JAKARTA — Nama Buya Hamka sudah lama dikenal masyarakat Indonesia sebagai salah satu ulama besar, sastrawan, sekaligus tokoh intelektual Islam yang memberikan pengaruh penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa nama HAMKA yang begitu melekat dalam ingatan publik ternyata merupakan singkatan dari nama lengkapnya, yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah.
Tokoh yang memiliki nama lengkap Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah tersebut dikenal melalui berbagai karya keislaman, sastra, pemikiran, hingga aktivitasnya dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Nama Hamka kemudian menjadi identitas yang dikenal luas, bahkan melampaui nama aslinya yang diberikan ketika ia masih kecil.
Hamka dilahirkan di Sungai Batang, kawasan Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908. Sejumlah sumber biografi juga mencatat tanggal kelahirannya pada 17 Februari 1908. Ia merupakan putra dari ulama terkemuka Minangkabau, Syekh Abdul Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Haji Rasul. Hamka kemudian meninggal dunia di Jakarta pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun.
Nama Hamka Berawal dari Nama Abdul Malik
Sebelum dikenal sebagai Buya Hamka, nama yang diberikan kepadanya sejak kecil adalah Abdul Malik. Nama tersebut memiliki latar belakang tersendiri karena berkaitan dengan penghormatan ayahnya terhadap seorang ulama besar asal Nusantara, Syekh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi, yang pernah menjadi guru ayahnya di Makkah.
Nama Abdul Malik juga disebut memiliki makna dan harapan tersendiri. Dalam perjalanan hidupnya, nama tersebut kemudian dilengkapi dengan nama ayahnya, yakni Karim Amrullah. Dari susunan nama itulah terbentuk nama Abdul Malik Karim Amrullah yang selanjutnya dikenal melalui akronim HAMKA.
Penggunaan nama Hamka menjadi identitas yang melekat dalam perjalanan kariernya sebagai penulis, pendakwah, dan tokoh masyarakat. Dalam dunia kepengarangan, ia juga pernah menggunakan beberapa nama samaran, di antaranya A.S. Hamid, Indra Maha, dan Abu Zaki.
Arti Sebutan Buya dalam Tradisi Minangkabau
Selain nama Hamka, sebutan Buya yang berada di depan namanya juga mempunyai makna tersendiri. Kata Buya bukan bagian dari singkatan HAMKA, melainkan panggilan kehormatan yang berkembang dalam tradisi masyarakat Minangkabau.
Sebutan tersebut memiliki keterkaitan dengan istilah bahasa Arab, yakni abi atau abuya, yang berarti ayahku. Dalam penggunaannya di tengah masyarakat, panggilan Buya diberikan kepada sosok yang dihormati, terutama ulama atau orang yang memiliki kedudukan dan pengaruh dalam kehidupan keagamaan.
Karena kiprahnya dalam dakwah, pendidikan, pemikiran Islam, dan kehidupan masyarakat, Abdul Malik Karim Amrullah kemudian lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka. Panggilan tersebut menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap kontribusi dan keteladanannya.
Produktif Menulis dan Menghasilkan Karya Besar
Buya Hamka bukan hanya dikenal sebagai ulama dan pendakwah. Ia juga merupakan seorang sastrawan yang menghasilkan banyak karya dalam berbagai bidang. Tulisan-tulisannya mencakup persoalan agama, filsafat, sejarah, sosial, kebudayaan, hingga kehidupan manusia.
Salah satu karya terbesarnya adalah Tafsir Al-Azhar, sebuah karya penafsiran Al-Qur’an yang terdiri atas 30 jilid. Karya tersebut menjadi salah satu sumbangan penting dalam perkembangan literatur tafsir Islam di Indonesia karena menghadirkan pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penjelasan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Di bidang sastra, Hamka juga dikenal melalui sejumlah novel yang hingga kini masih dibaca dan dipelajari. Dua karya terkenalnya adalah \Tenggelamnya Kapal van der Wijck\ dan \Di Bawah Lindungan Ka’bah\. Kedua karya tersebut memperlihatkan kemampuannya mengangkat persoalan kehidupan, nilai agama, hubungan antarmanusia, serta dinamika sosial melalui cerita sastra.
Produktivitasnya dalam menulis menjadikan Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh literasi dan pemikiran Islam Indonesia. Karya-karyanya tidak hanya membahas persoalan keagamaan, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan yang relevan dengan masyarakat pada masanya.
Menjadi Ketua Umum Pertama Majelis Ulama Indonesia.
Perjalanan pengabdian Buya Hamka juga tercatat dalam sejarah kelembagaan keagamaan di Indonesia. Ia merupakan Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi yang berdiri pada 26 Juli 1975 sebagai wadah berhimpunnya ulama, zuama, dan cendekiawan muslim di Tanah Air.
Dalam masa awal pembentukan MUI, Hamka dipercaya memimpin organisasi tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari perjalanan awal lembaga yang memiliki peran dalam memberikan bimbingan keagamaan serta menyampaikan pandangan ulama terhadap berbagai persoalan umat dan kehidupan berbangsa.
Hamka menjabat sebagai Ketua Umum MUI hingga akhirnya mengundurkan diri pada 1981. Kiprahnya dalam organisasi tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan pengabdiannya kepada masyarakat dan umat Islam Indonesia.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Pengabdian Buya Hamka tidak hanya berlangsung dalam bidang keagamaan dan kesusastraan. Ia juga dikenal sebagai wartawan, pejuang, serta tokoh yang aktif dalam kehidupan kebangsaan. Pemikiran dan karya-karyanya memberikan sumbangan terhadap perkembangan intelektual, keagamaan, dan kebudayaan di Indonesia.
Atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah menetapkan Buya Hamka sebagai Pahlawan Nasional pada 2011 melalui Keputusan Presiden Nomor 113/TK/Tahun 2011. Pengakuan tersebut menjadi bentuk penghargaan negara terhadap kontribusinya bagi bangsa Indonesia.
Hingga kini, nama Buya Hamka tetap dikenal lintas generasi. Karya sastra, pemikiran keislaman, serta perjalanan hidupnya masih menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan kalangan akademisi.
Fakta bahwa HAMKA merupakan singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan hidup tokoh besar tersebut. Di balik nama yang sederhana dan mudah diingat, tersimpan sosok ulama, sastrawan, pemikir, dan pejuang yang meninggalkan warisan intelektual penting bagi Indonesia.
Jurnalis : Wafiq Qodriyatussoleha
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !