A Benarkah Bulan Kian Menyusut? Penelitian Astronom Ungkap Perubahan Ukuran Satelit Bumi - FAKTA HARI INI

Benarkah Bulan Kian Menyusut? Penelitian Astronom Ungkap Perubahan Ukuran Satelit Bumi

Benarkah Bulan Kian Menyusut? Penelitian Astronom Ungkap Perubahan Ukuran Satelit Bumi

JAKARTA – Bulan yang selama ini dikenal sebagai satelit alami Bumi ternyata mengalami perubahan ukuran secara perlahan. Para ilmuwan mengungkap bahwa Bulan terus menyusut akibat proses pendinginan bagian dalamnya yang berlangsung sejak miliaran tahun lalu. Fenomena ini bukan sekadar dugaan, melainkan didukung oleh bukti berupa retakan, patahan, dan perubahan bentuk permukaan yang ditemukan melalui pengamatan wahana antariksa.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal The Planetary Science Journal pada Oktober 2026 memberikan gambaran lebih terperinci mengenai besarnya penyusutan tersebut. Dengan menganalisis lebih dari 10.000 patahan muda yang tersebar di permukaan Bulan, para peneliti memperkirakan bahwa jari-jari Bulan telah berkurang sekitar 45 meter selama 400 juta hingga 800 juta tahun terakhir.

Temuan tersebut memperkuat pemahaman ilmiah bahwa Bulan bukanlah benda langit yang sepenuhnya berhenti mengalami perubahan geologis. Meskipun tidak memiliki aktivitas tektonik seperti Bumi yang terdiri atas sejumlah lempeng bergerak, bagian dalam Bulan masih menyimpan panas sisa pembentukannya. Ketika panas tersebut berangsur-angsur hilang, struktur internal Bulan mengalami pendinginan dan penyusutan yang memengaruhi lapisan permukaannya.

Bulan diperkirakan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu melalui peristiwa tumbukan besar yang melibatkan Bumi muda dan sebuah benda langit berukuran besar. Energi dari peristiwa tersebut membuat material penyusun Bulan berada dalam kondisi sangat panas. Seiring berjalannya waktu, Bulan kehilangan panas dan mengalami perubahan struktur secara bertahap. Proses pendinginan inilah yang menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya ukuran satelit alami Bumi tersebut.

Ketika bagian dalam Bulan mendingin, material penyusunnya mengalami kontraksi atau penyusutan. Akibatnya, kerak di bagian luar mendapatkan tekanan karena harus menyesuaikan diri dengan volume bagian dalam yang semakin kecil. Kerak Bulan yang relatif rapuh tidak selalu mampu menahan tekanan tersebut tanpa mengalami kerusakan. Kondisi ini kemudian memicu terbentuknya patahan dan lipatan pada permukaan.

Salah satu bentuk geologis yang menjadi perhatian para ilmuwan adalah lobate scarp, yakni tebing atau undakan kecil yang terbentuk ketika kerak Bulan terdorong dan bergeser akibat tekanan kompresi. Struktur ini dapat terlihat seperti tangga atau tonjolan memanjang di permukaan. Keberadaannya menjadi petunjuk penting untuk memahami bagaimana proses penyusutan internal memengaruhi bentuk permukaan Bulan.

Dalam penelitian terbaru tersebut, tim ilmuwan memanfaatkan citra dari Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC), kamera yang berada pada wahana Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA. Pengamatan beresolusi tinggi memungkinkan para peneliti mengidentifikasi ribuan patahan dan mempelajari distribusinya di berbagai wilayah Bulan. Data tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan perubahan ukuran yang terjadi selama periode geologis yang panjang.

Penelitian itu dipimpin Thomas R. Watters, ilmuwan emeritus di Center for Earth and Planetary Studies, National Air and Space Museum, Smithsonian Institution, bersama sejumlah peneliti lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari 10.000 patahan muda dapat digunakan untuk membantu memperkirakan tingkat kontraksi Bulan. Angka penyusutan sekitar 45 meter mengacu pada perubahan jari-jari selama ratusan juta tahun, bukan penyusutan yang terjadi secara mendadak dalam waktu singkat.

Selain pendinginan bagian dalam, gaya gravitasi Bumi juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap struktur Bulan. Tarikan gravitasi tersebut menimbulkan gaya pasang surut yang memengaruhi kondisi internal satelit alami kita. Ketika tekanan dari berbagai proses geologis terakumulasi, sebagian patahan dapat mengalami pergerakan dan memicu gempa Bulan atau moonquake.

NASA sebelumnya telah menjelaskan bahwa aktivitas gempa Bulan dapat berkaitan dengan proses penyusutan tersebut. Analisis terhadap data seismik yang dikumpulkan oleh instrumen misi Apollo menunjukkan adanya gempa dangkal yang berpotensi berhubungan dengan pergerakan patahan. Sejumlah gempa Bulan dapat berlangsung lebih lama dibandingkan gempa bumi karena karakteristik struktur dan kondisi material di bagian dalam satelit tersebut berbeda dari Bumi.

Gempa Bulan menjadi perhatian khusus karena dapat memengaruhi keselamatan misi eksplorasi manusia pada masa mendatang. Wilayah kutub selatan Bulan, misalnya, menjadi salah satu kawasan yang menarik bagi program eksplorasi karena potensi keberadaan es air dan nilai strategisnya untuk misi jangka panjang. Namun, keberadaan patahan aktif dan kemungkinan terjadinya guncangan perlu diperhitungkan sebelum lokasi pendaratan atau pembangunan fasilitas dipilih.

Perencanaan misi antariksa tidak cukup hanya mempertimbangkan ketersediaan sumber daya dan kondisi pencahayaan. Stabilitas permukaan, karakteristik batuan, kemiringan medan, serta risiko guncangan juga menjadi faktor penting. Informasi mengenai patahan yang tersebar di permukaan Bulan dapat membantu ilmuwan menyusun peta risiko dan menentukan wilayah yang lebih sesuai untuk pendaratan astronaut maupun penempatan peralatan penelitian.

Meski demikian, penyusutan Bulan tidak berarti satelit alami Bumi tersebut akan tiba-tiba mengecil atau kehilangan bentuknya. Perubahan ini berlangsung sangat lambat dalam skala waktu geologis, sehingga tidak dapat diamati secara kasatmata oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Besarnya perubahan yang terukur merupakan hasil pengamatan ilmiah terhadap struktur permukaan dan pemodelan kondisi geologis selama periode yang sangat panjang.

Penelitian mengenai penyusutan Bulan juga membantu ilmuwan memahami evolusi benda-benda langit berbatu. Dengan mempelajari hubungan antara pendinginan internal, pembentukan patahan, dan aktivitas seismik, para peneliti dapat memperoleh gambaran lebih baik tentang bagaimana sebuah benda langit berubah setelah terbentuk. Informasi tersebut sekaligus memberikan dasar ilmiah untuk menilai kondisi geologis Bulan saat ini.

Dengan demikian, anggapan bahwa Bulan semakin menyusut memang memiliki dasar ilmiah. Bukti berupa ribuan patahan, struktur permukaan yang terbentuk akibat tekanan, serta catatan aktivitas gempa menunjukkan bahwa proses geologis di Bulan masih berlangsung. Meski perubahan ukurannya sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran keseluruhan Bulan, fenomena tersebut tetap penting untuk dipahami, terutama seiring meningkatnya rencana eksplorasi manusia ke permukaan satelit alami Bumi itu.

Jurnalis : Wulandari

author avatar
Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !