan bau.
Selain dijadikan kompos, sampah makanan juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Hasil pengolahan tersebut kemudian dapat digunakan sebagai pupuk maupun pakan ternak. Pemanfaatan ini menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah sampah organik yang masuk ke TPA.
Sementara itu, sejumlah sampah nonplastik yang mudah terbakar juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri. Salah satu penggunaannya adalah sebagai bahan bakar alternatif dalam industri semen. Dengan pengolahan yang tepat, sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban dapat memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Besarnya volume sampah juga terlihat dari kondisi sejumlah tempat pembuangan akhir. Dalam diskusi tersebut, Prihartanto menggambarkan timbunan sampah di Bantar Gebang yang volumenya sangat besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap sistem pembuangan akhir tanpa pengurangan sampah dari sumbernya dapat menjadi persoalan dalam jangka panjang.
Menurutnya, aspek ekonomi dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif mengelola sampah. Jika terdapat manfaat ekonomi dari pemilahan dan pengolahan sampah, masyarakat dinilai memiliki dorongan lebih kuat untuk berpartisipasi dalam sistem pengelolaan sampah.
Community Development Expert sekaligus Founder Survival Arsitektur Indonesia, Taufik Supriadi, juga mendorong masyarakat untuk tidak langsung membawa seluruh sampah ke TPA. Sampah yang sudah tercampur masih dapat dipilah kembali, meskipun proses tersebut membutuhkan biaya dan tenaga.
Karena itu, pemilahan dari rumah dinilai menjadi salah satu langkah paling sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Dengan memisahkan sampah sesuai jenisnya, proses pengolahan berikutnya akan menjadi lebih mudah dan jumlah sampah yang akhirnya dibuang ke TPA dapat ditekan.
Taufik mencontohkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di RT 08/RW 04 Malaka Jaya. Dari sekitar 40 rumah, terdapat 22 pengurus RT yang terlibat, sementara lima orang bertugas mendampingi dan mendorong warga agar ikut berpartisipasi dalam pengelolaan sampah.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa penanganan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil. Peran pemerintah memang penting dalam menyediakan fasilitas dan sistem pengelolaan, tetapi masyarakat juga memiliki peran besar dalam mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Persoalan sampah pada akhirnya membutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya. Pengurangan sampah, pemilahan, penggunaan kembali, serta pengolahan menjadi produk yang bermanfaat dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing lingkungan.
Dengan timbulan yang mencapai 144.869 ton per hari, Indonesia membutuhkan langkah nyata dan berkelanjutan untuk menghadapi persoalan sampah. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah dapat menjadi bagian penting dari upaya mengurangi beban TPA sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !