Dunia seni dan budaya Yogyakarta berduka atas meninggalnya Susilo Nugroho, seniman yang lebih dikenal dengan nama panggung Den Baguse Ngarso. Ia meninggal dunia pada Senin, 21 September 2026. Kepergiannya meninggalkan kenangan bagi dunia seni peran, khususnya melalui karya-karya yang memadukan humor dengan kritik sosial.
Nama Den Baguse Ngarso semakin dikenal masyarakat melalui program Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Yogyakarta sejak 1988 hingga 2008. Karakter yang ia perankan membuat sosok tersebut begitu melekat di ingatan penonton. Dalam program tersebut, ia memainkan karakter seorang priyayi yang digambarkan memiliki sifat tinggi hati, sinis, merasa paling benar, serta kerap memandang rendah kelompok masyarakat di bawahnya.
Karakter tersebut tidak sekadar menjadi hiburan bagi penonton. Melalui peran dan dialog yang dibawakan, Den Baguse Ngarso mampu menyampaikan berbagai persoalan sosial dengan cara yang ringan dan mudah diterima masyarakat. Guyonan menjadi salah satu cara yang digunakannya untuk menyampaikan kritik tanpa harus mengubah pertunjukan menjadi sesuatu yang terasa menggurui.
Jejak keseniannya juga tidak dapat dilepaskan dari Teater Gandrik. Susilo turut membangun kelompok teater tersebut pada era 1980-an bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Novi Budianto. Teater Gandrik kemudian dikenal dengan pendekatan pertunjukan yang memanfaatkan komedi dan satir untuk merespons berbagai persoalan sosial maupun politik pada masanya.
Bagi Den Baguse Ngarso, panggung bukan hanya tempat untuk menghibur penonton. Seni pertunjukan juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, mempertanyakan keadaan, dan mengajak masyarakat melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Humor menjadi jembatan yang membuat pesan tersebut dapat disampaikan dengan lebih dekat kepada penonton.
Di luar aktivitasnya sebagai seniman, Susilo Nugroho juga menjalani profesi sebagai pendidik. Ia merupakan lulusan jurusan Ekonomi IKIP Sanata Dharma dan pernah mengajar di SMK Negeri 1 Bantul. Setelah bertahun-tahun menjalankan tugas sebagai guru, ia memasuki masa pensiun pada 2019.
Budayawan Bambang Paningron mengenang Susilo sebagai salah satu figur penting dalam dunia seni peran Yogyakarta. Menurut Paningron, Susilo memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintahan dan berbagai persoalan publik melalui kemasan humor. Ia juga melihat Susilo bukan hanya sebagai seorang pelawak, tetapi sebagai sosok pendidik yang menggunakan panggung sebagai ruang untuk menyampaikan pelajaran kepada masyarakat.
Kekuatan Den Baguse Ngarso terletak pada kemampuannya menggabungkan karakter, dialog, humor, dan kritik dalam sebuah pertunjukan. Cara tersebut membuat pesan yang disampaikan tidak selalu hadir dalam bentuk pernyataan langsung, tetapi dapat ditangkap melalui situasi, perilaku tokoh, serta kelucuan yang muncul di atas panggung.
Kepergian Susilo Nugroho menjadi kehilangan bagi lingkungan seni Yogyakarta. Warisan yang ditinggalkannya tidak hanya berupa karakter Den Baguse Ngarso yang dikenal masyarakat, tetapi juga perjalanan panjangnya sebagai aktor, pendidik, dan bagian dari perkembangan Teater Gandrik. Karya dan pendekatan keseniannya menjadi bagian dari perjalanan seni pertunjukan yang memperlihatkan bahwa humor dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik dan refleksi sosial.
Melalui perjalanan tersebut, Den Baguse Ngarso meninggalkan jejak sebagai seniman yang mampu menjadikan guyonan sebagai medium komunikasi dengan publik. Di tengah dunia seni yang terus berkembang, karya-karyanya mengingatkan bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya dapat menghadirkan tawa, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk berpikir dan melihat kembali berbagai persoalan di sekitarnya.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !