Bupati Jember, Muhammad Fawait atau yang akrab disapa Gus Fawait, menjelaskan upaya Pemerintah Kabupaten Jember dalam menerjemahkan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto ke dalam program pembangunan daerah. Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas akses pelayanan dasar, mengurangi beban ekonomi masyarakat, serta meningkatkan kesejahteraan warga, khususnya kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.
Gagasan tersebut disampaikan Gus Fawait ketika menjadi narasumber dalam podcast Total Politik bertajuk Indonesia Future Leader #2: Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo di Jakarta, Kamis (15/10/2026). Dalam forum tersebut, ia membahas pentingnya keselarasan kebijakan pemerintah pusat dan daerah agar program pembangunan dapat dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Gus Fawait menyampaikan bahwa pengalamannya selama sekitar 17 tahun menjadi kader Partai Gerindra membuatnya mengenal arah pemikiran Prabowo. Menurutnya, kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat perlu diterjemahkan menjadi program konkret di daerah sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Ia menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai salah satu fokus utama pembangunan Kabupaten Jember. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui kebijakan ekonomi, tetapi juga dengan memperluas akses kesehatan, memberikan dukungan pendidikan, serta memastikan masyarakat berpenghasilan rendah memiliki kesempatan memperoleh pelayanan publik yang layak.
Salah satu program yang disoroti Gus Fawait adalah Home Care, yakni pelayanan kesehatan gratis dengan mendatangkan tenaga medis ke rumah warga. Program ini ditujukan terutama bagi masyarakat yang mengalami kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan, termasuk kelompok rentan yang membutuhkan pendampingan dan pemeriksaan secara berkala.
Dalam pelaksanaannya, program Home Care menggunakan pendekatan pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal pasien. Pemerintah Kabupaten Jember melibatkan sekitar 1.200 tenaga kesehatan yang tersebar di 50 puskesmas untuk mendukung pelaksanaan layanan tersebut.
Melalui pendekatan ini, pelayanan kesehatan diharapkan tidak hanya bergantung pada kunjungan pasien ke fasilitas medis. Tenaga kesehatan dapat menjangkau warga yang membutuhkan pelayanan di rumah, sehingga hambatan akses akibat kondisi fisik, jarak, maupun keterbatasan tertentu dapat dikurangi.
Gus Fawait menilai bahwa perluasan pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, persoalan kesehatan tidak jarang berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi keluarga. Ketika warga kesulitan memperoleh layanan medis, beban yang harus ditanggung dapat semakin besar, terutama bagi keluarga dengan penghasilan terbatas.
Selain Home Care, Pemerintah Kabupaten Jember juga mengandalkan skema Universal Health Coverage (UHC) Prioritas untuk memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Melalui skema ini, warga yang memenuhi ketentuan kepesertaan dapat memperoleh layanan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sesuai ketentuan program.
Data per 1 Oktober 2026 menunjukkan cakupan kepesertaan UHC di Kabupaten Jember mencapai 98,69 persen atau sekitar 2.613.815 jiwa dari total 2.648.587 penduduk. Angka tersebut menunjukkan luasnya cakupan kepesertaan jaminan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.
Perluasan kepesertaan jaminan kesehatan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi hambatan masyarakat dalam mendapatkan layanan medis. Meski demikian, cakupan kepesertaan tetap perlu diikuti dengan kualitas pelayanan, ketersediaan tenaga kesehatan, serta fasilitas yang memadai agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal.
Kombinasi UHC Prioritas dan Home Care menjadi pendekatan yang dikemukakan Gus Fawait dalam memperkuat layanan kesehatan di Jember. Kedua program tersebut memiliki sasaran pelayanan yang saling mendukung, yakni memperluas akses terhadap fasilitas kesehatan sekaligus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Di bidang pendidikan, Pemkab Jember juga menjalankan program beasiswa yang ditujukan bagi mahasiswa asal Jember, khususnya dari keluarga yang membutuhkan dukungan ekonomi. Program ini diharapkan membantu memperluas kesempatan generasi muda untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa sepenuhnya terbebani oleh persoalan biaya.
Pemerintah Kabupaten Jember menargetkan pemberian beasiswa kepada 20.000 mahasiswa. Dalam paparan yang disampaikan Gus Fawait, sebanyak 11.000 mahasiswa telah menerima beasiswa dari pemerintah kabupaten.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan tinggi diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda untuk memperoleh pekerjaan, mengembangkan keterampilan, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, dukungan pendidikan juga berpotensi mengurangi beban pengeluaran rumah tangga. Karena itu, pelaksanaan program beasiswa perlu disertai mekanisme penyaluran yang jelas, kriteria penerima yang transparan, serta evaluasi berkala agar bantuan dapat menjangkau mahasiswa yang sesuai dengan sasaran.
Dalam forum tersebut, pembahasan juga menyentuh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat, termasuk penyesuaian alokasi Transfer ke Daerah (TKD). Perubahan anggaran tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam mempertahankan pelayanan publik sekaligus melaksanakan program prioritas.
Gus Fawait berpandangan bahwa pemerintah daerah perlu meningkatkan kreativitas dalam mengelola keuangan serta mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurutnya, pemerintah harus mencari cara untuk memperkuat kapasitas fiskal tanpa serta-merta membebankan kebutuhan anggaran kepada masyarakat melalui kenaikan pajak.
Optimalisasi pendapatan daerah perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan belanja yang efektif. Pemerintah daerah dituntut menentukan prioritas secara cermat, menghindari pemborosan, serta memastikan anggaran digunakan untuk kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam kondisi fiskal yang terbatas, program pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan memerlukan perencanaan yang matang. Evaluasi terhadap efektivitas program juga penting agar pemerintah dapat menentukan kegiatan yang perlu diperkuat, disesuaikan, atau ditingkatkan pelaksanaannya berdasarkan kebutuhan warga.
Gus Fawait menekankan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah perlu dibangun melalui koordinasi yang baik. Kebijakan nasional, menurutnya, harus dapat diterjemahkan menjadi program yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah, tanpa mengabaikan tujuan pembangunan secara keseluruhan.
Keselarasan tersebut tidak berarti setiap daerah harus menerapkan program dengan cara yang sama. Kondisi geografis, jumlah penduduk, kemampuan keuangan, serta kebutuhan masyarakat berbeda-beda. Karena itu, pemerintah daerah perlu menyesuaikan pelaksanaan kebijakan agar tetap relevan dan dapat dijalankan secara efektif.
Dalam diskusi yang sama, sejumlah kepala daerah turut menyampaikan pandangan mengenai penyesuaian program daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat. Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, misalnya, menyoroti peluang yang dapat dimanfaatkan daerah melalui program nasional seperti Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menilai bahwa hubungan pemerintah pusat dan daerah dalam negara kesatuan tidak semestinya dipahami sebagai hubungan yang saling berlawanan. Pemerintah daerah tetap dapat menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat melalui koordinasi serta mekanisme pemerintahan yang berlaku.
Penerjemahan kebijakan nasional ke tingkat daerah pada akhirnya perlu dilihat dari pelaksanaan program dan manfaatnya bagi masyarakat. Perluasan akses kesehatan, bantuan pendidikan, serta upaya mengurangi kemiskinan merupakan sejumlah bidang yang membutuhkan kesinambungan kebijakan dan dukungan anggaran.
Di Kabupaten Jember, program Home Care, UHC Prioritas, dan beasiswa mahasiswa menjadi contoh program yang dipaparkan Gus Fawait untuk menggambarkan arah pembangunan daerah. Keberlanjutan program-program tersebut akan bergantung pada kualitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, ketersediaan anggaran, dan evaluasi terhadap hasil yang dicapai.
Dengan koordinasi yang terjaga antara pemerintah pusat dan daerah, program pembangunan diharapkan dapat menjawab persoalan masyarakat secara lebih terarah. Pada saat yang sama, transparansi anggaran dan pengawasan pelaksanaan tetap diperlukan agar setiap kebijakan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Pembahasan dalam forum Indonesia Future Leader #2 tersebut memperlihatkan beragam pendekatan kepala daerah dalam menyesuaikan kebijakan nasional dengan kondisi wilayah masing-masing. Bagi Gus Fawait, pengentasan kemiskinan dan perluasan akses pelayanan kesehatan menjadi dua contoh bidang yang diterjemahkan ke dalam program Pemerintah Kabupaten Jember.
Jurnalis : Ghazy Fikri Izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !