JAKARTA – Anggapan bahwa pencabutan gigi bagian atas dapat menyebabkan kebutaan masih menjadi kekhawatiran sebagian masyarakat. Mitos tersebut membuat sejumlah orang ragu menjalani perawatan gigi, meskipun kondisi gigi sudah berlubang parah, mengalami infeksi, atau tidak lagi dapat dipertahankan. Padahal, secara medis, pencabutan gigi atas tidak secara langsung menyebabkan kebutaan. Meski demikian, tindakan kedokteran gigi tetap memiliki risiko komplikasi tertentu yang perlu dipahami dan ditangani oleh tenaga medis profesional.
Dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak, drg. Alana Aluditasari, SpKGA, sebelumnya menegaskan bahwa anggapan pencabutan gigi atas dapat menyebabkan kebutaan merupakan mitos. Menurutnya, pasien yang memang membutuhkan pencabutan gigi tidak perlu menghindari tindakan tersebut hanya karena khawatir kehilangan penglihatan. Keputusan mengenai pencabutan tetap harus didasarkan pada kondisi gigi, hasil pemeriksaan, serta pertimbangan medis dokter gigi.
Salah satu alasan munculnya mitos tersebut adalah letak gigi atas yang relatif dekat dengan sejumlah struktur di sekitar hidung, rongga sinus, dan mata. Kedekatan anatomis ini kerap menimbulkan anggapan bahwa pencabutan gigi bagian atas dapat mengganggu saraf penglihatan. Namun, saraf yang berperan dalam persarafan gigi dan rahang berbeda dari saraf optik yang bertugas menghantarkan informasi visual dari mata menuju otak.
Gigi dan rahang terutama mendapatkan persarafan dari saraf trigeminal, sedangkan penglihatan melibatkan saraf optik atau nervus optikus. Perbedaan fungsi dan jalur persarafan tersebut menjadi salah satu dasar penjelasan medis bahwa pencabutan gigi atas yang dilakukan sesuai prosedur tidak secara langsung menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayai informasi yang menghubungkan kedua kondisi tersebut tanpa penjelasan ilmiah yang memadai.
Meski demikian, bukan berarti seluruh prosedur kedokteran gigi bebas dari kemungkinan komplikasi pada area mata. Literatur medis mencatat sejumlah kasus langka berupa gangguan penglihatan setelah tindakan gigi, yang dapat berkaitan dengan efek anestesi lokal, perdarahan, penyebaran infeksi, atau komplikasi lain. Kondisi tersebut berbeda dari anggapan bahwa pencabutan gigi atas secara otomatis menyebabkan kebutaan.
Dalam keadaan tertentu, penggunaan anestesi lokal dapat menimbulkan efek sementara pada struktur di sekitar mata apabila obat memengaruhi jalur saraf atau pembuluh darah tertentu. Gejala yang pernah dilaporkan dalam literatur antara lain penglihatan ganda, kelopak mata terkulai, serta gangguan penglihatan. Komplikasi semacam ini tergolong jarang dan penanganannya bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, serta kondisi pasien.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah infeksi gigi yang tidak ditangani dengan tepat. Infeksi yang berasal dari gigi atas, terutama gigi geraham, dalam kondisi tertentu dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya, termasuk area rongga sinus dan sekitar mata. Apabila infeksi berkembang menjadi kondisi serius seperti selulitis orbita atau terbentuknya abses di sekitar mata, pasien dapat mengalami pembengkakan, nyeri, gangguan pergerakan mata, hingga penurunan kemampuan melihat.
Karena itu, membiarkan gigi yang sakit atau terinfeksi tanpa pemeriksaan bukanlah pilihan yang aman. Dokter gigi perlu menentukan apakah gigi masih dapat dipertahankan melalui penambalan atau perawatan saluran akar, atau justru harus dicabut untuk mengatasi sumber masalah. Penanganan yang tepat dapat membantu mencegah perkembangan penyakit dan mengurangi risiko komplikasi akibat infeksi yang tidak terkendali.
Sebelum pencabutan dilakukan, dokter gigi biasanya memeriksa kondisi gigi dan jaringan di sekitarnya. Pemeriksaan dapat dilengkapi dengan foto rontgen apabila diperlukan untuk mengetahui posisi akar, kondisi tulang, serta kemungkinan adanya masalah lain. Dokter juga perlu mempertimbangkan riwayat penyakit, penggunaan obat-obatan, alergi, dan kondisi kesehatan pasien untuk menentukan prosedur yang sesuai.
Setelah tindakan, pasien perlu mengikuti petunjuk perawatan yang diberikan dokter, termasuk menjaga kebersihan mulut, menghindari aktivitas yang dapat mengganggu pembentukan bekuan darah, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran. Pasien juga perlu memperhatikan perubahan kondisi yang tidak biasa. Nyeri yang semakin berat, pembengkakan yang memburuk, demam, atau tanda infeksi memerlukan pemeriksaan kembali oleh tenaga medis.
Gangguan penglihatan setelah tindakan gigi, meskipun jarang, tidak boleh dianggap sepele. Apabila seseorang mengalami penglihatan mendadak kabur atau hilang, penglihatan ganda yang baru muncul, nyeri hebat di sekitar mata, atau pembengkakan yang cepat membesar, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan cepat penting untuk mengidentifikasi penyebab dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Dengan demikian, anggapan bahwa cabut gigi atas pasti dapat menyebabkan kebutaan tidak memiliki dasar medis yang tepat. Pencabutan gigi yang dilakukan oleh dokter gigi dengan prosedur yang sesuai pada umumnya aman, meskipun komplikasi langka tetap mungkin terjadi dalam kondisi tertentu. Masyarakat disarankan berkonsultasi langsung dengan dokter gigi ketika mengalami masalah pada gigi, alih-alih menunda perawatan karena mitos yang belum terbukti kebenarannya.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !