Kenangan Kawan Kecil Affan Kurniawan: Sederhana, Gemar Nongkrong, Bercanda, dan Makan Bersama

 

Kenangan Kawan Kecil Affan Kurniawan: Sederhana, Gemar Nongkrong, Bercanda, dan Makan Bersama

Sosok Affan Kurniawan masih meninggalkan kenangan mendalam bagi orang-orang yang mengenalnya sejak kecil. Bagi Sumbar, salah satu kawan yang telah lama mengenal Affan, kenangan tentang almarhum bukan hanya berkaitan dengan peristiwa yang mengakhiri hidupnya pada 28 Agustus 2025. Ada banyak cerita sederhana dari keseharian Affan yang justru terus melekat dalam ingatannya.

Sumbar dan Affan tumbuh di lingkungan yang sama di kawasan Jalan Tayu, Menteng, Jakarta Pusat. Meski terdapat perbedaan usia di antara keduanya, hubungan pertemanan tetap berjalan akrab. Affan dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan tidak sulit membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Kebiasaan Affan yang paling diingat Sumbar adalah aktivitas sederhana pada malam hari. Ketika belum mengantuk, Affan kerap keluar rumah untuk mencari teman mengobrol atau sekadar menghabiskan waktu. Jika melihat Sumbar sedang duduk dan berkumpul, Affan biasanya langsung menghampiri untuk mengajak nongkrong bersama.

Pertemuan mereka tidak membutuhkan agenda khusus. Keduanya cukup duduk bersama, berbincang, sesekali bercanda, atau memainkan telepon genggam. Dalam suasana santai tersebut, waktu berlalu tanpa terasa. Tidak jarang, pertemuan sederhana itu kemudian dilanjutkan dengan mencari makanan bersama.

Kebiasaan tersebut menjadi bagian kecil dari persahabatan mereka. Bagi Sumbar, momen seperti nongkrong, bercanda, dan makan bersama mungkin terlihat sederhana. Namun setelah Affan tidak lagi ada, kenangan tersebut justru menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Kenangan Terakhir Sebelum Affan Pergi

Pertemuan terakhir antara Sumbar dan Affan berlangsung sekitar satu minggu sebelum Affan meninggal dunia. Saat itu, Sumbar sedang bersiap melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Sebelum berangkat, keduanya masih sempat bertemu dan makan bersama di sekitar kawasan Pasar Rumput.

Tidak ada tanda khusus dalam pertemuan tersebut yang membuat Sumbar menyangka bahwa itu akan menjadi kesempatan terakhir mereka untuk berbincang dan makan bersama. Semuanya berlangsung seperti biasa. Karena itulah, kenangan dari pertemuan tersebut kini terasa semakin berharga bagi Sumbar.

Ketika kabar mengenai kematian Affan diterima, Sumbar sedang berada di Yogyakarta. Ia mendapatkan informasi melalui pesan WhatsApp dan melihat foto-foto yang beredar. Dari foto tersebut, ia langsung mengenali sosok yang selama ini dikenalnya sejak kecil.

Mengenal Affan Sejak Kecil

Sumbar mengenal perjalanan hidup Affan sejak masih muda. Dalam kesehariannya, Affan dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, tetapi mudah bergaul dengan orang lain. Ia juga dikenal oleh sejumlah warga di lingkungan tempat tinggalnya dan dapat berinteraksi dengan berbagai kalangan.

Sebelum bekerja sebagai pengemudi ojek online, Affan sempat menjalani pekerjaan sebagai petugas keamanan di lingkungan tempat tinggal mereka. Dalam pekerjaan tersebut, ia dikenal sebagai sosok yang berani. Sumbar bahkan mengingat sebuah kejadian ketika Affan pernah menangkap seorang pencuri seorang diri.

Bagi keluarganya, Affan juga memiliki peran penting. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan disebut menjadi salah satu tulang punggung keluarga. Di mata Sumbar, keberanian dan tanggung jawab tersebut menjadi bagian dari karakter Affan yang ia kenal selama bertahun-tahun.

Namun, ketika mengenang Affan, hal yang paling melekat di benak Sumbar bukan hanya keberaniannya. Ia lebih banyak mengingat sisi sederhana Affan sebagai anak muda yang menyenangkan untuk diajak bergaul. Sosok yang bisa datang pada malam hari, mengajak duduk bersama, bercanda sebentar, kemudian mencari makanan.

Kebiasaan yang Kini Tidak Lagi Sama

Setelah Affan meninggal dunia, kebiasaan sederhana yang dahulu dilakukan bersama pun ikut berhenti. Tempat mereka biasa berkumpul masih ada. Jalan yang sering dilewati masih sama, begitu pula warung-warung makanan di sekitar Pasar Rumput yang tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

Namun, bagi Sumbar, ada satu hal yang berubah. Tidak ada lagi Affan yang datang pada malam hari ketika belum mengantuk untuk mengajak duduk dan berbincang. Tidak ada lagi ajakan spontan untuk mencari makanan bersama.

Sekitar 40 hari setelah kepergian Affan, keluarga disebut meninggalkan rumah kontrakan tempat mereka tinggal. Lingkungan yang sebelumnya menjadi bagian dari keseharian Affan pun perlahan berubah. Meski demikian, kenangan tentang sosoknya tetap hidup di antara orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Kisah Sumbar menunjukkan bahwa seseorang tidak selalu dikenang melalui peristiwa besar. Terkadang, justru kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari menjadi kenangan paling kuat setelah seseorang pergi. Bagi Sumbar, Affan akan tetap dikenang sebagai kawan yang mudah bergaul, sederhana, dan selalu punya cara untuk mengajak orang di sekitarnya menghabiskan waktu bersama.

Tempat nongkrong mereka mungkin masih sama, suasana jalan yang biasa dilewati juga masih dapat ditemui, dan warung makan tempat mereka sesekali makan bersama tetap ada. Akan tetapi, sosok yang dahulu menghidupkan kebiasaan tersebut telah tiada. Kenangan sederhana itulah yang kini menjadi bagian penting dari cerita tentang Affan Kurniawan.

Jurnalis : Ghazy fikri izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !