Lampung Selatan — Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Selasa (8/9/2026) pagi. Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, gunung api yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan tersebut tercatat mengalami dua kali erupsi dalam rentang waktu kurang dari satu jam.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.08 WIB. Aktivitas tersebut terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 47 milimeter dan berlangsung selama sekitar 15 detik.
Selang sekitar 26 menit kemudian, erupsi kembali terjadi pada pukul 05.34 WIB. Erupsi kedua memiliki amplitudo maksimum 44 milimeter dengan durasi sekitar 10 detik.
Kedua kejadian tersebut tidak dapat diamati secara visual dari pos pemantauan. Kondisi Gunung Anak Krakatau saat pengamatan tertutup kabut sehingga tinggi kolom erupsi maupun bentuk letusan tidak terlihat.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menyampaikan bahwa kondisi cuaca di sekitar gunung pada pagi hari berada dalam keadaan berawan hingga mendung. Angin terpantau bergerak dengan kecepatan lemah menuju arah utara dan barat laut.
Selain dua kali gempa letusan atau erupsi, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau juga masih menunjukkan dinamika. Petugas mencatat 15 kali gempa low frequency dengan amplitudo antara 19 hingga 44 milimeter dan durasi tiga sampai 18 detik.
Pemantauan juga mencatat sebanyak 11 kali gempa hybrid atau fase banyak. Gempa tersebut memiliki amplitudo 19 hingga 47 milimeter dengan durasi sekitar empat sampai 16 detik.
Sementara itu, satu kali gempa tremor menerus turut tercatat dalam periode pengamatan. Amplitudonya berada pada kisaran tiga hingga 10 milimeter dengan amplitudo dominan sekitar lima milimeter.
Secara umum, kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau terpantau berawan hingga mendung. Suhu udara berada pada kisaran 25,9 hingga 26,3 derajat Celsius, sedangkan tingkat kelembapan tercatat sekitar 81 hingga 84 persen.
Aktivitas tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Episode erupsi panjang itu berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9) dini hari sebelum aktivitasnya kembali berubah menjadi letusan berkala.
Badan Geologi sebelumnya menjelaskan bahwa meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih harus dipantau secara ketat. Tingkat kegempaan yang masih tinggi menunjukkan bahwa potensi terjadinya erupsi kembali tetap ada.
Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gunung api serta potensi dampaknya terhadap wilayah sekitar.
Badan Geologi mengingatkan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Aktivitas masyarakat dilarang dilakukan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Imbauan tersebut dikeluarkan sebagai langkah pencegahan mengingat aktivitas vulkanik masih berlangsung. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak juga diminta mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, pemerintah daerah, dan BPBD setempat.
Warga juga diingatkan untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Perkembangan kondisi gunung dapat berubah sehingga informasi resmi menjadi acuan utama dalam menentukan langkah keselamatan.
Pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau terus dilakukan melalui pos pengamatan dan instrumen kegempaan. Data yang terkumpul menjadi dasar bagi petugas untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas vulkanik dan menentukan langkah mitigasi yang diperlukan.
Dengan masih berlangsungnya aktivitas erupsi, masyarakat di sekitar Selat Sunda diharapkan tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Kepatuhan terhadap batas aman dan arahan petugas menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !