Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menyimpan jejak panjang perkembangan pendidikan Islam melalui keberadaan Pondok Pesantren Mojosari. Lembaga pendidikan Islam yang berada di wilayah Mojosari, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, ini dikenal sebagai salah satu pesantren tua di Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi pendidikan keagamaan. Keberadaannya menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah Islam sekaligus perkembangan pendidikan pesantren di Nusantara.
Pondok Pesantren Mojosari dikenal sebagai pesantren yang mempertahankan tradisi pendidikan Islam salaf. Sistem pembelajarannya berakar pada pengajaran ilmu-ilmu agama dengan penekanan pada pendalaman kitab-kitab klasik Islam. Tradisi tersebut menjadi salah satu ciri khas pesantren yang telah berkembang sejak berabad-abad lalu dan hingga kini masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Sejarah pendirian Pondok Pesantren Mojosari berkaitan dengan sosok As-Syeikh KH Az-Zahid Ali Imran, seorang ulama asal Bojonegoro. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa pesantren ini mulai dirintis pada awal abad ke-18, dengan tahun 1710 dan 1720 Masehi muncul dalam berbagai kisah mengenai proses pendiriannya. Perbedaan penyebutan tahun tersebut menunjukkan bahwa penelusuran sejarah pesantren perlu memperhatikan sumber yang digunakan.
Menurut kisah sejarah yang dirujuk dalam penelitian mengenai Pondok Pesantren Salafiyah Mojosari, KH Ali Imran merupakan menantu dari Kiai Syekh Salimin Awwal. Dalam perjalanan dakwahnya, ia mendapatkan tugas untuk mencari lokasi yang dapat digunakan sebagai tempat mendirikan pondok pesantren.
Lokasi yang kemudian dipilih berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Mojosari. Pada masa itu, tempat tersebut digambarkan masih dipenuhi pepohonan dan dianggap memiliki kondisi yang tidak mudah untuk dijadikan permukiman. KH Ali Imran disebut melakukan tirakat dan berpuasa sebelum memulai upaya membuka kawasan tersebut.
Kisah tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang melekat pada sejarah awal pendirian pesantren. Setelah melalui proses perintisan lokasi, kegiatan pendidikan dan pengajaran agama kemudian berkembang di kawasan tersebut. Pesantren Mojosari pun menjadi salah satu pusat pembelajaran Islam yang bertahan melewati berbagai perubahan zaman.
Cerita mengenai perjuangan pendirinya memperlihatkan bahwa pembangunan pesantren pada masa lalu tidak hanya berkaitan dengan pendirian bangunan fisik. Proses tersebut juga melibatkan pengabdian seorang ulama, penyebaran ajaran agama, serta pembentukan lingkungan yang mendukung kegiatan belajar para santri.
Salah satu hal yang membuat Pondok Pesantren Mojosari dikenal adalah tradisi pendidikan salaf yang menjadi bagian dari identitasnya. Pesantren salaf umumnya menitikberatkan pembelajaran pada ilmu-ilmu keislaman melalui pengajian kitab klasik, pembimbingan langsung oleh kiai, serta pembiasaan kehidupan santri yang dekat dengan kegiatan keagamaan.
Dalam tradisi pesantren, kitab kuning menjadi salah satu bahan utama untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, akidah, akhlak, tafsir, hadis, dan tata bahasa Arab. Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap sesuai dengan materi yang dipelajari dan bimbingan para pengajar.
Metode pengajaran tradisional juga dikenal melalui sistem sorogan dan bandongan. Dalam sorogan, santri membaca atau mempelajari materi di hadapan guru untuk mendapatkan koreksi secara langsung. Sementara itu, dalam bandongan, kiai membacakan dan menjelaskan isi kitab kepada para santri yang mengikuti pengajian bersama.
Tradisi pembelajaran semacam ini memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan keilmuan Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Santri tidak hanya diarahkan untuk memahami isi pelajaran, tetapi juga dibiasakan menghormati guru, menjaga kedisiplinan, serta menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Usia Pondok Pesantren Mojosari yang diperkirakan mencapai lebih dari tiga abad menjadikannya salah satu lembaga pendidikan Islam bersejarah di Jawa Timur. Keberadaan pesantren ini memperlihatkan bagaimana lembaga pendidikan berbasis masyarakat telah berkembang jauh sebelum sistem pendidikan modern terbentuk seperti sekarang.
Pada masa lalu, pesantren menjadi tempat masyarakat memperoleh pendidikan agama sekaligus ruang pembentukan karakter. Para santri datang untuk mempelajari ilmu keislaman, memperdalam pemahaman mengenai kehidupan beragama, dan mempersiapkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan.
Keberadaan pesantren yang bertahan selama ratusan tahun juga memperlihatkan pentingnya peran ulama dalam menjaga tradisi keilmuan. Melalui kegiatan pengajian dan pendidikan, pengetahuan agama diwariskan secara berkelanjutan serta menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat di berbagai daerah.
Meski demikian, penetapan usia suatu pesantren tetap perlu mempertimbangkan dokumen sejarah, catatan keluarga pendiri, arsip kelembagaan, dan hasil penelitian yang tersedia. Hal tersebut penting agar informasi mengenai tahun pendirian maupun perjalanan pesantren dapat disampaikan secara akurat kepada generasi berikutnya.
Sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, Pondok Pesantren Mojosari memiliki peran dalam membentuk generasi yang memahami ilmu agama dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat. Pendidikan pesantren pada umumnya tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap, tanggung jawab, kemandirian, dan kedisiplinan.
Kehidupan santri yang berlangsung dalam lingkungan pesantren memberikan kesempatan untuk membangun kebiasaan belajar secara teratur. Kegiatan mengaji, beribadah, mengikuti pengajaran, serta menjalankan aktivitas bersama menjadi bagian dari proses pendidikan yang membentuk keseharian mereka.
Selain memperoleh pengetahuan keagamaan, santri juga diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai yang dipelajari ketika kembali ke tengah masyarakat. Mereka dapat berperan dalam kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, dan berbagai aktivitas kemasyarakatan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Peran tersebut membuat pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial yang turut mendukung perkembangan masyarakat. Hubungan antara kiai, santri, alumni, dan warga sekitar menjadi salah satu unsur yang memperkuat keberadaan pesantren dalam perjalanan sejarah daerah.
Keberadaan Pondok Pesantren Mojosari menjadi pengingat bahwa sejarah pendidikan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran lembaga-lembaga keagamaan yang tumbuh di tengah masyarakat. Pesantren telah menjadi ruang pembelajaran, penyebaran pengetahuan, dan pembentukan karakter selama beberapa generasi.
Pelestarian sejarah pesantren dapat dilakukan melalui dokumentasi arsip, penelitian akademik, penulisan sejarah lokal, serta pengenalan tradisi pesantren kepada generasi muda. Upaya tersebut diperlukan agar perjalanan panjang lembaga pendidikan Islam tidak hanya dikenal melalui cerita lisan, tetapi juga didukung oleh dokumentasi yang dapat dipelajari secara luas.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola pendidikan, pesantren bersejarah menghadapi tantangan untuk mempertahankan identitas keilmuannya sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Penguatan kualitas pendidikan, pemeliharaan tradisi, serta pengelolaan kelembagaan yang baik menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pesantren.
Pondok Pesantren Mojosari di Nganjuk merupakan salah satu contoh lembaga pendidikan Islam yang memiliki akar sejarah panjang. Kisah pendiriannya, tradisi pendidikan salaf, dan perannya dalam kehidupan masyarakat menjadikan pesantren ini bagian dari khazanah sejarah pendidikan Islam di Jawa Timur yang patut terus dipelajari dan dilestarikan.
Jurnalis : Ghazy Fikri Izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !