Kabar duka datang dari Kalimantan Tengah setelah seorang bayi perempuan berusia enam bulan meninggal dunia usai menjalani perawatan medis akibat pneumonia atau infeksi paru-paru. Bayi berinisial SH tersebut mengembuskan napas terakhir di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Jaraga Sasameh Buntok, Kabupaten Barito Selatan, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Peristiwa ini menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan.
Berdasarkan pemberitaan detikNews, bayi tersebut dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kesehatan yang sudah cukup berat. Saat tiba di IGD, korban mengalami sesak napas, batuk, hingga kejang-kejang. Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan intensif untuk berupaya menyelamatkan nyawa pasien.
Direktur RSUD Jaraga Sasameh Buntok, dr. Dadang Baskoro Nugroho, membenarkan adanya pasien bayi berusia enam bulan yang meninggal dunia setelah mendapatkan penanganan medis. Ia menjelaskan bahwa pasien tiba di rumah sakit sekitar pukul 14.00 WIB dalam kondisi sesak napas dan mengalami kejang.
Setelah menjalani pemeriksaan, bayi tersebut didiagnosis mengalami pneumonia yang cukup serius. Meski tenaga medis telah berupaya memberikan pertolongan, kondisi pasien terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 17.00 WIB pada hari yang sama.
Kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan di Kalimantan menjadi salah satu perhatian dalam peristiwa ini. Paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat membawa partikel halus serta berbagai zat pencemar yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit penyerta.
Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru-paru. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses pernapasan dan membuat tubuh kesulitan memperoleh oksigen dalam jumlah yang cukup. Pada bayi, penyakit ini perlu mendapatkan perhatian serius karena kondisi kesehatan mereka dapat memburuk dengan cepat apabila tidak segera memperoleh penanganan yang tepat.
Paparan polusi udara, termasuk asap karhutla, berpotensi memperburuk gangguan pernapasan. Namun, penyebab pneumonia dan faktor yang berkontribusi terhadap kematian pasien harus ditentukan berdasarkan penilaian medis. Dalam keterangannya, pihak rumah sakit juga mengingatkan bahwa asap bukan satu-satunya faktor yang dapat menyebabkan pneumonia maupun kematian.
Karena itu, peristiwa meninggalnya bayi tersebut perlu disikapi dengan kehati-hatian. Kondisi kabut asap merupakan persoalan kesehatan lingkungan yang serius, tetapi hubungan langsung antara paparan asap dan kematian seorang pasien tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan waktu kejadian atau kondisi lingkungan.
Bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara. Sistem pernapasan mereka masih berkembang, sementara paparan partikel polutan dapat memicu iritasi dan memperburuk kondisi kesehatan, khususnya pada anak yang telah mengalami gangguan pernapasan.
Dalam situasi kabut asap, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi kesehatan anak, seperti batuk yang terus-menerus, napas lebih cepat dari biasanya, sesak napas, kesulitan menyusu atau makan, serta tubuh yang terlihat semakin lemah. Apabila bayi menunjukkan tanda gangguan pernapasan berat atau mengalami kejang, pertolongan medis darurat harus segera dicari.
Upaya pencegahan juga perlu dilakukan untuk mengurangi paparan asap terhadap anak. Masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menjaga agar udara di dalam rumah tetap sebersih mungkin, serta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari otoritas kesehatan setempat.
Penggunaan masker pada anak perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi keselamatannya. Masker tidak boleh dipakaikan kepada bayi di bawah usia dua tahun karena berisiko mengganggu pernapasan. Untuk bayi, langkah perlindungan yang lebih tepat adalah mengurangi paparan asap, menjaga lingkungan dalam ruangan, dan mencari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik apabila memungkinkan.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya penanganan kebakaran hutan dan lahan secara cepat serta upaya perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap. Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan terganggunya aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat menimbulkan risiko kesehatan, khususnya bagi kelompok yang rentan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu terus memperkuat pemantauan kualitas udara, menyampaikan informasi risiko kesehatan kepada masyarakat, serta memastikan layanan kesehatan siap menangani warga yang mengalami gangguan pernapasan. Akses terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi hal penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan paparan asap tinggi.
Di tingkat keluarga, orang tua diharapkan tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan pada bayi dan anak-anak. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu tenaga medis melakukan penilaian kondisi pasien dan menentukan penanganan yang sesuai. Masyarakat juga perlu mengikuti arahan petugas kesehatan apabila kondisi udara di wilayah tempat tinggal semakin memburuk.
Kematian bayi berusia enam bulan di Barito Selatan ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan kesehatan kelompok rentan di tengah ancaman pencemaran udara. Penanganan karhutla, pengendalian kualitas udara, dan peningkatan kewaspadaan masyarakat perlu berjalan beriringan agar dampak buruk terhadap kesehatan dapat diminimalkan.
Sementara itu, penyebab medis dan faktor yang berkontribusi terhadap kematian pasien tetap perlu merujuk pada keterangan tenaga medis yang menangani. Masyarakat diharapkan tidak menarik kesimpulan yang melampaui informasi resmi, sembari tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya asap karhutla bagi kesehatan pernapasan.
Jurnalis : Damara Rizky Elisyah
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !