Cekcok Antarwarga di Kota Batu Gegara Bakar Sampah Berakhir Damai, Kedua Pihak Sepakat Saling Memaafkan

Cekcok Antarwarga di Kota Batu Gegara Bakar Sampah Berakhir Damai, Kedua Pihak Sepakat Saling Memaafkan

Kisruh antara dua warga yang dipicu aktivitas pembakaran sampah di Kota Batu, Jawa Timur, akhirnya menemui titik terang. Perselisihan yang sebelumnya menjadi perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial tersebut diselesaikan melalui proses mediasi yang difasilitasi oleh kepolisian. Kedua pihak sepakat mengakhiri konflik dan berkomitmen untuk tidak memperpanjang persoalan yang sempat memanas di lingkungan tempat tinggal mereka.

Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Lesti, RT 05 RW 03, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu. Perselisihan melibatkan Novrinia Indraswari, warga yang merekam dan mengunggah video kejadian ke media sosial, serta Dewa Bahari Arawana, tetangganya yang melakukan pembakaran sampah. Persoalan bermula ketika asap dari aktivitas pembakaran tersebut masuk ke rumah Novrinia dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan bayinya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Batu, AKP Zaenal Arifin, menjelaskan bahwa mediasi antara kedua belah pihak telah dilaksanakan di Polres Batu pada Kamis, 8 Oktober 2026. Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh pihak-pihak yang berselisih, masing-masing didampingi kuasa hukum. Kepolisian memfasilitasi pertemuan itu sebagai upaya mencari penyelesaian terbaik agar konflik tidak terus berlanjut.

Dalam proses mediasi, kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Mereka menyadari bahwa permasalahan tersebut perlu diakhiri dan tidak seharusnya terus berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Kesepakatan itu mencakup persoalan pembakaran sampah yang mengganggu tetangga maupun dampak dari penyebaran video pertengkaran di media sosial.

Sepakat Tidak Mengulangi Perbuatan yang Memicu Perselisihan

Sebagai bagian dari penyelesaian konflik, Dewa Bahari Arawana menyatakan kesediaannya untuk tidak kembali melakukan pembakaran sampah yang memicu keberatan tetangganya. Ia juga berkomitmen membuang sampah ke tempat pembuangan sampah (TPS) sebagai alternatif yang lebih tepat dibandingkan membakar sampah di lingkungan permukiman.

Sementara itu, Novrinia Indraswari bersedia menghapus video pertengkaran yang sebelumnya diunggah ke media sosial. Langkah tersebut menjadi bagian dari kesepakatan bersama untuk mengakhiri persoalan dan mengurangi dampak yang ditimbulkan terhadap masing-masing pihak. Kepolisian berharap kesepakatan tersebut benar-benar dijalankan sehingga hubungan bertetangga dapat kembali terjaga.

Zaenal Arifin menyampaikan bahwa mediasi dilakukan dengan mengedepankan penyelesaian yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Dengan adanya kesepakatan tersebut, masing-masing pihak diharapkan dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi dan lebih berhati-hati dalam menyikapi persoalan di lingkungan tempat tinggal.

Kesepakatan damai tersebut juga berdampak terhadap proses hukum yang sebelumnya muncul. Pihak Dewa memastikan akan mencabut laporan dugaan pencemaran nama baik terhadap Novrinia yang telah diajukan ke Polres Batu. Rencana pencabutan laporan itu menjadi bagian dari upaya kedua belah pihak untuk menutup perselisihan dan tidak melanjutkan konflik ke tahapan yang lebih jauh.

Berawal dari Asap Pembakaran yang Masuk ke Rumah Tetangga

Sebelum berakhir damai, peristiwa tersebut menjadi sorotan setelah sebuah video pertengkaran antarwarga beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, terlihat seorang pria mengenakan kaus hitam sedang membakar sampah di sebuah lahan. Aktivitas tersebut kemudian mendapat teguran dari Novrinia Indraswari karena asap pembakaran masuk ke rumahnya.

Novrinia diketahui memiliki bayi yang baru saja menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisi tersebut membuatnya khawatir apabila asap dari pembakaran sampah berdampak terhadap kesehatan sang anak. Kekhawatiran itulah yang kemudian mendorongnya meminta agar aktivitas pembakaran dihentikan.

Pada awalnya, Novrinia mengaku telah menyampaikan teguran secara baik-baik. Ia juga memahami bahwa lahan tempat pembakaran merupakan milik tetangganya. Namun, menurut keterangannya, meskipun permintaannya sempat diiyakan, api pembakaran tidak kunjung dipadamkan sehingga ia kembali menyampaikan keberatan.

Teguran berikutnya kemudian berkembang menjadi perselisihan setelah respons yang diterima dinilai tidak sesuai harapan. Situasi yang semula berkaitan dengan gangguan asap berubah menjadi cekcok antara dua tetangga. Novrinia merekam kejadian tersebut, kemudian mengunggahnya ke media sosial hingga menarik perhatian banyak pengguna internet.

Setelah video itu viral, persoalan semakin meluas dan memunculkan perhatian masyarakat terhadap hubungan bertetangga, dampak pembakaran sampah, serta penggunaan media sosial ketika terjadi konflik. Upaya penyelesaian sempat diinisiasi oleh pihak kelurahan setempat, tetapi pada tahap awal belum membuahkan hasil yang diharapkan.

Kepolisian Fasilitasi Penyelesaian secara Kekeluargaan

Setelah upaya sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan, kepolisian kembali memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak. Mediasi di Polres Batu akhirnya menghasilkan kesepahaman yang mencakup komitmen untuk tidak mengulangi perbuatan yang memicu konflik, kesediaan menghapus video, serta rencana pencabutan laporan dugaan pencemaran nama baik.

Penyelesaian tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi dan kesediaan setiap pihak untuk mencari jalan keluar ketika terjadi perselisihan di lingkungan masyarakat. Permasalahan sehari-hari dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar apabila tidak ditangani secara tepat, terlebih ketika persoalan pribadi kemudian tersebar luas melalui media sosial.

Kepolisian berharap kesepakatan yang telah dicapai dapat menjadi akhir dari perselisihan tersebut. Selain menyelesaikan persoalan yang sudah terjadi, kedua warga diharapkan dapat kembali menjaga hubungan bertetangga dan menghormati kepentingan masing-masing agar situasi lingkungan tetap aman serta kondusif.

Pentingnya Kesadaran dalam Mengelola Sampah di Permukiman

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah di kawasan permukiman perlu dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan warga sekitar. Pembakaran sampah dapat menghasilkan asap dan partikel yang berpotensi mengganggu kualitas udara, terutama apabila asap masuk ke dalam rumah atau mengenai kelompok yang lebih rentan, seperti bayi dan anak-anak.

Membuang sampah melalui fasilitas yang tersedia, termasuk tempat pembuangan sampah, dapat menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan membakarnya di lingkungan tempat tinggal. Selain membantu mengurangi gangguan asap, kebiasaan tersebut juga dapat mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan nyaman bagi seluruh warga.

Di sisi lain, komunikasi yang tenang ketika menyampaikan keberatan juga berperan penting dalam mencegah konflik. Warga perlu berupaya menyelesaikan perbedaan melalui dialog, musyawarah, atau bantuan pihak berwenang apabila diperlukan. Penggunaan media sosial sebaiknya dilakukan secara bijak dengan tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap privasi dan hubungan antarwarga.

Berakhirnya perselisihan di Jalan Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kota Batu, diharapkan menjadi momentum bagi kedua pihak untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Kesepakatan damai tersebut sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap tetangga, serta penyelesaian masalah melalui komunikasi merupakan hal penting untuk menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Jurnalis : Ghazy Fikri Izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !