Kebakaran Hutan Picu Penurunan Kualitas Udara di Sulawesi Selatan, PM2.5 Tembus 150 Mikrogram per Meter Kubik

Kebakaran Hutan Picu Penurunan Kualitas Udara di Sulawesi Selatan, PM2.5 Tembus 150 Mikrogram per Meter Kubik

Kualitas udara di Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya Kota Makassar dan wilayah sekitarnya, mengalami penurunan akibat meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut memicu penyebaran kabut asap dan meningkatkan konsentrasi partikel polutan di udara hingga mencapai kategori sangat tidak sehat pada pertengahan Oktober 2026.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, konsentrasi partikel halus PM2.5 di wilayah Maros dan sekitarnya dilaporkan menembus angka 150 mikrogram per meter kubik pada 13–14 Oktober 2026. Tingginya konsentrasi partikel tersebut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.

Penurunan kualitas udara sebenarnya telah terpantau sejak akhir September 2026. Kondisi tersebut kemudian berangsur memburuk hingga memasuki pertengahan Oktober. Selain kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, asap dari wilayah lain juga diduga berkontribusi terhadap meningkatnya pencemaran udara.

Kebakaran Hutan Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan, menjelaskan bahwa memburuknya kualitas udara dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan, baik di dalam maupun di luar wilayah Sulawesi Selatan.

Partikel hasil pembakaran dapat terbawa oleh pergerakan angin dan menyebar ke wilayah yang cukup jauh dari lokasi kebakaran. Dengan demikian, daerah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung tetap berpotensi terdampak oleh asap yang berasal dari wilayah lain.

Selain Makassar dan Maros, kondisi udara berkabut atau haze juga dilaporkan meluas ke sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Utara. Penyebaran tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak selalu terbatas pada daerah tempat api berasal, melainkan dapat memengaruhi kualitas udara di kawasan yang lebih luas.

BMKG juga mencatat bahwa pola dan arah angin berperan penting dalam menentukan pergerakan asap. Ketika angin bergerak dari wilayah yang mengalami kebakaran menuju Sulawesi Selatan, partikel polutan dapat terbawa hingga ke kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.

Di Sulawesi Selatan sendiri, kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Bantaeng, Pinrang, serta Enrekang. Kejadian tersebut turut menjadi perhatian karena menghasilkan asap yang berpotensi memperburuk kondisi udara di sekitarnya.

Konsentrasi Polusi Cenderung Meningkat pada Pagi dan Malam

Hasil pemantauan BMKG menunjukkan bahwa konsentrasi partikel polusi di wilayah Makassar dan sekitarnya mengalami perubahan sepanjang hari. Pada pertengahan Oktober, peningkatan konsentrasi PM2.5 terpantau terutama pada pagi dan malam hari.

Konsentrasi partikel polutan dilaporkan mencapai tingkat tinggi sekitar pukul 07.00–08.00 Wita dan kembali meningkat pada pukul 19.00–20.00 Wita. Data tersebut diperoleh melalui pemantauan di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan yang berada di Kabupaten Maros.

PM2.5 merupakan partikel polusi berukuran sangat kecil yang dapat melayang di udara dan masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Ukurannya yang kecil membuat partikel ini perlu mendapat perhatian khusus karena paparan dalam jumlah tinggi dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan.

Kondisi udara yang memburuk juga dapat mengurangi jarak pandang. BMKG menyebutkan bahwa dalam keadaan tertentu, jarak pandang di wilayah terdampak kabut asap berpotensi turun hingga kurang dari lima kilometer. Situasi tersebut perlu diwaspadai, terutama oleh pengguna jalan dan masyarakat yang melakukan perjalanan.

BMKG Belum Memastikan Kapan Kualitas Udara Membaik

BMKG menyatakan belum dapat memastikan kapan kondisi udara di Makassar dan sekitarnya akan kembali normal. Perbaikan kualitas udara sangat bergantung pada berkurangnya sumber polutan, perubahan pola angin, serta kondisi cuaca yang berlangsung di wilayah terdampak.

Hujan dapat membantu mengurangi sebagian partikel polutan yang berada di atmosfer melalui proses pencucian udara. Namun, efektivitasnya dipengaruhi oleh intensitas dan cakupan hujan serta kondisi sumber pencemaran yang masih berlangsung.

Dalam perkiraan yang disampaikan pada 14 Oktober 2026, hujan di Makassar dan sekitarnya diperkirakan mulai berpeluang terjadi pada akhir November hingga awal Desember 2026. Perkiraan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau perkembangan kondisi udara selama periode kering.

Selama sumber asap masih ada dan kondisi atmosfer belum mendukung penyebaran polutan secara optimal, kualitas udara berpotensi tetap memburuk. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak hanya memperhatikan kondisi langit yang terlihat berkabut, tetapi juga mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan resmi dari instansi terkait.

Masyarakat Diimbau Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Menghadapi kondisi kualitas udara yang masuk kategori sangat tidak sehat, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, khususnya ketika konsentrasi polutan sedang tinggi. Imbauan ini penting untuk mengurangi paparan partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu. Kelompok tersebut dapat lebih rentan mengalami dampak akibat paparan polusi udara dibandingkan masyarakat pada umumnya.

Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus dapat membantu mengurangi paparan. Masyarakat juga disarankan menghindari kegiatan fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk dan memilih tempat dengan udara yang lebih bersih apabila memungkinkan.

BMKG telah menyampaikan surat edaran kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan Wali Kota Makassar terkait kondisi kualitas udara tersebut. Koordinasi juga dilakukan bersama Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mendukung langkah penanganan dan perlindungan masyarakat.

Pemerintah Kota Makassar Siapkan Pembagian Masker Gratis

Pemerintah Kota Makassar turut mengambil langkah untuk mengantisipasi dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan warga. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menginstruksikan jajarannya agar menyiapkan masker gratis bagi masyarakat, terutama anak-anak sekolah dan kelompok rentan.

Instruksi tersebut ditujukan kepada Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan agar kebutuhan perlindungan bagi masyarakat dapat segera ditindaklanjuti. Pemerintah kota menaruh perhatian terhadap kondisi udara yang memburuk selama beberapa pekan terakhir akibat dampak kebakaran hutan dan lahan.

Penyediaan masker diharapkan dapat membantu mengurangi paparan polusi bagi warga yang harus menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain pembagian masker, penyampaian informasi mengenai kualitas udara dan edukasi kesehatan juga diperlukan agar masyarakat memahami langkah pencegahan yang tepat.

Upaya perlindungan tersebut menjadi semakin penting karena dampak polusi udara tidak selalu langsung dirasakan oleh setiap orang. Paparan partikel halus dapat memicu keluhan seperti batuk, iritasi saluran pernapasan, dan sesak napas, terutama pada individu yang rentan.

Waspadai Risiko Gangguan Pernapasan

Penurunan kualitas udara akibat kabut asap berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan memperburuk kondisi pada orang yang memiliki penyakit pernapasan. Risiko tersebut perlu diantisipasi selama konsentrasi polutan masih berada pada tingkat tinggi.

Masyarakat disarankan menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, mencukupi kebutuhan cairan, serta beristirahat dengan baik. Apabila muncul keluhan pernapasan atau kondisi kesehatan memburuk, warga sebaiknya segera mencari pertolongan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Selain langkah perlindungan individu, penanganan sumber kebakaran juga menjadi faktor penting untuk mengatasi persoalan tersebut. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan, penguatan pemantauan titik panas, serta penanganan kebakaran secara cepat diperlukan agar produksi asap tidak terus bertambah.

Kerja sama antara pemerintah daerah, instansi penanggulangan bencana, petugas pemadam kebakaran, dan masyarakat diperlukan untuk mengurangi dampak karhutla. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan memadamkan api, tetapi juga melindungi kesehatan warga dan menjaga kualitas lingkungan.

Penanganan Karhutla dan Perlindungan Warga Perlu Diperkuat

Kondisi udara yang memburuk di Sulawesi Selatan memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak lintas wilayah. Asap yang terbawa angin mampu mencapai kawasan perkotaan dan memengaruhi aktivitas masyarakat, meskipun sumber kebakaran berada jauh dari pusat permukiman.

Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pencegahan, pemantauan, pemadaman, serta pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran. Pada saat yang sama, informasi kualitas udara harus disampaikan secara jelas agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan sesuai kondisi terkini.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi udara di Makassar dan sekitarnya masih perlu diwaspadai selama konsentrasi PM2.5 berada pada tingkat tinggi. Masyarakat diharapkan mengikuti perkembangan informasi dari BMKG, Dinas Kesehatan, dan pemerintah daerah, serta membatasi paparan polusi selama kondisi belum membaik.

Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, dampak kabut asap terhadap kesehatan diharapkan dapat ditekan. Penanganan kebakaran secara serius dan perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan warga di tengah memburuknya kualitas udara di Sulawesi Selatan.

Jurnalis : Ghazy Fikri Izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !