Harga Minyak Dunia Turun pada Perdagangan Terbaru, Harapan Diplomasi AS-Iran Jadi Pemicu

Harga Minyak Dunia Turun pada Perdagangan Terbaru, Harapan Diplomasi AS-Iran Jadi Pemicu

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. Pelemahan harga terjadi di tengah munculnya harapan pelaku pasar terhadap kemungkinan kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun, situasi pasar energi global masih dibayangi meningkatnya serangan terhadap kapal tanker serta infrastruktur minyak di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu kelancaran pasokan.

Pergerakan harga minyak tersebut menunjukkan bahwa pasar masih merespons secara hati-hati perkembangan geopolitik. Di satu sisi, peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi memberikan harapan berkurangnya risiko konflik. Di sisi lain, ancaman terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi membuat pelaku pasar tetap memperhitungkan kemungkinan terjadinya gangguan distribusi minyak mentah dalam waktu mendatang.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman November tercatat turun 1,8 persen menjadi US$101,79 per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah harga sempat menyentuh level tertinggi perdagangan di US$110,48 per barel. Kontrak WTI November itu juga berakhir pada Selasa, sehingga pergantian kontrak turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca pergerakan harga minyak.

Sementara itu, kontrak minyak WTI untuk pengiriman Desember melemah sebesar US$0,26 menjadi US$98,28 per barel. Perbedaan harga antara kontrak November dan Desember menunjukkan pentingnya memperhatikan periode pengiriman ketika membandingkan harga minyak berjangka. Harga pada setiap kontrak dapat bergerak berbeda sesuai dengan perkiraan pasar mengenai kondisi pasokan, permintaan, dan risiko yang memengaruhi perdagangan energi.

Tekanan penurunan juga terlihat pada minyak mentah Brent, yang menjadi salah satu acuan utama harga minyak dunia. Kontrak Brent untuk pengiriman Desember turun 0,7 persen menjadi US$108,79 per barel. Harga tersebut berada cukup jauh di bawah posisi tertinggi perdagangan yang sempat mencapai US$111,99 per barel. Meski mengalami koreksi, harga minyak Brent masih bertahan di atas US$100 per barel.

Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga adalah harapan terhadap perkembangan hubungan antara Washington dan Teheran. Pelaku pasar mencermati kemungkinan adanya kemajuan diplomasi yang dapat mengurangi ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Apabila ketegangan mereda, risiko gangguan terhadap produksi maupun pengiriman minyak berpotensi berkurang, sehingga tekanan kenaikan harga akibat kekhawatiran pasokan dapat melemah.

Meski demikian, harapan diplomasi tersebut belum menghilangkan risiko yang membayangi pasar energi. Serangan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan catatan pelacak kapal Kpler, sedikitnya 18 kapal menjadi sasaran serangan selama dua pekan terakhir. Perkembangan ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran yang penting bagi perdagangan minyak internasional.

Selat Hormuz memiliki peran strategis karena menjadi jalur pengiriman minyak dari sejumlah negara produsen di kawasan Teluk menuju pasar global. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di wilayah tersebut dapat memperlambat distribusi, meningkatkan biaya pengangkutan, dan mendorong perusahaan maupun negara pengimpor mencari alternatif pasokan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga minyak, terutama ketika pasar sedang menghadapi ketidakpastian geopolitik.

Ketegangan semakin menjadi perhatian setelah Korps Garda Revolusi Iran pada Selasa menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak yang disebut tidak mematuhi ketentuan mereka terbakar setelah menabrak ranjau yang dipasang unit angkatan laut Iran di selat tersebut. Informasi itu dilaporkan oleh kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara Iran. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari perkembangan situasi keamanan yang terus dicermati oleh pelaku pasar energi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, juga memperingatkan bahwa Iran akan membalas setiap serangan Amerika Serikat dengan kekuatan yang setara atau lebih besar. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa risiko eskalasi konflik masih menjadi perhatian. Bagi pasar minyak, pernyataan dan tindakan yang berkaitan dengan konflik dapat memengaruhi perkiraan investor terhadap keamanan fasilitas produksi, jalur distribusi, serta ketersediaan minyak mentah di pasar internasional.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal Oktober menyatakan bahwa pasukan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026. Perkembangan kebijakan dan pernyataan dari kedua negara tersebut menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam menilai arah konflik. Meski demikian, pernyataan politik tidak dengan sendirinya memastikan bahwa risiko gangguan pasokan akan segera berakhir.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai penguatan harga WTI pada kontrak terdekat menjelang berakhirnya masa kontrak mencerminkan ketatnya pasokan minyak mentah global. Menurutnya, penurunan volume ekspor dari Timur Tengah seiring meningkatnya serangan terhadap kapal tanker serta serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi menjadi faktor yang memengaruhi kondisi pasar.

Varga juga menyoroti keputusan Amerika Serikat yang mengecualikan armada bayangan Rusia dari sanksi. Kebijakan tersebut dinilai dapat menekan tarif pengiriman, sehingga berpotensi mengurangi dorongan kenaikan permintaan terhadap minyak mentah yang bersumber dari Amerika Serikat. Perubahan kebijakan terkait pengangkutan dan perdagangan minyak dapat memengaruhi biaya distribusi serta pilihan sumber pasokan yang tersedia bagi pembeli internasional.

Pergerakan harga minyak dunia memiliki arti penting bagi perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia. Minyak mentah merupakan komoditas utama dalam rantai pasokan energi, sehingga perubahan harganya dapat memengaruhi biaya impor minyak, pengeluaran industri, dan perhitungan anggaran energi. Namun, perubahan harga minyak internasional tidak otomatis langsung diikuti perubahan harga bahan bakar di dalam negeri karena terdapat faktor lain, seperti nilai tukar rupiah, biaya pengolahan dan distribusi, kebijakan pemerintah, serta mekanisme penetapan harga.

Dengan demikian, penurunan harga minyak pada perdagangan Selasa berlangsung di tengah dua perkembangan yang saling berlawanan. Harapan kemajuan diplomasi AS-Iran memberikan tekanan terhadap harga, sementara meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur minyak tetap menimbulkan kekhawatiran mengenai pasokan. Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan keamanan di Timur Tengah, kelancaran pengiriman minyak, serta kebijakan negara-negara terkait untuk menilai arah pergerakan harga berikutnya.

Jurnalis : Wulandari

author avatar
Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !