A BRIN Identifikasi Logam Misterius di Kebun Sawit Kalteng, Diduga Puing Roket China ZhuQue-2E - FAKTA HARI INI

BRIN Identifikasi Logam Misterius di Kebun Sawit Kalteng, Diduga Puing Roket China ZhuQue-2E

BRIN Identifikasi Logam Misterius di Kebun Sawit Kalteng, Diduga Puing Roket China ZhuQue-2E

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap dugaan asal-usul benda logam berukuran besar yang ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT Agro Bukit, Kilometer 26, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Berdasarkan penelusuran lintasan orbit, benda tersebut diduga merupakan bagian dari sampah antariksa berupa pecahan roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) asal China yang kembali memasuki atmosfer Bumi.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa penemuan terbaru tersebut merupakan objek kedua yang diduga berkaitan dengan peristiwa jatuhnya puing roket di wilayah Kotim. Kedua benda itu ditemukan di kawasan perkebunan sawit dengan karakteristik berbeda, tetapi diperkirakan memiliki sumber yang sama berdasarkan analisis awal terhadap lintasan benda antariksa tersebut.

Thomas menyampaikan bahwa sampah antariksa tidak dapat diprediksi secara tepat mengenai lokasi dan waktu jatuhnya ke permukaan Bumi. Meski demikian, pergerakan benda selama masih berada di orbit dapat ditelusuri melalui data astronomi. Informasi lintasan tersebut menjadi salah satu dasar bagi peneliti untuk memperkirakan kemungkinan hubungan antara benda yang ditemukan warga dan objek antariksa yang memasuki kembali atmosfer.

Menurut penjelasan BRIN, material logam yang ditemukan di perkebunan itu diduga merupakan pecahan badan roket, termasuk komponen yang berkaitan dengan tabung bahan bakar. Ketika bagian roket tidak lagi menjalankan fungsinya, komponen tersebut dapat tetap mengorbit Bumi untuk sementara waktu sebelum akhirnya mengalami penurunan ketinggian dan masuk kembali ke atmosfer.

Proses masuknya kembali benda antariksa ke atmosfer dapat menyebabkan struktur roket mengalami pemanasan ekstrem akibat gesekan dan interaksi dengan udara. Kondisi tersebut berpotensi membuat bagian-bagian roket terbakar, meleleh, atau pecah menjadi serpihan dengan ukuran yang beragam. Namun, tidak semua material selalu habis terbakar. Komponen tertentu yang memiliki ketahanan panas lebih tinggi masih memungkinkan mencapai permukaan Bumi.

Thomas juga menjelaskan bahwa pecahan dari satu objek antariksa dapat tersebar di sejumlah lokasi sepanjang lintasan terakhirnya. Karena itu, penemuan beberapa benda logam di wilayah yang berdekatan tidak serta-merta berarti seluruh komponen jatuh pada satu titik. Persebaran material bergantung pada kondisi benda saat memasuki atmosfer serta proses fragmentasi yang terjadi selama perjalanan menuju permukaan Bumi.

Perhatian warga Kotawaringin Timur terhadap fenomena ini meningkat setelah muncul laporan suara dentuman keras yang disertai gemuruh dari arah langit pada Minggu, 18 Oktober 2026, sore. Sejumlah warga melaporkan mendengar suara tersebut di wilayah setempat. Peristiwa itu kemudian menjadi perhatian setelah keesokan harinya ditemukan pecahan logam berukuran besar di kawasan perkebunan kelapa sawit.

Benda pertama dilaporkan ditemukan pada Senin, 19 Oktober 2026, oleh pekerja perkebunan yang hendak melakukan aktivitas panen sekitar pukul 06.00 WIB. Material tersebut terlihat memiliki ukuran cukup besar, sejumlah kabel yang masih melekat, serta bagian logam yang tampak terkoyak. Temuan itu memunculkan dugaan awal bahwa benda tersebut merupakan bagian dari wahana antariksa atau komponen roket yang jatuh ke permukaan Bumi.

Setelah penemuan pertama, warga kembali menemukan benda logam lain dengan bentuk berbeda di kawasan perkebunan yang sama. Material berwarna kuning pudar itu memiliki permukaan melengkung menyerupai kubah atau setengah lingkaran. Pada beberapa bagian terlihat deretan paku keling atau rivet yang masih terpasang, sementara benda tersebut tergeletak di antara pelepah kelapa sawit yang berserakan.

BRIN menegaskan bahwa sampah antariksa dari berbagai negara berpotensi jatuh ke Bumi secara tidak terduga. Indonesia sendiri pernah mengalami peristiwa jatuhnya objek antariksa yang berasal dari program luar angkasa Uni Soviet atau Rusia, China, maupun Amerika Serikat. Sebagian besar sampah antariksa diperkirakan jatuh di wilayah lautan, hutan, dan gurun yang memiliki area luas dengan kepadatan penduduk relatif rendah.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa jatuhnya serpihan antariksa bukan hanya berkaitan dengan satu negara atau satu jenis wahana. Benda-benda buatan manusia yang sudah tidak berfungsi di orbit dapat menjadi sampah antariksa dan tetap bergerak mengelilingi Bumi sebelum akhirnya memasuki atmosfer. Oleh sebab itu, penelusuran orbit menjadi salah satu langkah penting untuk mengidentifikasi kemungkinan sumber material yang ditemukan di permukaan.

Meski hasil analisis orbit memberikan petunjuk kuat mengenai dugaan asal-usul benda logam di Kotawaringin Timur, pemeriksaan fisik tetap diperlukan untuk memperkuat identifikasi komponen tersebut. Kesesuaian bentuk, karakteristik material, serta kode atau penanda yang terdapat pada benda dapat menjadi bahan pembanding dengan informasi teknis roket yang diduga berkaitan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perkembangan aktivitas peluncuran wahana antariksa juga memiliki konsekuensi berupa keberadaan material buatan manusia yang tidak lagi berfungsi di orbit. Dalam kasus temuan di Kalimantan Tengah, penelusuran lintasan oleh BRIN menjadi dasar untuk menghubungkan benda logam tersebut dengan dugaan masuknya kembali roket ZhuQue-2E ke atmosfer Bumi pada 18 Oktober 2026. Identifikasi lebih lanjut terhadap komponen yang ditemukan diperlukan untuk melengkapi informasi mengenai material dan karakteristik puing tersebut.

Jurnalis : Wulandari

author avatar
Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !