Kisah Waled NU Bangun Pesantren untuk Anak Korban Konflik dan Tsunami Aceh

 

Kisah Waled NU Bangun Pesantren untuk Anak Korban Konflik dan Tsunami Aceh

Sosok Tgk KH Nuruzzahri Yahya atau yang akrab disapa Waled NU memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan Islam dan kehidupan santri di Aceh. Jauh sebelum dikenal luas dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), ulama asal Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, tersebut telah memberikan perhatian besar terhadap anak-anak yang kehilangan orang tua akibat konflik dan bencana.

Kepedulian itu diwujudkan melalui pendirian Dayah Ummul Ayman pada 1990. Pada awalnya, lembaga tersebut bukanlah pesantren besar seperti sekarang, melainkan sebuah tempat pengasuhan yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat konflik dan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Kondisi konflik pada masa itu membuat banyak keluarga tercerai-berai dan menyebabkan sejumlah anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kehidupan serta pendidikan yang layak.

Waled NU kemudian berinisiatif menyediakan tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai rumah bagi anak-anak tersebut, tetapi juga menjadi ruang untuk mendapatkan pendidikan agama dan membangun kembali kehidupan mereka. Nama Ummul Ayman dipilih dengan mengambil nama salah seorang pengasuh Nabi Muhammad SAW. Lembaga itu diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak yatim agar mereka tidak terlantar dan tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh serta memperoleh pendidikan.

Membangun lembaga pendidikan dalam kondisi yang serba terbatas bukan perkara mudah. Pada awal pendiriannya, Waled NU memilih sebuah lahan di sebelah timur kediamannya. Area tersebut ketika itu merupakan lahan terbengkalai yang dipenuhi ilalang dan kerap digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Kondisi tanahnya pun cukup rendah sehingga membutuhkan pekerjaan tambahan sebelum dapat dimanfaatkan sebagai lokasi bangunan.

Dengan bantuan masyarakat, lahan tersebut diuruk secara bertahap hingga akhirnya dapat digunakan untuk mendirikan bangunan sederhana di atas tanah wakaf seluas sekitar 300 meter persegi. Bangunan tersebut kemudian menjadi tempat pertama bagi anak-anak korban konflik untuk tinggal sekaligus belajar mengaji.

Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para santri. Mereka menjalani kegiatan sehari-hari secara sederhana, mulai dari belajar agama, memasak hingga makan bersama. Ketika hujan deras turun, lingkungan sekitar bangunan bahkan kerap tergenang. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan kegiatan pendidikan yang terus berlangsung.

Jumlah anak yang datang ke Ummul Ayman kemudian terus bertambah. Para santri berasal dari berbagai wilayah di Aceh, termasuk daerah yang turut terdampak konflik. Bagi Waled NU, anak-anak tersebut tidak hanya membutuhkan tempat tinggal, tetapi juga membutuhkan pendidikan, pendampingan, serta lingkungan yang dapat memberikan rasa aman setelah mengalami kehilangan akibat konflik.

Dari Panti Asuhan Berkembang Menjadi Pesantren

Pada 1991, Ummul Ayman berkembang menjadi sebuah yayasan. Seiring berjalannya waktu, lembaga tersebut tidak hanya menyediakan pengasuhan bagi anak-anak yatim, tetapi juga mengembangkan pendidikan formal dan pendidikan keagamaan. Dari sinilah Ummul Ayman kemudian tumbuh menjadi lembaga yang memadukan sistem pendidikan umum dengan tradisi pendidikan dayah.

Para santri mendapatkan pendidikan agama sebagai bagian penting dari kehidupan pesantren, sekaligus memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan formal. Perpaduan tersebut menjadi salah satu karakter pendidikan yang dikembangkan Waled NU. Ia ingin memastikan para santri memiliki bekal keagamaan sekaligus kemampuan akademik untuk menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.

Prinsip tersebut kemudian dikenal melalui ungkapan “menyekolahkan santri, bukan menyantrikan siswa”. Gagasan itu menggambarkan upaya agar pendidikan pesantren dan pendidikan umum dapat berjalan beriringan tanpa menghilangkan karakter keislaman yang menjadi dasar lembaga tersebut.

Ujian Besar Setelah Tsunami Aceh

Perjalanan Ummul Ayman kembali menghadapi tantangan besar ketika tsunami melanda Aceh pada Desember 2004. Bencana tersebut menyebabkan banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya dan meninggalkan persoalan sosial yang besar, terutama bagi anak-anak yang kehilangan orang tua.

Dalam situasi tersebut, Ummul Ayman kembali menjadi tempat bagi anak-anak korban bencana. Puluhan anak perempuan yang kehilangan orang tua akibat tsunami ditampung meskipun saat itu lembaga tersebut belum memiliki asrama khusus bagi santriwati. Sekitar 40 anak perempuan bahkan sempat tinggal di rumah Waled NU.

Keterbatasan ruang membuat dua kamar di rumah tersebut dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sekaligus ruang belajar. Jumlah santriwati kemudian terus meningkat hingga mencapai sekitar 80 orang dalam waktu kurang lebih satu tahun. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap fasilitas baru semakin mendesak.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Waled NU kemudian membeli lahan sekitar tiga hektare di sebelah selatan kompleks putra. Lahan itu dipersiapkan untuk pengembangan fasilitas pendidikan dan pembangunan asrama bagi para santriwati. Hingga 2007, jumlah santriwati yang masih berusia anak-anak telah mencapai sekitar 100 orang.

Ummul Ayman juga tidak hanya menerima anak yatim. Anak-anak yang masih memiliki orang tua tetap dapat memperoleh pendidikan di lembaga tersebut dengan membayar biaya makan bulanan. Mekanisme itu secara tidak langsung turut membantu keberlangsungan kehidupan anak-anak yatim yang tinggal dan belajar di pesantren.

Dedikasi Panjang untuk Pendidikan

Perjalanan Waled NU menunjukkan bagaimana lembaga pendidikan dapat tumbuh dari kepedulian terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat. Dari sebuah tempat sederhana untuk menampung anak-anak korban konflik, Ummul Ayman berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menggabungkan pengasuhan, pendidikan agama, dan pendidikan umum.

Dedikasi tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan Waled NU di lingkungan Nahdlatul Ulama. Namanya semakin dikenal setelah memperoleh dukungan besar dalam proses pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 NU. Dalam proses tersebut, Waled NU memperoleh 477 suara dan berada di posisi kedua dari sembilan kiai yang masuk dalam tim AHWA.

Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bahwa kiprah Waled NU tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan, tetapi juga dengan pendidikan dan pengabdian sosial. Selama puluhan tahun, ia berusaha memastikan anak-anak yang kehilangan orang tua tetap memiliki kesempatan untuk belajar, tinggal di lingkungan yang aman, dan membangun masa depan.

Kisah Ummul Ayman menjadi salah satu contoh bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk membantu masyarakat bangkit dari situasi sulit. Ketika konflik dan bencana membuat banyak anak kehilangan keluarga serta kehidupan yang sebelumnya mereka miliki, keberadaan lembaga pendidikan dan pengasuhan menjadi sangat penting untuk memberikan pendampingan dan harapan baru.

Kini, perjalanan panjang tersebut menjadi bagian penting dari kiprah Waled NU sebagai ulama dan tokoh pendidikan asal Aceh. Dedikasinya dalam membangun Ummul Ayman menunjukkan bahwa perhatian terhadap anak-anak korban konflik dan bencana dapat diwujudkan melalui kerja nyata, pendidikan, serta pengabdian yang dilakukan secara berkelanjutan.

Jurnalis : Ghazy fikri izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !