JAKARTA – Pasangan suami istri yang belum memperoleh kehamilan meski telah rutin melakukan hubungan intim tanpa menggunakan alat kontrasepsi perlu memahami kapan kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai infertilitas. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) menjelaskan, infertilitas umumnya didefinisikan sebagai kondisi ketika pasangan usia subur belum berhasil memperoleh kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi selama satu tahun.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Alpha IVF Jakarta, dr Febriyan Nicolas K, Sp.OG, M.Kes, FESICOG, FEIICOG. Menurutnya, penilaian infertilitas tidak hanya didasarkan pada belum adanya anak, tetapi juga mempertimbangkan riwayat kehamilan, frekuensi hubungan seksual, penggunaan kontrasepsi, serta lama pasangan berusaha mendapatkan keturunan.
Dalam keterangannya pada program detikSore, Selasa (13/10/2026), dr Febriyan menjelaskan bahwa infertilitas terbagi menjadi dua kategori, yakni infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Kedua kondisi tersebut dibedakan berdasarkan riwayat kehamilan atau keberhasilan pasangan memperoleh keturunan sebelumnya.
Infertilitas primer merujuk pada kondisi pasangan yang belum pernah memperoleh kehamilan dan tetap belum berhasil setelah berusaha secara teratur dalam jangka waktu yang memenuhi kriteria infertilitas. Sementara itu, infertilitas sekunder terjadi ketika pasangan pernah mengalami kehamilan atau memiliki anak, tetapi kemudian mengalami kesulitan memperoleh kehamilan kembali setelah berusaha selama periode yang sama.
Perbedaan tersebut penting dipahami karena pasangan yang telah memiliki anak sebelumnya tetap dapat mengalami masalah kesuburan. Riwayat kehamilan pada masa lalu tidak selalu menjamin bahwa pasangan akan mudah memperoleh kehamilan berikutnya. Berbagai faktor kesehatan, perubahan kondisi reproduksi, serta pertambahan usia dapat memengaruhi peluang kehamilan.
Meski demikian, pasangan tidak harus selalu menunggu hingga satu tahun untuk berkonsultasi dengan dokter. Menurut dr Febriyan, usia perempuan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan kapan pemeriksaan kesuburan sebaiknya dimulai. Untuk perempuan berusia di bawah 35 tahun, pemeriksaan umumnya dapat dilakukan setelah satu tahun berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi tetapi belum terjadi kehamilan.
Adapun bagi perempuan berusia 35 hingga 40 tahun, pasangan disarankan tidak menunggu terlalu lama. Pemeriksaan dapat mulai dipertimbangkan setelah enam bulan mencoba memperoleh kehamilan tanpa hasil. Pertimbangan ini berkaitan dengan penurunan kesuburan perempuan seiring bertambahnya usia, sehingga evaluasi lebih dini dapat membantu mengidentifikasi masalah dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Selain batas waktu dan usia, frekuensi hubungan seksual juga menjadi bagian dari penilaian. Dalam penjelasannya, dr Febriyan menyebut hubungan seksual tiga hingga empat kali dalam seminggu secara teratur sebagai bagian dari gambaran pasangan yang berusaha memperoleh kehamilan. Namun, dalam praktik medis, dokter juga akan mempertimbangkan keteraturan hubungan seksual dan kemungkinan hubungan tersebut berlangsung pada masa subur.
### Angka Infertilitas di Indonesia Disebut Meningkat
Dr Febriyan mengungkapkan bahwa angka infertilitas di Indonesia mengalami peningkatan. Ia menyebut angka yang sebelumnya diperkirakan sekitar 10 persen kini meningkat menjadi sekitar 15 persen dari populasi yang dimaksud dalam keterangannya. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesuburan menjadi perhatian penting dalam pelayanan kesehatan reproduksi.
Meski demikian, angka tersebut perlu dipahami sesuai konteks populasi dan metode pengukuran yang digunakan. Kesulitan memperoleh kehamilan dapat dipengaruhi oleh beragam faktor pada perempuan maupun laki-laki. Karena itu, pasangan yang menghadapi masalah kesuburan sebaiknya menjalani pemeriksaan medis untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya, bukan langsung menyimpulkan bahwa masalah berasal dari salah satu pihak.
Menurut dr Febriyan, pola hidup yang kurang sehat dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan gangguan kesuburan. Pola makan yang tidak seimbang, peningkatan obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik dapat memengaruhi kesehatan metabolik tubuh. Kondisi tersebut berpotensi berhubungan dengan fungsi reproduksi, termasuk proses ovulasi pada perempuan.
Salah satu kondisi yang disoroti adalah resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel tubuh tidak merespons insulin secara optimal. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme dan masalah hormonal. Pada sebagian perempuan, gangguan metabolik juga dapat berhubungan dengan sindrom ovarium polikistik atau PCOS, yang dapat memengaruhi keteraturan ovulasi dan peluang terjadinya kehamilan.
Namun, obesitas atau pola hidup tertentu bukan satu-satunya penyebab infertilitas. Gangguan pada organ reproduksi, masalah ovulasi, kondisi saluran telur, kualitas sperma, faktor hormonal, hingga penyebab yang belum diketahui juga dapat berperan. Oleh sebab itu, pemeriksaan menyeluruh diperlukan agar penanganan tidak hanya berfokus pada satu faktor risiko.
### Dokter Sarankan Pemeriksaan Sperma sebagai Langkah Awal
Dalam evaluasi infertilitas, pemeriksaan terhadap pihak laki-laki juga perlu mendapat perhatian sejak awal. Dr Febriyan menekankan pentingnya analisis sperma karena gangguan kesuburan dapat berasal dari faktor pria. Pemeriksaan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma yang menjadi bagian penting dalam proses pembuahan.
Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan perempuan terkadang dilakukan terlebih dahulu hingga memerlukan biaya yang cukup besar, padahal penyebab kesulitan memperoleh kehamilan mungkin berasal dari kualitas atau jumlah sperma. Karena itu, analisis sperma dapat menjadi langkah awal yang relatif sederhana untuk membantu dokter menentukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.
Meski pemeriksaan sperma dinilai praktis, evaluasi infertilitas idealnya tetap melibatkan kedua pasangan. Hasil analisis sperma yang tidak normal tidak serta-merta menjelaskan seluruh penyebab masalah, sedangkan hasil yang normal juga tidak otomatis meniadakan kemungkinan faktor laki-laki lainnya. Dokter akan menilai hasil pemeriksaan bersama riwayat kesehatan dan kondisi pasangan secara keseluruhan.
Pada perempuan, pemeriksaan dapat meliputi evaluasi siklus menstruasi, fungsi ovulasi, kondisi rahim, saluran telur, serta faktor hormonal sesuai indikasi medis. Dokter juga dapat mempertimbangkan usia, riwayat penyakit, operasi sebelumnya, dan faktor lain yang berpotensi memengaruhi kesuburan. Pemeriksaan lanjutan dipilih berdasarkan temuan awal agar proses diagnosis lebih terarah.
Jika penyebab infertilitas telah diketahui, dokter dapat membahas pilihan penanganan sesuai kondisi pasangan. Pendekatannya dapat berupa perbaikan pola hidup, pengobatan terhadap gangguan tertentu, tindakan medis, atau teknologi reproduksi berbantu apabila diperlukan. Tidak semua pasangan membutuhkan metode penanganan yang sama karena keputusan medis bergantung pada penyebab, usia, kondisi kesehatan, dan hasil pemeriksaan.
Pasangan yang belum memperoleh kehamilan juga disarankan untuk tidak saling menyalahkan. Infertilitas merupakan persoalan kesehatan yang dapat melibatkan faktor perempuan, laki-laki, keduanya, atau penyebab yang belum dapat diidentifikasi. Konsultasi bersama tenaga medis dapat membantu pasangan memahami kondisi yang dialami dan menentukan langkah berikutnya berdasarkan informasi yang akurat.
Dengan memahami batas waktu pemeriksaan, perbedaan infertilitas primer dan sekunder, serta pentingnya evaluasi kedua pasangan, masalah kesuburan dapat ditangani secara lebih terencana. Pasangan berusia di bawah 35 tahun umumnya dapat memulai evaluasi setelah satu tahun mencoba, sedangkan perempuan berusia 35 hingga 40 tahun dianjurkan berkonsultasi setelah enam bulan belum memperoleh kehamilan. Jika terdapat kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan atau faktor risiko tertentu, konsultasi lebih awal dapat dipertimbangkan tanpa harus menunggu batas waktu tersebut.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !