KUNINGAN, – Elemen utama masyarakat Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, yang dipimpin para tokoh agama, ulama, pemuka masyarakat, dan perwakilan warga, secara bulat dan tegas menyatakan penolakan mutlak terhadap segala bentuk aktivitas, kehadiran, maupun rencana pengembangan yang berhubungan dengan Pondok Pesantren Al-Zaytun dan jajarannya di wilayah mereka. Senin 11 Mei 2026.

Sikap keras ini diambil sebagai langkah menjaga kemurnian ajaran agama, ketahanan sosial budaya, serta kestabilan tatanan kehidupan bermasyarakat yang telah terjalin kokoh dan harmonis selama ini.
Keputusan bulat ini dihasilkan dalam musyawarah besar yang digelar usai salat Jumat, di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Ciawigebang, Jumat (8/5/2026).
Pertemuan yang dihadiri puluhan ulama, ketua majelis taklim, pemuka adat, tokoh pemuda, dan perwakilan desa ini digelar merespons maraknya informasi dan kekhawatiran masyarakat mengenai rencana kehadiran serta aktivitas yang diduga akan dilakukan pimpinan Al-Zaytun, Panji Gumilang, beserta timnya di wilayah Kuningan, khususnya Ciawigebang.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Ciawigebang, KH. Muhsin Abdullah, selaku pemimpin forum, menegaskan bahwa penolakan ini bukan tanpa dasar, melainkan didasari rekam jejak panjang yang penuh kontroversi dan kekhawatiran mendalam atas dampak yang akan ditimbulkan. “Kita semua mengetahui betul dinamika dan polemik yang menyertai keberadaan Al-Zaytun selama ini.
Suara Warga Gantar: Kehadiran Al-Zaytun Penghidupan Ekonomi, Kyai Panji Gumilang Diminta Terus Berkarya INDRAMAYU – Di tengah riuh rendah penolakan dan polemik yang menyelimuti keberadaan Pondok Pesantren Al-Zaytun, terdengar suara berbeda yang datang langsung dari halaman terdekat. Warga Kecamatan Gantar, wilayah yang menjadi lokasi berdirinya lembaga pendidikan besar tersebut, justru menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh. Bagi warga setempat seperti Ibu Komariah, kehadiran Al-Zaytun bukanlah ancaman, melainkan berkah besar yang telah mengubah wajah wilayahnya, membangkitkan roda perekonomian, dan mengangkat nama Indramayu hingga ke kancah dunia. Menurut penuturan Ibu Komariah yang telah merasakan langsung dampak keberadaan ponpes tersebut, kehadiran Al-Zaytun membawa perubahan positif yang sangat nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Gantar. Ia mencontohkan momen yang selalu dinanti warga setiap tahunnya, tepatnya pada tanggal satu Suro atau pergantian tahun Jawa. Pada momentum besar itu, ribuan warga berbondong-bondong membuka lapak dagangan di sepanjang akses jalan hingga ke pintu gerbang pondok pesantren. “Setiap tanggal satu Suro, kami warga Gantar boleh berdagang di depan pintu Al-Zaytun. Alhamdulillah, dagangan kami selalu laris manis diserbu para tamu dan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru. Keuntungan yang kami dapatkan sangat berarti untuk kebutuhan keluarga,” ungkap Ibu Komariah dengan penuh rasa syukur. Pengalaman nyata inilah yang membuatnya merasa heran dan bertanya-tanya, mengapa ada pihak-pihak yang begitu tidak menyukai atau menolak keberadaan Al-Zaytun. Sebab, bagi warga Gantar, dampak yang dirasakan justru sangat jauh dari kata merugikan. Sebaliknya, lembaga ini dinilai telah menjadi motor penggerak yang menghidupkan denyut nadi wilayah yang dulunya sepi dan tertinggal. “Kami sangat heran, kenapa ada saja orang yang tidak suka dengan aktivitas Al-Zaytun. Padahal, berkat keberadaan pondok ini, nama Kabupaten Indramayu dikenal hingga ke seluruh dunia. Nama daerah kami terangkat tinggi, dan kami sebagai warga asli merasakan langsung manfaatnya,” tambahnya. Daerah Menjadi Hidup, Peluang Usaha Terbuka Lebar Lebih jauh, Ibu Komariah menjelaskan bahwa kehadiran ribuan santri, tenaga pendidik, serta tamu yang berdatangan setiap hari membuat kawasan Gantar menjadi ramai, hidup, dan berdenyut. Keramaian ini membuka peluang usaha tak terbatas bagi warga sekitar. Mulai dari usaha kuliner, perdagangan kebutuhan sehari-hari, jasa transportasi, hingga penyewaan tempat tinggal, semuanya tumbuh dan berkembang pesat seiring berjalannya aktivitas di dalam kompleks Al-Zaytun. Sebagai warga yang telah merasakan manfaat ekonomi secara nyata, Ibu Komariah pun menyampaikan pesan tulus dan dukungannya sepenuhnya kepada pimpinan pondok pesantren, Kyai Panji Gumilang. Ia berharap pendiri dan pemimpin besar itu tetap teguh, terus berkarya, dan tidak terpengaruh oleh suara-suara penolakan yang datang dari luar wilayah mereka. “Pesan kami kepada Bapak Kyai Panji Gumilang: teruslah berkarya dan membangun. Jangan hiraukan mereka yang tidak suka atau menolak keberadaan Al-Zaytun. Kami warga Gantar sudah merasakan sendiri buktinya. Berkat pondok ini, daerah kami jadi hidup, ramai, dan kami bisa membuka usaha apa saja untuk menghidupi keluarga. Intinya, Al-Zaytun adalah penggerak utama ekonomi kami, wong Gantar dan sekitarnya,” tegasnya mantap. Dua Sisi Pandangan, Satu Harapan Kesejahteraan Pernyataan Ibu Komariah ini menjadi bukti nyata bahwa keberadaan Al-Zaytun memiliki dua sisi pandangan yang berbeda. Jika dari luar banyak yang menyoroti sisi kontroversi dan perbedaan pemahaman, maka bagi warga lokal Gantar, Al-Zaytun adalah pilar ekonomi, identitas wilayah, dan sumber penghidupan yang tak tergantikan. Bagi masyarakat Gantar, keberadaan lembaga ini telah membuktikan bahwa pendidikan dan ekonomi bisa berjalan beriringan, membawa kemajuan yang merata. Dukungan yang mengalir dari warga sekitar menjadi kekuatan moral tersendiri, yang menegaskan bahwa di tengah segala polemik, ada ribuan warga yang berterima kasih dan berharap agar Al-Zaytun tetap berdiri kokoh, terus berkarya, dan membawa kesejahteraan yang lebih luas lagi bagi masyarakat Indramayu.Ada banyak hal yang dianggap menyimpang dari pemahaman ajaran Islam yang umum berlaku di tengah masyarakat kita, mulai dari penafsiran ayat suci Al-Qur’an yang dianggap keliru, praktik ibadah yang berbeda kaidah, hingga pemahaman akidah yang menimbulkan kegelisahan luas.
Kami tidak ingin nilai-nilai agama dan tradisi keislaman yang kita pelihara turun-temurun di Ciawigebang tergerus atau tercampur hal yang tidak sesuai syariat,” ujarnya dengan tegas.
Kekhawatiran kian menguat seiring beredarnya informasi bahwa pihak Al-Zaytun diduga sedang bergerak aktif mengumpulkan dokumen kepemilikan tanah, seperti Surat Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT), dengan target lahan sangat luas, diperkirakan mencapai 100 hingga 250 hektar yang tersebar di beberapa desa di Ciawigebang dan wilayah sekitarnya.
Meskipun diawali dengan alasan proyek ketahanan pangan, namun masyarakat dan para ulama sangat waspada. Modus serupa di tempat lain diketahui berujung pada pendirian pusat aktivitas tertutup yang sulit diawasi dan berpotensi menjadi sarana penyebaran pemahaman keagamaan yang berbeda.
“Kami tidak anti pembangunan atau investasi, namun yang kami tolak adalah kehadiran kelompok yang rekam jejak dan pemahaman agamanya masih dipertanyakan kebenarannya. Wilayah kami ini dikenal masyarakat agamis, taat pada syariat, dan hidup dalam kerukunan.
Kami bertekad menjaga itu agar tetap lestari, tidak boleh ada celah masuk paham atau pemahaman yang dapat memecah belah atau menyesatkan umat,” tambah KH. Muhsin.
Dalam pertemuan tersebut, seluruh elemen masyarakat hadir menyatakan dukungan penuh atas sikap MUI dan para ulama.
Perwakilan tokoh masyarakat menegaskan bahwa warga dari berbagai lapisan, mulai desa, pemuda, hingga kaum perempuan, telah satu suara: Ciawigebang menolak keras segala bentuk aktivitas Al-Zaytun.
Sikap ini disampaikan pula secara resmi kepada pemerintah kecamatan, kepolisian, dan unsur muspika agar menjadi perhatian bersama dan tidak memberikan izin maupun kemudahan apa pun bagi pihak terkait untuk beroperasi di wilayah hukum Ciawigebang.
Para tokoh juga berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan ketat di lapangan, meningkatkan sosialisasi ke warga, serta memperkuat pemahaman agama di tengah masyarakat agar tidak mudah terpengaruh tawaran atau ajakan yang berpotensi membawa dampak buruk.
Sikap tegas Ciawigebang ini menjadi cerminan kehati-hatian dan kewaspadaan umat dalam menjaga kemurnian ajaran agama serta kestabilan sosial. Penolakan ini bukan bentuk permusuhan, melainkan upaya suci menjaga identitas, nilai luhur, dan kedamaian yang telah menjadi ciri khas masyarakat Kuningan selama berabad-abad.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berkomitmen tetap kompak dan siap menjaga wilayahnya dari segala hal yang dapat mengganggu keharmonisan dan kebenaran ajaran agama.
Reporter by Rara Countributor Kuningan
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !