Masdar Hilmy Kembali Jadi Rektor UINSA Surabaya Periode 2026-2030, Gantikan Akhmad Muzakki

Masdar Hilmy Kembali Jadi Rektor UINSA Surabaya Periode 2026-2030, Gantikan Akhmad Muzakki

SURABAYA – Prof. Masdar Hilmy resmi kembali menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya untuk periode 2026-2030. Ia dilantik oleh Menteri Agama di Jakarta pada Kamis, 15 Oktober 2026, menggantikan Prof. Akhmad Muzakki. Penunjukan tersebut sekaligus menandai kembalinya Masdar ke posisi pimpinan tertinggi kampus setelah sebelumnya menjabat rektor pada periode 2018-2022.

Kepastian pelantikan Masdar diumumkan melalui akun media sosial resmi UINSA, @uinsa.official. Pihak kampus menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan guru besar tersebut dan berharap kepemimpinannya dapat membawa UINSA menjadi perguruan tinggi yang unggul, berkarakter, serta memiliki reputasi di tingkat internasional.

Bagian Kerja Sama, Kelembagaan, dan Humas UINSA, Nur Hayati, membenarkan bahwa Masdar telah dilantik sebagai rektor definitif untuk masa jabatan empat tahun mendatang. Pelantikan tersebut mengakhiri proses pemilihan pimpinan kampus yang sebelumnya melibatkan senat universitas dan Kementerian Agama.

Masdar bukan sosok baru dalam lingkungan akademik UINSA. Sebelum kembali dipercaya memimpin kampus, ia pernah menjabat rektor pada periode 2018-2022. Setelah masa jabatannya berakhir, kepemimpinan UINSA beralih kepada Akhmad Muzakki yang kemudian menjabat sebagai rektor untuk periode berikutnya.

Penunjukan Masdar kali ini berlangsung setelah terjadi dinamika kepemimpinan di lingkungan UINSA. Akhmad Muzakki sebelumnya menghadapi penolakan dari sejumlah elemen kampus. Persoalan tersebut berkembang menjadi polemik yang melibatkan mahasiswa dan sejumlah pihak lainnya, sehingga pergantian kepemimpinan menjadi perhatian civitas akademika.

Dalam proses pemilihan rektor periode 2026-2030, sebanyak 15 guru besar mengikuti tahapan penjaringan calon pimpinan UINSA. Senat universitas kemudian menggelar Sidang Tertutup Pertimbangan Kualitatif Calon Rektor pada Rabu, 7 Oktober 2026, di Greenland Inn & Training Center, Sidoarjo. Hasil penilaian tersebut selanjutnya disampaikan kepada Kementerian Agama untuk menjadi bahan penentuan rektor terpilih.

Setelah melalui tahapan seleksi, Masdar akhirnya ditetapkan untuk kembali memimpin UINSA. Proses penentuan rektor melibatkan mekanisme kelembagaan yang berlaku di lingkungan perguruan tinggi keagamaan negeri, dengan Kementerian Agama memiliki peran dalam penetapan pimpinan definitif.

Sebagai guru besar bidang Sosiologi, Masdar memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan tinggi, penelitian, serta pengelolaan institusi akademik. Selain pernah menjabat rektor, ia juga pernah menjadi Direktur Pascasarjana UINSA. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari rekam jejaknya sebelum kembali menerima mandat memimpin universitas.

Dalam kepemimpinan periode 2026-2030, Masdar membawa visi untuk memperkuat reputasi UINSA di tingkat nasional maupun internasional. Ia menyebut arah pengembangan tersebut sebagai UINSA Goes Global, yakni upaya meningkatkan pengakuan terhadap kampus melalui kualitas akademik, penelitian, dan produktivitas ilmiah.

Masdar menegaskan bahwa peningkatan reputasi perguruan tinggi harus didukung oleh kinerja akademik yang terukur. Salah satu fokus yang akan dikembangkan adalah peningkatan produktivitas dosen dan guru besar dalam menghasilkan karya ilmiah, termasuk publikasi penelitian yang memenuhi standar internasional.

Selain jumlah publikasi, peningkatan indeks sitasi karya ilmiah juga menjadi perhatian. Sitasi merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat sejauh mana karya akademik dirujuk oleh peneliti lain. Meski bukan satu-satunya ukuran mutu perguruan tinggi, produktivitas penelitian dan dampak karya ilmiah dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi universitas dalam lingkungan akademik yang lebih luas.

Untuk mewujudkan target tersebut, Masdar menilai perlunya membangun ekosistem penelitian yang berkualitas. Dukungan terhadap dosen dan peneliti, penguatan kolaborasi akademik, serta peningkatan kualitas publikasi menjadi sejumlah aspek yang relevan dalam pengembangan perguruan tinggi. Pelaksanaan program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai unsur kampus, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Di samping agenda akademik, Masdar juga mengajak seluruh civitas akademika UINSA untuk kembali membangun suasana kampus yang kondusif, produktif, dan bermartabat. Ia menekankan bahwa pencapaian tujuan institusi tidak dapat dilakukan hanya oleh pimpinan, melainkan membutuhkan partisipasi, kebersamaan, serta hubungan kolegial yang baik di antara seluruh warga kampus.

Menurut Masdar, perbedaan pandangan di lingkungan perguruan tinggi perlu dikelola melalui komunikasi dan mekanisme kelembagaan yang baik. Suasana akademik yang sehat diperlukan agar kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berlangsung tanpa terganggu oleh konflik berkepanjangan.

Harapan untuk memulihkan kondisi kampus menjadi salah satu perhatian dalam masa awal kepemimpinan Masdar. Setelah melalui dinamika pergantian rektor, UINSA menghadapi tantangan untuk memperkuat kembali koordinasi internal dan membangun kepercayaan di antara unsur-unsur kampus. Konsolidasi tersebut menjadi penting agar agenda pengembangan akademik dapat berjalan secara berkelanjutan.

Di sisi lain, penguatan reputasi internasional juga membutuhkan dukungan tata kelola institusi yang baik. Kualitas pengajaran, penelitian, publikasi ilmiah, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi lain menjadi unsur yang saling berkaitan. Dengan demikian, visi UINSA Goes Global tidak hanya berkaitan dengan pengakuan dari luar negeri, tetapi juga peningkatan mutu kegiatan akademik di dalam kampus.

Kembalinya Masdar Hilmy sebagai rektor menempatkannya pada tanggung jawab untuk menjalankan dua agenda utama, yakni memperkuat kualitas akademik dan menjaga kondusivitas lingkungan universitas. Kedua hal tersebut membutuhkan perencanaan yang jelas, pelaksanaan program yang konsisten, serta keterlibatan seluruh unsur civitas akademika.

Dengan masa jabatan hingga 2030, Masdar diharapkan dapat menerjemahkan visi pengembangan UINSA ke dalam program yang terukur dan berkelanjutan. Perkembangan kepemimpinannya akan berkaitan dengan pelaksanaan agenda penelitian, peningkatan reputasi akademik, serta kemampuan kampus membangun suasana pendidikan yang produktif dan terbuka bagi seluruh warga universitas.

Jurnalis : Wulandari

author avatar
Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !