Kabut Asap di Parepare Paksa Sekolah Daring, Bahan Baku Dapur MBG Dibagikan Gratis

Kabut Asap Selimuti Parepare, Sekolah Beralih ke Sistem Daring dan Bahan Baku Dapur MBG Dibagikan Gratis

PAREPARE – Kabut asap yang menyelimuti Kota Parepare, Sulawesi Selatan, berdampak terhadap aktivitas pendidikan dan operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi kualitas udara yang memburuk mendorong pemerintah daerah mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem dalam jaringan (daring). Sementara itu, sejumlah dapur penyedia makanan MBG memilih membagikan bahan pangan yang mudah rusak secara gratis agar tetap dapat dimanfaatkan masyarakat.

Kebijakan pembelajaran daring diberlakukan bagi peserta didik tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP). Langkah tersebut diambil sebagai upaya melindungi kesehatan para siswa dari paparan kabut asap yang menyebabkan kualitas udara berada dalam kondisi tidak sehat.

Pemerintah Kota Parepare memutuskan untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh selama dua hari, yakni Kamis dan Jumat, 15–16 Oktober 2026. Pelaksanaan kegiatan belajar selanjutnya akan dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi udara dan situasi lingkungan di wilayah tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare, Adriani Idrus, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan laporan mengenai peningkatan pencemaran udara. Menurutnya, kondisi yang terjadi berpotensi membahayakan kesehatan peserta didik, terutama anak-anak yang masih berada dalam tahap pertumbuhan.

Berdasarkan laporan yang diterima pemerintah daerah, konsentrasi partikel halus PM2.5 mengalami peningkatan dari sekitar 30 menjadi 80 mikrogram per meter kubik. Partikel berukuran sangat kecil tersebut menjadi perhatian karena dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan risiko kesehatan apabila terhirup dalam jumlah yang cukup tinggi.

Pemerintah daerah menilai bahwa keselamatan siswa harus menjadi prioritas di tengah kondisi lingkungan yang belum kondusif. Dengan mengalihkan pembelajaran ke sistem daring, kegiatan pendidikan diharapkan tetap berlangsung tanpa mengharuskan anak-anak melakukan aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih mengganggu kualitas udara.

Selain berdampak terhadap dunia pendidikan, kondisi tersebut juga memengaruhi operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program MBG. Penyesuaian kegiatan sekolah menyebabkan pelayanan makanan bagi penerima manfaat harus dihentikan sementara, sehingga sejumlah dapur menghadapi persoalan bahan baku yang telanjur dipesan sebelum keputusan pembelajaran daring diberlakukan.

Salah satu unit SPPG di wilayah Lapadde, Parepare, memutuskan menyalurkan sebagian bahan pangan segar kepada panti asuhan dan para relawan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah bahan makanan mengalami kerusakan karena tidak segera digunakan dalam kegiatan operasional dapur.

Koordinator Persiapan SPPG Lapadde, Anika, menjelaskan bahwa bahan baku telah dipesan sebelum adanya kepastian mengenai penghentian sementara kegiatan pelayanan. Setelah diketahui bahwa operasional tidak berjalan seperti biasanya, pihaknya memilih membagikan sejumlah bahan makanan yang tidak tahan lama agar dapat dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan.

Bahan pangan yang dibagikan antara lain buncis, tempe, dan jagung. Jumlah buncis yang disalurkan diperkirakan mencapai 80 kilogram, sedangkan tempe berjumlah lebih dari 300 satuan. Adapun jagung yang dibagikan diperkirakan berkisar antara 60 hingga 70 kilogram.

Pembagian tersebut menjadi langkah yang diambil pengelola dapur untuk mengurangi potensi pemborosan pangan. Daripada membiarkan bahan makanan segar rusak akibat tidak segera diolah, pihak SPPG memilih menyalurkannya secara gratis kepada panti asuhan dan relawan agar manfaatnya tetap dapat dirasakan.

Meski demikian, keputusan penghentian operasional secara mendadak turut menimbulkan konsekuensi bagi mitra penyedia makanan. Bahan baku yang telah dibeli sebelumnya berpotensi menambah beban biaya, terutama untuk komoditas yang memiliki masa penyimpanan terbatas dan tidak dapat digunakan kembali dalam jangka waktu panjang.

Untuk bahan makanan yang masih memungkinkan disimpan, pengelola dapur melakukan langkah pengamanan agar kualitasnya tetap terjaga. Daging ayam dimasukkan ke dalam fasilitas pembeku, bumbu marinasi ditempatkan di gudang kering, sedangkan tomat dan bawang disimpan pada tempat penyimpanan yang sesuai. Dengan cara tersebut, bahan pangan yang masih layak diharapkan dapat digunakan kembali ketika operasional dapur kembali berjalan.

Penyaluran bahan pangan gratis juga dilakukan oleh mitra SPPG lainnya. Salah satu mitra, Ikhsan, menyebutkan bahwa pihaknya membagikan sekitar 20 buah melon kuning. Sementara itu, sejumlah bahan baku lain masih dapat dibatalkan pesanannya sebelum dikirim sehingga potensi kerugian dapat ditekan.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa gangguan lingkungan dapat menimbulkan dampak berantai terhadap berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga penyediaan layanan pemenuhan gizi. Ketika aktivitas sekolah harus disesuaikan demi melindungi kesehatan siswa, penyelenggara program MBG juga perlu menyesuaikan kegiatan operasional dan pengelolaan persediaan bahan pangan.

Ke depan, koordinasi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, pengelola SPPG, dan pihak terkait menjadi penting untuk mengantisipasi situasi serupa. Informasi mengenai perubahan kegiatan sekolah yang disampaikan sedini mungkin dapat membantu pengelola dapur menyesuaikan jumlah pesanan, mengatur distribusi, serta mengurangi risiko pemborosan bahan makanan.

Di sisi lain, perkembangan kualitas udara di Parepare tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan lanjutan. Pemerintah daerah akan mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum memutuskan apakah kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara tatap muka atau perlu diperpanjang melalui sistem daring.

Masyarakat juga diharapkan tetap memperhatikan informasi resmi dari pemerintah dan mengikuti imbauan kesehatan selama kabut asap masih terjadi. Perlindungan terhadap kelompok rentan, khususnya anak-anak, menjadi perhatian penting agar dampak pencemaran udara terhadap kesehatan dapat diminimalkan.

Pembagian bahan baku dapur MBG secara gratis di tengah penghentian sementara operasional menjadi salah satu upaya agar persediaan pangan tidak terbuang sia-sia. Di tengah situasi yang tidak terduga, pengelolaan bahan makanan secara tepat serta koordinasi yang baik diharapkan dapat membantu mengurangi kerugian sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi

“`

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !