Kebiasaan saling mengomentari, mencibir, atau memberikan penilaian terhadap orang lain telah menjadi bagian yang cukup sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, kebiasaan tersebut bahkan semakin mudah dilakukan. Satu komentar dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi pandangan banyak orang, meskipun belum tentu didasarkan pada informasi yang benar.
Tradisi nyinyir sering kali muncul ketika seseorang merasa lebih berhak menilai kehidupan, pilihan, maupun keberhasilan orang lain. Kritik yang seharusnya menjadi sarana untuk memperbaiki keadaan justru dapat berubah menjadi komentar yang menjatuhkan. Kondisi seperti ini tentu tidak sehat apabila terus dibiarkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Perbedaan pendapat sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokratis. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pandangan, memberikan kritik, dan mempertanyakan kebijakan maupun tindakan yang dianggap tidak tepat. Namun, kritik akan jauh lebih bermanfaat apabila disampaikan berdasarkan fakta, menggunakan bahasa yang pantas, serta memiliki tujuan untuk mencari solusi.
Merdeka dari tradisi nyinyir bukan berarti masyarakat harus berhenti memberikan kritik. Sebaliknya, yang perlu ditinggalkan adalah kebiasaan mengomentari sesuatu hanya untuk merendahkan atau mempermalukan pihak lain. Kebebasan berpendapat seharusnya berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama.
Di era digital, kemampuan menyaring informasi juga menjadi semakin penting. Sebelum memberikan komentar, seseorang perlu memastikan apakah informasi yang diterima benar atau hanya sekadar kabar yang belum terverifikasi. Sikap terburu-buru dalam menanggapi suatu persoalan dapat membuat kesalahpahaman semakin besar dan memperpanjang perdebatan yang sebenarnya tidak perlu.
Budaya komunikasi yang sehat dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu belajar mendengarkan sebelum menilai. Tidak semua persoalan harus direspons dengan komentar, dan tidak semua perbedaan harus berujung pada pertengkaran. Memberikan ruang bagi orang lain untuk menjelaskan sudut pandangnya dapat membantu menciptakan percakapan yang lebih dewasa.
Masyarakat juga perlu membedakan antara kritik dan penghinaan. Kritik berangkat dari persoalan yang ingin diperbaiki, sedangkan komentar yang sekadar bertujuan merendahkan tidak memberikan solusi. Dengan membangun kebiasaan berdiskusi secara sehat, ruang publik dapat menjadi tempat pertukaran gagasan yang produktif, bukan sekadar arena untuk saling menjatuhkan.
Pada akhirnya, kemerdekaan dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya berarti bebas berbicara, tetapi juga memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana cara berbicara. Mengurangi kebiasaan nyinyir dan menggantinya dengan kritik yang berimbang merupakan langkah kecil untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih nyaman, dewasa, dan saling menghargai.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
“`
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !