Tawuran Dua Kelompok di Makassar Libatkan Emak-emak, Batu hingga Petasan Digunakan Saat Bentrokan

Tawuran Dua Kelompok di Makassar Libatkan Emak-emak, Batu hingga Petasan Digunakan Saat Bentrokan

Aksi tawuran yang melibatkan dua kelompok warga terjadi di Jalan Abubakar Lambogo (Ablam), Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Peristiwa yang berlangsung pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 18.00 Wita tersebut menjadi perhatian karena tidak hanya melibatkan kelompok warga yang bertikai, tetapi juga sejumlah emak-emak yang ikut berada di tengah keributan dan membela kelompok masing-masing.

Berdasarkan keterangan kepolisian, bentrokan tersebut melibatkan dua kelompok warga yang dikenal dengan sebutan Jor-joran dan Loner. Situasi memanas setelah kedua kelompok terlibat saling ejek. Perselisihan yang awalnya berupa adu mulut kemudian berkembang menjadi aksi saling serang menggunakan berbagai benda berbahaya.

Kapolsek Makassar, Kompol Mustari, menjelaskan bahwa sejumlah perempuan turut terlibat dalam keributan dengan berteriak dan saling menunjuk. Mereka disebut membela anak-anak maupun kelompok masing-masing sehingga suasana di lokasi menjadi semakin tegang. Kehadiran warga yang ikut memperkeruh keadaan membuat petugas harus berupaya menenangkan kedua belah pihak.

Keterlibatan emak-emak dalam peristiwa tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian. Alih-alih membantu meredakan perselisihan, sebagian dari mereka justru terlibat dalam adu mulut dan saling menyalahkan. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana konflik antarkelompok dapat meluas ketika anggota keluarga dan warga lain ikut terseret ke dalam pertikaian.

Menurut keterangan polisi, bentrokan bermula dari aksi saling ejek yang membuat masing-masing kelompok merasa tersinggung. Situasi yang tidak segera diredakan kemudian berkembang menjadi serangan terbuka. Kedua kelompok dilaporkan saling melempar batu serta menggunakan petasan dan benda berbahaya lainnya.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada media, polisi juga menyebut adanya penggunaan busur panah dan bom molotov dalam rangkaian bentrokan. Penggunaan benda-benda tersebut meningkatkan risiko terjadinya korban luka serta kerusakan di sekitar lokasi. Aparat pun berupaya menghentikan aksi agar tidak meluas dan membahayakan warga yang tidak terlibat.

Keributan tersebut turut memicu kebakaran pada sebuah lahan kosong di sekitar lokasi. Api dilaporkan muncul setelah petasan mengenai area yang ditumbuhi rumput panjang dan terdapat tumpukan kayu. Kondisi tersebut membuat material di lahan kosong mudah terbakar, sehingga menambah risiko di tengah situasi yang masih belum terkendali.

Petugas menyatakan kebakaran di lahan kosong tersebut berhasil dikendalikan. Meski demikian, kejadian itu menunjukkan bahwa tawuran tidak hanya berpotensi mencederai orang yang terlibat secara langsung, tetapi juga dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar. Benda yang digunakan saat bentrokan dapat memicu kebakaran apabila mengenai material yang mudah terbakar.

Setelah menerima laporan mengenai bentrokan, personel Polsek Makassar mendatangi lokasi untuk membubarkan kedua kelompok. Polisi melakukan pendekatan persuasif dan meminta warga menahan diri agar situasi tidak semakin memburuk. Petugas juga berupaya mendorong kedua pihak meninggalkan lokasi dan menghentikan aksi saling serang.

Langkah pengamanan dilakukan untuk memulihkan keadaan sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya bentrokan susulan. Aparat tetap memantau kawasan tersebut setelah kelompok yang bertikai membubarkan diri. Pengawasan diperlukan karena konflik yang dipicu persoalan antarkelompok dapat kembali terjadi apabila pihak-pihak yang terlibat belum mampu mengendalikan emosi.

Peristiwa ini juga menjadi perhatian karena lokasi kejadian berada di kawasan yang digunakan masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Tawuran di ruang publik dapat mengganggu mobilitas warga, menimbulkan rasa tidak aman, serta membahayakan pengguna jalan yang kebetulan melintas ketika bentrokan berlangsung.

Selain penanganan langsung, upaya pencegahan perlu dilakukan untuk menghindari konflik serupa. Penyelesaian perselisihan melalui komunikasi, mediasi, dan keterlibatan tokoh masyarakat dapat menjadi langkah untuk meredakan ketegangan. Keluarga juga memiliki peran penting dalam mengingatkan anggota keluarga agar tidak ikut memperbesar konflik yang terjadi di lingkungan tempat tinggal.

Keterlibatan orang tua dalam situasi pertikaian seharusnya diarahkan untuk membantu menenangkan keadaan dan mencegah anak-anak terlibat dalam tindakan berbahaya. Membela anggota keluarga tidak berarti membenarkan kekerasan atau ikut menyerang pihak lain. Ketika konflik berkembang menjadi tawuran, keselamatan semua warga harus menjadi prioritas utama.

Di sisi lain, aparat penegak hukum perlu menelusuri penyebab perselisihan dan mengidentifikasi pihak yang diduga melakukan tindakan melanggar hukum. Setiap dugaan penggunaan senjata atau benda berbahaya harus ditangani berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.

Masyarakat di sekitar Jalan Abubakar Lambogo diharapkan tetap menjaga ketenangan dan tidak mudah terprovokasi oleh kabar maupun ajakan yang dapat memicu bentrokan. Apabila terjadi perselisihan, warga sebaiknya menghindari tindakan main hakim sendiri dan segera menghubungi aparat apabila situasi berpotensi membahayakan keselamatan.

Polisi menyatakan kondisi di lokasi telah berangsur kondusif setelah petugas melakukan pengamanan dan membubarkan kedua kelompok. Aparat juga melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan bentrokan kembali terjadi. Informasi lebih lanjut mengenai korban, pihak yang bertanggung jawab, dan perkembangan penanganan perkara perlu mengacu pada keterangan resmi kepolisian.

Peristiwa tawuran di Makassar ini menjadi pengingat bahwa konflik sosial dapat berkembang menjadi persoalan serius ketika tidak diselesaikan sejak awal. Saling ejek yang dianggap sepele dapat memicu kekerasan apabila disertai emosi dan dukungan dari kelompok masing-masing. Karena itu, kesadaran untuk menahan diri dan menyelesaikan persoalan melalui jalur damai menjadi hal penting dalam menjaga keamanan lingkungan.

Dengan kerja sama aparat, tokoh masyarakat, keluarga, dan warga setempat, diharapkan situasi keamanan di kawasan tersebut tetap terjaga. Upaya pencegahan yang konsisten diperlukan agar perselisihan tidak kembali berujung pada tawuran, penggunaan benda berbahaya, maupun kerusakan yang dapat merugikan masyarakat luas.

Jurnalis : Damara Rizky Elisyah

author avatar
Damara Rizky Elisyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !