WONOGIRI – Surutnya permukaan air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, akibat kemarau panjang kembali menyingkap jejak kehidupan masyarakat yang telah puluhan tahun terendam. Sejumlah makam kuno dengan ratusan batu nisan serta Jembatan Lengkong peninggalan era kolonial Belanda kini terlihat di sejumlah bagian dasar waduk yang sebelumnya tertutup air.
Fenomena tersebut menarik perhatian karena kawasan yang kini menjadi waduk dulunya merupakan permukiman penduduk. Ketika debit air menyusut, sejumlah peninggalan lama yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sebelum pembangunan waduk kembali terlihat. Benda-benda bersejarah itu sekaligus menjadi pengingat bahwa wilayah tersebut pernah menjadi tempat tinggal, bekerja, dan beraktivitas bagi banyak keluarga.
Salah satu lokasi yang kembali terlihat adalah kompleks pemakaman kuno di Dusun Sentono, yang dahulu merupakan bagian dari Desa Ngungkingsari, Kecamatan Wuryantoro. Ratusan batu nisan tampak bermunculan di area yang sebelumnya berada di bawah permukaan air. Sebagian besar batu nisan berbentuk sederhana, memanjang, dan berwarna putih menyerupai batu kapur atau batu keras berwarna terang.
Warga sekitar bernama Mardi mengatakan, makam tersebut mulai terlihat sejak awal September 2026. Seiring berkurangnya debit air waduk, bagian pemakaman yang sebelumnya masih tertutup air kini semakin jelas terlihat. Kondisi itu membuat keseluruhan area makam dapat dikenali, termasuk sisa-sisa struktur yang diperkirakan menjadi bagian dari pembatas kompleks pemakaman.
Jika dilihat dari kondisi fisiknya, kompleks makam tersebut memiliki area yang cukup luas. Tokoh masyarakat Kelurahan Wuryantoro, Suparso, yang berusia 77 tahun, memperkirakan luasnya mencapai sekitar setengah lapangan sepak bola. Ia menjelaskan bahwa tempat tersebut merupakan makam kampung yang digunakan oleh masyarakat Dusun Sentono sebelum kawasan itu menjadi bagian dari Waduk Gajah Mungkur.
Selain batu-batu nisan, sisa pondasi yang diduga merupakan tembok pembatas makam juga masih terlihat di bagian barat kompleks. Meski demikian, kondisi peninggalan tersebut telah mengalami perubahan setelah bertahun-tahun terendam air. Sebagian struktur tampak terbuka ketika dasar waduk mengering, sementara bagian lain masih dipengaruhi kondisi tanah dan aliran air di sekitarnya.
Kemunculan kembali makam kuno itu berkaitan erat dengan sejarah pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Proyek pembangunan waduk berlangsung pada 1976 hingga 1981, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pembangunan tersebut menyebabkan 51 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri harus ditenggelamkan untuk membentuk kawasan penampungan air.
Sebelum wilayah tersebut berubah menjadi waduk, masyarakat setempat menjalani kehidupan yang banyak bergantung pada sektor pertanian. Suparso menceritakan bahwa tanah di kawasan Desa Ngungkingsari dahulu dikenal subur. Warga menanam beragam komoditas, seperti sayuran, tomat, kacang-kacangan, dan singkong ketika musim kemarau, sedangkan sawah ditanami padi pada musim hujan.
Hasil pertanian masyarakat pada masa itu antara lain dipasarkan ke Pasar Wuryantoro. Kehidupan desa juga ditopang oleh kegiatan sosial dan tradisi masyarakat yang berlangsung secara turun-temurun. Namun, pembangunan waduk mengubah kondisi tersebut karena permukiman, lahan pertanian, serta sejumlah tempat yang menjadi bagian dari kehidupan warga akhirnya berada di bawah genangan air.
Desa Ngungkingsari sendiri memiliki sejumlah dukuh, antara lain Sentono, Badran, Ngungkingsari, Sawahan, Kertan, Duwet, Klupuk, Kelowong, dan Tumpang. Menurut penuturan Suparso, setiap dukuh dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Banyaknya penduduk dan luasnya kawasan permukiman menunjukkan bahwa wilayah yang kini terendam tersebut pernah menjadi lingkungan kehidupan masyarakat yang cukup besar.
Perubahan besar itu juga membuat banyak warga harus meninggalkan kampung halaman. Sebagian masyarakat menerima ganti rugi, sedangkan sebagian lainnya mengikuti program transmigrasi atau bedol desa ke sejumlah wilayah di Sumatera. Proses perpindahan tersebut berlangsung secara bertahap mulai 1979 hingga 1982, dengan tujuan antara lain Bengkulu, Baturaja di Sumatera Selatan, Sitiung di Sumatera Barat, serta Rimbo Bujang di Jambi.
Bagi warga yang pernah tinggal di kawasan tersebut, kemunculan kembali lokasi-lokasi lama saat waduk surut memiliki arti tersendiri. Mardi menyebutkan bahwa sejumlah orang yang diduga merupakan mantan penduduk atau keturunan warga desa yang ditenggelamkan pernah datang untuk melihat kembali kawasan tersebut. Kunjungan itu menjadi semacam napak tilas untuk mengenang tempat tinggal dan lingkungan yang dahulu mereka kenal.
Dampak pembangunan waduk juga dirasakan oleh Suparso yang ketika itu berprofesi sebagai dalang sekaligus guru bahasa Jawa. Ia kehilangan wilayah tempat mencari penghasilan karena sejumlah desa yang sebelumnya menjadi lokasi kegiatan kesenian dan hajatan masyarakat ikut tenggelam. Acara seperti khitanan, pernikahan, bersih desa, dan tradisi ruwahan dahulu menjadi bagian dari aktivitas yang menghubungkannya dengan warga setempat.
Jembatan Lengkong Peninggalan Era Kolonial Kembali Terlihat
Tidak hanya kompleks pemakaman, surutnya Waduk Gajah Mungkur juga menyingkap kembali Jembatan Lengkong yang telah puluhan tahun terendam. Jembatan tersebut dikenal sebagai peninggalan era kolonial Belanda dan dahulu berfungsi menghubungkan wilayah Kecamatan Wuryantoro dengan kawasan Kota Wonogiri.
Suparso menjelaskan bahwa jembatan itu sudah ada sejak zaman Belanda. Ketika debit air waduk turun drastis, sebagian struktur jembatan kembali terlihat di atas permukaan. Meski demikian, kondisinya belum sepenuhnya terbuka karena masih terdapat bagian yang tertutup air dan lumpur. Jalan yang dahulu terhubung dengan jembatan juga mulai terlihat dari kedua sisi.
Warga setempat bernama Sugimin menerangkan bahwa ketika kondisi waduk normal, jembatan tersebut biasanya terendam air dengan kedalaman lebih dari enam meter. Saat kemarau panjang menyebabkan permukaan air menyusut, bagian jembatan mulai dapat dijangkau. Bahkan, sejumlah pemancing terlihat berjalan di bagian yang sudah muncul dari genangan.
Namun, kemunculan jembatan itu tidak berarti seluruh strukturnya aman untuk dilalui. Sugimin menyebutkan bahwa sebagian bagian jembatan masih tertutup air dengan ketinggian sekitar satu meter. Di bawahnya juga terdapat bekas aliran sungai yang cukup dalam, sehingga kondisi tersebut berpotensi membahayakan apabila dilalui kendaraan.
Saat ini, kawasan di sekitar Jembatan Lengkong dimanfaatkan sebagian warga untuk memancing. Sejumlah kapal nelayan juga terlihat bersandar di area yang mulai mengering. Aktivitas tersebut berlangsung di tengah perubahan bentang alam waduk yang memperlihatkan kembali struktur lama yang selama ini tidak terlihat dari permukaan.
Surutnya Waduk Gajah Mungkur memperlihatkan bahwa dasar waduk menyimpan jejak sejarah permukiman, mata pencaharian, dan kehidupan sosial masyarakat Wonogiri pada masa lalu. Makam kuno dan Jembatan Lengkong menjadi dua contoh peninggalan yang kembali terlihat akibat berkurangnya debit air. Bagi mantan penduduk dan keturunannya, kemunculan tersebut membuka kesempatan untuk mengenang kampung halaman, sedangkan kondisi jembatan dan kawasan sekitarnya tetap perlu diperhatikan karena tidak seluruh bagian yang muncul aman untuk diakses.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !