A
JAKARTA – Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran. Untuk mengurangi risiko tersebut, dokter spesialis paru membagikan sejumlah langkah perlindungan, mulai dari membatasi aktivitas di luar rumah, menjaga kualitas udara di dalam ruangan, hingga mengenali gejala gangguan kesehatan sejak dini.
Spesialis paru Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa pencegahan dampak kesehatan akibat asap karhutla dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Ketiganya memiliki tujuan berbeda, mulai dari mengurangi paparan polutan, mendeteksi gangguan kesehatan sejak awal, hingga mencegah kondisi orang yang sudah sakit menjadi semakin parah.
Menurut Agus, langkah pertama yang perlu dilakukan masyarakat adalah mengurangi paparan asap sebanyak mungkin. Ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau berbahaya, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi. Masyarakat dianjurkan tetap berada di dalam rumah atau bangunan dengan kualitas udara yang terjaga, terutama ketika asap terlihat pekat dan kondisi lingkungan berpotensi membahayakan kesehatan.
Upaya perlindungan di dalam rumah perlu dilakukan dengan mengurangi masuknya udara luar yang tercemar. Salah satu caranya adalah menutup pintu dan jendela ketika asap menyelimuti lingkungan. Langkah ini dapat membantu membatasi masuknya partikel polutan ke dalam ruangan. Namun, penghuni rumah juga perlu memperhatikan sumber pencemaran dari dalam ruangan agar udara yang dihirup tetap lebih bersih.
Jika tersedia, masyarakat dapat menggunakan alat pembersih udara atau air purifier untuk membantu mengurangi partikel pencemar di dalam rumah. Penggunaan perangkat tersebut perlu disesuaikan dengan luas ruangan dan kemampuan penyaringnya. Perawatan filter juga harus dilakukan sesuai petunjuk produsen agar alat dapat bekerja dengan baik. Meski demikian, alat pembersih udara bukan pengganti upaya mengurangi paparan asap dari sumbernya.
Agus juga menyarankan penggunaan pendingin ruangan atau AC dengan pengaturan sirkulasi ulang atau recirculate. Mode tersebut membantu mengedarkan kembali udara di dalam kabin atau ruangan sehingga mengurangi masuknya udara luar yang tercemar. Pengaturan ini dapat diterapkan ketika masyarakat berada di rumah maupun saat melakukan perjalanan menggunakan mobil.
Selain menjaga kondisi ruangan, masyarakat perlu menghindari aktivitas yang justru menambah polusi di dalam rumah. Kebiasaan merokok, membakar lilin, dan menggunakan obat nyamuk bakar sebaiknya dihindari ketika kualitas udara di luar sedang buruk. Asap dari aktivitas tersebut dapat menambah beban polutan yang terhirup penghuni rumah, terutama anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan.
Bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, pemilihan masker menjadi salah satu langkah perlindungan penting. Agus menyarankan penggunaan masker respirator yang mampu menyaring lebih dari 90 persen partikel halus PM2,5, dengan contoh jenis N95, KN94, atau FFP2 yang memenuhi standar filtrasi terkait. Masker perlu terpasang rapat menutupi hidung dan mulut agar udara yang masuk tidak banyak melewati celah di sekitar wajah.
Partikel PM2,5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel tersebut dapat memicu iritasi dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru kronis. Meski masker respirator dapat membantu mengurangi paparan partikel, perlindungannya tetap terbatas dan tidak menggantikan kebutuhan untuk menghindari udara yang tercemar.
Perlindungan terhadap masyarakat terdampak juga membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah. Agus menilai pemerintah perlu menyediakan tempat perlindungan atau rumah sehat dengan kualitas udara yang terjaga, terutama bagi kelompok rentan dan warga yang rumahnya belum memiliki sarana memadai untuk mengurangi paparan asap. Fasilitas tersebut dapat dilengkapi tenaga kesehatan, obat-obatan, dan oksigen sesuai kebutuhan medis.
Kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian meliputi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki penyakit sebelumnya, terutama gangguan jantung dan paru-paru. Kelompok tersebut perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Apabila muncul keluhan setelah terpapar asap, mereka sebaiknya segera mencari pertolongan medis agar kondisi dapat diperiksa dan ditangani sejak awal.
Langkah pencegahan berikutnya adalah pencegahan sekunder, yakni mengenali gejala gangguan kesehatan sedini mungkin. Paparan asap dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, dan gangguan pernapasan lainnya. Masyarakat yang mengalami keluhan setelah berada di lingkungan berasap dianjurkan mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit.
Agus juga menyoroti pentingnya pemeriksaan berkala bagi masyarakat yang terpapar asap karhutla. Pemeriksaan dapat mencakup penilaian terhadap keluhan yang dialami, kondisi paru-paru, dan fungsi pernapasan sesuai kebutuhan. Pemerintah daerah diharapkan aktif menjangkau warga terdampak agar gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal dan orang yang membutuhkan perawatan segera memperoleh penanganan.
Apabila seseorang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau kondisi yang memburuk dengan cepat, pertolongan medis perlu segera dicari. Gejala tersebut tidak boleh dianggap sebagai keluhan ringan yang pasti akan hilang dengan sendirinya. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Pendekatan ketiga adalah pencegahan tersier, yaitu mencegah penyakit yang sudah dialami seseorang berkembang menjadi lebih berat, menimbulkan komplikasi, atau berujung pada kondisi yang mengancam jiwa. Dalam hal ini, orang yang memiliki penyakit kronis dan mengonsumsi obat secara rutin perlu memastikan persediaan obat tetap mencukupi. Penggunaan obat harus mengikuti petunjuk dokter dan tidak diubah secara mandiri hanya karena kondisi udara sedang memburuk.
Agus menegaskan bahwa pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau juga sangat diperlukan selama terjadi karhutla. Pemerintah daerah perlu memastikan masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan dan pengobatan melalui puskesmas maupun rumah sakit. Apabila kondisi pasien tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, sistem rujukan harus berjalan dengan baik agar pasien memperoleh perawatan yang sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya.
Upaya melindungi kesehatan masyarakat pada akhirnya tidak hanya bergantung pada penggunaan masker atau alat pembersih udara. Pencegahan kebakaran, pemadaman titik api, pemantauan kualitas udara, penyediaan fasilitas perlindungan, serta akses pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dari penanganan dampak karhutla. Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara terpadu agar masyarakat tidak terus-menerus terpapar asap.
Dengan menerapkan langkah perlindungan secara tepat, risiko gangguan kesehatan akibat asap karhutla dapat dikurangi. Masyarakat disarankan memantau informasi kualitas udara, membatasi aktivitas luar ruangan saat kondisi memburuk, menjaga udara di dalam rumah, dan menggunakan respirator yang sesuai jika harus keluar. Apabila muncul keluhan kesehatan, pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !