Jakarta – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Jabodetabek pada akhir pekan lalu disebut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkaitan dengan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut dilakukan ketika terdapat potensi pertumbuhan awan hujan yang dapat dioptimalkan.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan bahwa hujan di wilayah Jabodetabek pada 18 hingga 19 September 2026 sebelumnya memang telah diprediksi. Meskipun sebagian besar wilayah masih berada dalam periode kemarau, dinamika atmosfer masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.
Menurut BMKG, OMC dalam kondisi tersebut bukan bertujuan menciptakan hujan dari kondisi atmosfer yang sama sekali tidak memiliki potensi. Operasi dilakukan dengan memanfaatkan keberadaan awan yang telah tumbuh secara alami sehingga potensi hujan yang tersedia dapat diperkuat.
Andri mengatakan adanya peluang pertumbuhan awan hujan yang cukup baik menjadi salah satu pertimbangan dilakukannya OMC. Melalui operasi tersebut, intensitas hujan yang turun di sejumlah wilayah dapat meningkat dan cakupan hujannya menjadi lebih luas.
Dengan demikian, hujan yang terjadi pada akhir pekan tersebut merupakan kombinasi antara kondisi atmosfer alami dan intervensi melalui operasi modifikasi cuaca. BMKG menegaskan bahwa OMC tidak bekerja dengan cara menghasilkan awan hujan dari kondisi tanpa potensi.
Pelaksanaan OMC juga memiliki tujuan tertentu di tengah kondisi kemarau. Salah satunya adalah membantu menambah daya tampung atau ketersediaan air. Hujan yang turun juga dapat membantu membilas sebagian partikel polusi di udara sehingga kondisi lingkungan dapat menjadi lebih baik.
BMKG turut menjelaskan mengenai keamanan hujan yang terjadi dalam pelaksanaan OMC. Menurut lembaga tersebut, bahan yang digunakan dalam proses penyemaian merupakan bahan dengan kategori food grade. Karena itu, BMKG menyatakan hujan yang dihasilkan melalui operasi tersebut tidak membahayakan kesehatan maupun lingkungan.
Operasi modifikasi cuaca tidak dilakukan secara sembarangan atau terus-menerus tanpa melihat kondisi atmosfer. Pelaksanaannya bersifat situasional dan bergantung pada hasil pemantauan terhadap perkembangan awan serta kondisi cuaca di lapangan.
Jika hasil pemantauan menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang memiliki potensi untuk dikembangkan, penyemaian dapat dilakukan. Sebaliknya, pelaksanaan operasi akan disesuaikan apabila kondisi atmosfer tidak memenuhi kebutuhan untuk kegiatan tersebut.
Hujan di Jabodetabek pada akhir pekan lalu juga terjadi ketika sejumlah wilayah masih menghadapi periode kemarau. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika atmosfer tetap dapat memunculkan hujan lokal meskipun secara umum suatu wilayah berada dalam musim yang relatif kering.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi dan perkembangan cuaca resmi, terutama ketika terdapat potensi hujan lebat maupun perubahan kondisi atmosfer. Informasi cuaca diperlukan untuk membantu masyarakat maupun pemerintah melakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan dampak yang ditimbulkan oleh perubahan cuaca.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !