Fenomena kulminasi matahari kembali menjadi perhatian masyarakat, khususnya warga Surabaya, Jawa Timur. Peristiwa astronomi yang juga dikenal dengan istilah hari tanpa bayangan ini terjadi ketika posisi Matahari mencapai titik tertinggi di langit dan berada hampir tepat di atas kepala pengamat. Fenomena tersebut berlangsung pada waktu yang berbeda-beda di setiap wilayah, bergantung pada letak geografis masing-masing daerah.
Pada Senin, 12 Oktober 2026, Kota Surabaya mengalami fenomena kulminasi matahari sekitar pukul 11.15 WIB. Peristiwa ini kerap dikaitkan dengan kondisi cuaca yang terasa lebih terik, terutama ketika masyarakat melakukan aktivitas di luar ruangan menjelang siang hari. Namun, muncul pertanyaan apakah kulminasi matahari benar-benar menjadi penyebab utama meningkatnya suhu udara atau hanya membuat paparan sinar Matahari terasa lebih kuat.
Kulminasi matahari merupakan fenomena ketika Matahari mencapai posisi tertinggi dalam lintasan semunya di langit pada suatu wilayah. Dalam kondisi tertentu, Matahari dapat berada tepat di atas kepala pengamat atau di titik yang disebut zenit. Ketika hal tersebut terjadi, bayangan benda yang berdiri tegak akan terlihat sangat pendek, bahkan seolah-olah menghilang untuk sesaat.
Fenomena hari tanpa bayangan dapat terjadi di Indonesia karena letak geografis negara ini berada di antara garis balik utara dan garis balik selatan. Posisi tersebut memungkinkan Matahari berada tepat di atas suatu wilayah pada waktu-waktu tertentu sepanjang tahun. Karena perbedaan garis lintang dan posisi geografis, waktu terjadinya kulminasi di setiap kota tidak selalu sama.
Peristiwa ini berkaitan dengan gerak semu tahunan Matahari yang dipengaruhi oleh revolusi Bumi serta kemiringan sumbu rotasinya. Sepanjang tahun, posisi Matahari jika diamati dari Bumi seolah-olah bergeser dari utara ke selatan dan kembali lagi ke utara. Pergerakan semu inilah yang menyebabkan sejumlah wilayah Indonesia mengalami kulminasi dalam dua periode berbeda setiap tahunnya.
Berdasarkan informasi yang diberitakan mengenai jadwal kulminasi tahun 2026, fenomena tersebut terjadi di Surabaya pada Senin, 12 Oktober 2026, sekitar pukul 11.15.43 WIB. Waktu tersebut menunjukkan saat Matahari mencapai posisi kulminasi di wilayah Kota Surabaya.
Secara umum, kulminasi matahari di Indonesia pada 2026 berlangsung dalam dua periode. Periode pertama terjadi pada 21 Februari hingga 5 April, sedangkan periode kedua berlangsung pada 21 September sampai 21 Oktober. Rentang waktu ini tidak berarti seluruh daerah mengalami kulminasi secara bersamaan karena masing-masing wilayah mempunyai jadwal tersendiri.
Perbedaan waktu tersebut dipengaruhi oleh letak lintang dan bujur suatu daerah. Oleh karena itu, masyarakat yang ingin mengetahui waktu kulminasi di wilayahnya perlu memperhatikan jadwal yang diterbitkan oleh instansi terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kulminasi matahari sering dihubungkan dengan peningkatan suhu udara karena sinar Matahari dapat diterima secara lebih tegak dibandingkan ketika Matahari berada pada sudut yang lebih rendah. Kondisi ini dapat meningkatkan intensitas penyinaran yang diterima permukaan Bumi, sehingga lingkungan terbuka terasa lebih terik pada waktu tertentu.
Meskipun demikian, terjadinya kulminasi tidak secara otomatis membuat suhu udara melonjak secara drastis. Kondisi panas di suatu wilayah dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tutupan awan, kelembapan udara, kondisi atmosfer, serta karakteristik lingkungan setempat. Dengan demikian, fenomena kulminasi perlu dibedakan dari faktor-faktor meteorologis yang menentukan perubahan suhu harian.
Dalam pemberitaan detikJatim, JF Ahli Muda BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Andang Kurniawan, menjelaskan bahwa fenomena El Nino berkaitan dengan peningkatan suhu di wilayah Jawa Timur. Kondisi iklim tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika membahas cuaca panas, selain pengaruh penyinaran Matahari dan keadaan atmosfer pada hari tertentu.
Tingginya intensitas sinar Matahari juga dapat membuat aktivitas di luar ruangan terasa kurang nyaman. Apabila kelembapan udara tinggi, proses penguapan keringat dari permukaan kulit dapat berlangsung lebih lambat sehingga tubuh terasa semakin gerah. Karena itu, tingkat kenyamanan saat cuaca panas tidak hanya ditentukan oleh angka suhu udara, tetapi juga oleh kelembapan dan kondisi lingkungan.
Masyarakat tetap disarankan memperhatikan kondisi tubuh ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari. Memenuhi kebutuhan cairan, mencari tempat teduh ketika cuaca terasa sangat panas, serta mengurangi kegiatan berat di bawah paparan Matahari merupakan langkah sederhana untuk membantu menjaga kenyamanan dan kesehatan.
Penggunaan pakaian yang nyaman dan tabir surya juga dapat membantu melindungi kulit saat harus beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, masyarakat sebaiknya memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG agar dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi cuaca setempat.
Fenomena kulminasi matahari merupakan peristiwa astronomi yang terjadi secara berkala dan dapat diamati melalui perubahan panjang bayangan benda. Meski sering dikaitkan dengan cuaca yang lebih panas, fenomena ini bukan satu-satunya penentu suhu udara. Kondisi atmosfer, kelembapan, tutupan awan, serta dinamika iklim tetap berperan dalam menentukan seberapa terik cuaca yang dirasakan masyarakat.
Dengan memahami penyebab dan karakteristik kulminasi matahari, masyarakat diharapkan dapat membedakan fenomena astronomi dari faktor cuaca yang memengaruhi suhu harian. Warga Surabaya juga dapat menjadikan informasi dari BMKG sebagai acuan untuk memahami perkembangan cuaca dan mempersiapkan aktivitas sehari-hari secara lebih bijak.
Jurnalis : Wafiq Qodriyatussoleha
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !