BMKG Deteksi Sirkulasi Siklonik Baru di Laut Andaman, Aceh Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

BMKG Deteksi Sirkulasi Siklonik Baru di Laut Andaman, Aceh Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi potensi terbentuknya sirkulasi siklonik baru di sekitar Laut Andaman pada Selasa, 27 Oktober 2026. Kemunculan sistem atmosfer tersebut menjadi perhatian setelah Siklon Tropis ARNAB bergerak menjauhi wilayah Indonesia menuju Teluk Benggala. Meski demikian, berdasarkan pemodelan cuaca BMKG, peluang penguatan sirkulasi siklonik baru itu masih tergolong rendah dalam 24 jam ke depan.

Informasi tersebut menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat di wilayah Sumatera bagian utara yang berpotensi mengalami peningkatan curah hujan. Sirkulasi siklonik dapat mendukung terbentuknya daerah konvergensi, yaitu zona pertemuan aliran udara yang memungkinkan udara naik dan mendorong pertumbuhan awan konvektif. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah.

BMKG sebelumnya mendeteksi sistem siklonik berkode 98B di kawasan Laut Andaman sejak 19 Oktober 2026. Pada awal pemantauan, sistem tersebut memiliki sirkulasi yang relatif lemah. Seiring perkembangan kondisi atmosfer, sistem itu kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis ARNAB di Teluk Benggala dan bergerak ke arah yang semakin menjauhi Indonesia.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa sirkulasi siklonik baru di sekitar Laut Andaman berpotensi berkembang dalam beberapa hari mendatang. Namun, arah pergerakannya diperkirakan menuju barat-barat laut sehingga posisinya semakin jauh dari wilayah Indonesia.

Menurut Andri, dalam dua hingga tiga hari ke depan, perkembangan sistem tersebut tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pembentukan daerah konvergensi di sekitarnya. Dampak yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya peluang hujan di sebagian wilayah Aceh serta potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah kawasan Sumatera bagian utara.

Potensi hujan tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer di sekitar sistem siklonik. Ketika aliran udara bertemu di suatu wilayah, kondisi itu dapat mendorong pertumbuhan awan hujan. Meski demikian, intensitas dan persebaran hujan yang benar-benar terjadi tetap bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer serta hasil pemantauan cuaca terkini.

BMKG menegaskan bahwa perkembangan sirkulasi siklonik di Laut Andaman akan terus dipantau dalam satu hingga dua hari ke depan. Analisis dilakukan dengan menggabungkan data pengamatan, dinamika atmosfer, serta citra satelit untuk menilai perubahan kekuatan sistem, arah pergerakan, dan kemungkinan dampaknya terhadap wilayah Indonesia.

Selain memantau sirkulasi siklonik baru, BMKG juga memperhatikan pergerakan Siklon Tropis ARNAB. Dalam prakiraan 24 jam sejak informasi tersebut disampaikan pada 27 Oktober 2026, ARNAB diperkirakan bergerak ke arah barat laut menuju posisi sekitar 16,2 derajat Lintang Utara dan 82,8 derajat Bujur Timur. Intensitasnya berpotensi meningkat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 70 knot.

Namun, perkembangan tersebut diperkirakan tidak berlangsung terus-menerus. Dalam 48 jam berikutnya, Siklon Tropis ARNAB diprakirakan melemah ketika memasuki daratan India, sekitar 18,5 derajat Lintang Utara dan 81,5 derajat Bujur Timur. Selanjutnya, dalam 72 jam, sistem tersebut diperkirakan semakin melemah hingga menjadi kategori Tropical Low di sekitar 22,0 derajat Lintang Utara dan 81,49 derajat Bujur Timur.

Pergerakan ARNAB yang menjauhi Indonesia membuat siklon tersebut diperkirakan tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca dan perairan Indonesia, termasuk kawasan Sumatera bagian utara. Meski begitu, potensi hujan yang berkaitan dengan sirkulasi siklonik baru di Laut Andaman tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan secara terpisah.

Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah Aceh dan Sumatera bagian utara, diimbau untuk mengikuti perkembangan informasi cuaca dari sumber resmi. Warga juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi, terutama apabila tinggal di kawasan rawan banjir, genangan, atau longsor. Langkah kewaspadaan tersebut penting dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan, mengingat prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer.

BMKG menyatakan akan menyampaikan pembaruan apabila ditemukan perkembangan signifikan yang berpotensi memengaruhi Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat disarankan memantau informasi melalui kanal resmi BMKG agar memperoleh informasi terkini mengenai potensi hujan, perubahan kondisi cuaca, dan perkembangan sistem siklonik di sekitar kawasan regional.

Jurnalis : Wafiq Qodriyatussoleha

author avatar
Wafiq Qodriyatussoleha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !