Catatan Ilmiah Galodo Solok: Hujan Ekstrem di Musim Kemarau hingga Ancaman Banjir Bandang

Catatan Ilmiah Galodo Solok: Hujan Ekstrem di Musim Kemarau hingga Ancaman Banjir Bandang

Banjir bandang atau galodo menerjang Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin malam, 21 September 2026. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung setelah kawasan Solok diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Bencana itu menyebabkan korban jiwa dan membuat pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan di wilayah terdampak.

Pemerintah Kabupaten Solok menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari sejak Selasa, 22 September 2026. Keputusan tersebut diambil melalui rapat koordinasi yang melibatkan Bupati Solok Jon Firman Pandu, jajaran pemerintah daerah, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Penetapan status tersebut ditujukan untuk mempercepat proses penanganan, evakuasi, pencarian korban, serta penyaluran bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Di balik peristiwa tersebut, terdapat fenomena cuaca yang menarik perhatian karena hujan ekstrem terjadi ketika wilayah Indonesia sedang berada dalam periode yang secara statistik lebih kering. Curah hujan sekitar 94 milimeter per hari disebut menjadi pemicu meteorologis dalam kejadian tersebut. Namun, ahli kebencanaan mengingatkan bahwa hujan ekstrem tidak dapat langsung dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menyebabkan aliran air berubah menjadi galodo.

Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menjelaskan bahwa terbentuknya galodo merupakan hasil dari rangkaian proses yang saling berkaitan. Selain intensitas hujan, kondisi daerah aliran sungai (DAS), kemiringan lereng, kejenuhan tanah, kemungkinan terjadinya longsoran, sedimentasi, material lepas di sepanjang alur sungai, serta kondisi tutupan lahan perlu dianalisis secara menyeluruh.

Hujan dengan akumulasi sekitar 94 milimeter dalam satu hari dapat meningkatkan suplai air ke daerah aliran sungai secara cepat. Ketika hujan berlangsung selama beberapa jam, air yang masuk ke dalam tanah dan limpasan di permukaan meningkat. Apabila kemampuan tanah dalam menyerap air telah terlampaui, sebagian besar air kemudian bergerak menuju alur sungai dan menyebabkan debit meningkat dalam waktu relatif singkat.

Kondisi geografis kawasan hulu Solok turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Wilayah perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lereng yang relatif curam dapat mempercepat pergerakan air di permukaan. Energi gravitasi yang besar membuat aliran air memiliki kemampuan mengikis tanah dan membawa material seperti batu, kayu, maupun sedimen menuju bagian sungai yang lebih rendah.

Hujan yang berlangsung terus-menerus juga dapat membuat pori-pori tanah semakin dipenuhi air hingga mendekati kondisi jenuh. Dalam keadaan tersebut, tekanan air di dalam pori tanah meningkat dan kekuatan tanah dapat menurun. Kondisi ini membuat lereng menjadi lebih rentan mengalami longsor, terutama apabila terdapat faktor lain yang memperlemah kestabilan lereng.

Material hasil longsoran seperti tanah, batu, pohon, dan material lainnya kemudian dapat masuk ke dalam alur sungai. Kondisi inilah yang membuat galodo memiliki karakter berbeda dibandingkan banjir yang hanya membawa air. Ketika air bercampur dengan material padat dalam jumlah besar, aliran dapat menjadi lebih deras dan memiliki daya rusak yang lebih besar terhadap lingkungan maupun wilayah yang berada di jalur alirannya.

Endapan pasir, kerikil, bongkahan batu, kayu, maupun material longsoran yang sebelumnya berada di dasar dan tebing sungai juga dapat kembali terbawa ketika debit air meningkat secara tiba-tiba. Material tersebut kemudian menambah volume sekaligus energi aliran, sehingga karakter banjir dapat berkembang menjadi aliran yang membawa lumpur, batu, dan kayu dalam jumlah besar.

Kondisi vegetasi dan tutupan lahan juga menjadi bagian yang perlu dikaji. Vegetasi memiliki peran dalam menahan sebagian air hujan, membantu proses infiltrasi, serta mengurangi erosi. Berkurangnya vegetasi atau terganggunya kondisi permukaan tanah berpotensi meningkatkan limpasan dan erosi. Meski demikian, kontribusi perubahan tutupan lahan dalam peristiwa Solok masih harus dibuktikan melalui data penggunaan lahan dan survei langsung di daerah aliran sungai.

Air yang berasal dari berbagai lereng dan anak sungai pada akhirnya berkumpul di lembah serta alur sungai utama. Pada daerah dengan topografi curam, waktu yang dibutuhkan air untuk terkonsentrasi menjadi lebih singkat. Apabila kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan adanya material longsoran dan sedimen, terbentuk aliran deras yang membawa campuran air, lumpur, batu, dan kayu yang dikenal sebagai galodo.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa istilah musim kemarau atau kondisi di bawah normal secara statistik tidak berarti suatu wilayah terbebas dari hujan ekstrem harian. Dalam satu bulan suatu daerah dapat mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya, tetapi pada hari tertentu tetap dapat terjadi hujan dengan intensitas sangat tinggi. Perbedaan antara kondisi rata-rata bulanan dan kejadian cuaca ekstrem harian menjadi salah satu hal penting dalam memahami bencana hidrometeorologi.

Dengan demikian, rangkaian terbentuknya galodo dapat dipahami melalui hubungan antara hujan ekstrem, karakteristik lereng, kondisi daerah aliran sungai, serta ketersediaan material yang dapat terbawa oleh aliran. Hujan berperan sebagai pemicu, sementara kondisi lingkungan dan karakteristik wilayah turut menentukan seberapa besar aliran berkembang dan seberapa banyak material yang ikut terbawa.

Daryono menegaskan bahwa untuk mengetahui kontribusi setiap faktor dalam peristiwa Galodo Solok secara lebih akurat, diperlukan verifikasi melalui survei daerah aliran sungai dan data lapangan. Dengan penelitian yang lebih mendalam, penyebab serta mekanisme bencana dapat dipahami secara lebih komprehensif dan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat upaya mitigasi bencana di masa mendatang.

Peristiwa di Solok menjadi pengingat bahwa risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh tingginya curah hujan. Kondisi topografi, tanah, sungai, vegetasi, serta keberadaan material di wilayah hulu dapat saling berinteraksi dan memengaruhi karakter bencana. Karena itu, pemantauan cuaca dan kondisi daerah aliran sungai perlu berjalan beriringan dengan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Jurnalis : Ghazy fikri izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !