TEP UNAIR Periksa 1.000 Sapi di Manokwari Lewat Posyandu Ternak Keliling

TEP UNAIR Periksa 1.000 Sapi di Manokwari Lewat Posyandu Ternak Keliling

MANOKWARI — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan pendampingan kesehatan dan reproduksi terhadap sekitar 1.000 ekor sapi milik peternak di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Kegiatan tersebut dilakukan melalui program Posyandu Ternak Keliling yang mendatangi langsung lokasi peternakan masyarakat.

Program tersebut menjadi bagian dari pendampingan TEP 13 UNAIR di kawasan transmigrasi Prafi. Tim yang dipimpin Prof. Dr. Erma Safitri, drh., M.Si., melakukan pemetaan kondisi ternak sekaligus memberikan edukasi kepada peternak mengenai kesehatan, reproduksi, pakan, sanitasi, dan pengelolaan ternak.

Pendataan awal mencakup sekitar 1.000 ekor sapi yang tersebar pada peternak di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, tim kemudian memprioritaskan sekitar 150 hingga 200 ekor sapi untuk mendapatkan pemantauan yang lebih intensif berdasarkan kondisi dan potensi ternaknya.

Melalui Posyandu Ternak Keliling, tim melakukan pendataan populasi, pemeriksaan kondisi kesehatan secara umum, pencatatan status reproduksi, serta pengisian kartu recording ternak. Kartu tersebut digunakan untuk mencatat identitas dan perkembangan masing-masing sapi agar kondisi ternak dapat dipantau secara berkala.

Selain kesehatan dan reproduksi, pencatatan juga mencakup bobot badan, Body Condition Score (BCS), riwayat pengobatan, serta kondisi pakan. Data tersebut diharapkan membantu peternak mengenali perubahan kondisi ternak lebih cepat dan menentukan langkah pemeliharaan berdasarkan informasi yang tercatat.

Dalam kegiatan di lapangan, tim menemukan sejumlah persoalan kesehatan pada sapi milik peternak. Beberapa ternak diketahui mengalami cacingan dan serangan parasit, termasuk caplak yang dapat mengganggu kondisi kesehatan hewan.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena sebagian peternak masih menerapkan sistem penggembalaan bebas. Sapi dibiarkan mencari pakan di kawasan ladang jagung maupun perkebunan sawit, sementara sebagian peternak lainnya memelihara ternak di dalam kandang.

Perbedaan pola pemeliharaan tersebut membuat kebutuhan pendampingan setiap peternak tidak selalu sama. Karena itu, tim melakukan pemetaan kondisi secara langsung agar rekomendasi mengenai kesehatan, pakan, sanitasi, dan pengelolaan ternak dapat disesuaikan dengan situasi di lapangan.

TEP UNAIR juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung kebutuhan pakan. Salah satu program yang dikembangkan adalah pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai bahan pakan alternatif melalui pengolahan menjadi silase. Program tersebut merupakan bagian dari konsep Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya.

Pemanfaatan limbah sawit diharapkan dapat memberikan alternatif sumber pakan sekaligus meningkatkan nilai guna limbah perkebunan yang tersedia di sekitar kawasan peternakan. Tim juga memberikan pendampingan mengenai pengelolaan pakan agar kebutuhan nutrisi sapi dapat lebih diperhatikan.

Aspek reproduksi menjadi bagian penting dalam pendampingan karena produktivitas peternakan tidak hanya ditentukan oleh jumlah sapi yang dimiliki. Pencatatan tanda-tanda reproduksi, perkawinan, kebuntingan, hingga kelahiran diperlukan untuk membantu peternak mengetahui perkembangan setiap indukan.

Selain memberikan pelayanan dan pemeriksaan, tim juga melakukan transfer pengetahuan kepada peternak serta kader ternak lokal. Kader tersebut diharapkan dapat membantu melanjutkan pemantauan setelah masa pendampingan TEP UNAIR selesai.

Pendampingan TEP UNAIR di Prafi dilaksanakan bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, penyuluh, kelompok peternak, serta pihak terkait lainnya. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun sistem peternakan yang lebih sehat, produktif, dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Program ini juga menjadi bagian dari pendampingan TEP UNAIR bersama Kementerian Transmigrasi yang berlangsung selama Agustus hingga November 2026. Fokusnya mencakup penguatan kapasitas peternak dan aparatur dalam pengembangan sapi potong, termasuk kesehatan, reproduksi, pakan, biosekuriti, serta pencatatan peternakan.

Dengan adanya Posyandu Ternak Keliling dan basis data kesehatan ternak, tim berharap peternak di Prafi dapat melakukan pemantauan secara lebih teratur. Sistem pencatatan tersebut juga diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan kesehatan dan produktivitas sapi.

Pendampingan ini tidak hanya diarahkan untuk menangani persoalan kesehatan ternak yang ditemukan saat pemeriksaan, tetapi juga membangun kemampuan peternak agar dapat mengenali masalah sejak dini. Dengan pengetahuan dan pencatatan yang lebih baik, pengelolaan peternakan diharapkan semakin efektif dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Jurnalis : Damara Rizky Elisyah

author avatar
Damara Rizky Elisyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !