A
BANJARMASIN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi persoalan serius yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Selain meningkatkan risiko gangguan kesehatan, paparan asap yang berlangsung dalam waktu lama juga berpotensi memengaruhi kondisi psikologis warga, mulai dari munculnya stres hingga kecemasan akibat terganggunya aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan pencemaran udara dan kesehatan fisik. Ketika kabut asap terus menyelimuti lingkungan tempat tinggal, masyarakat harus menghadapi berbagai keterbatasan dalam menjalankan rutinitas, baik untuk bekerja, bersekolah, maupun melakukan kegiatan sosial di luar rumah. Situasi yang berlangsung berulang kali dapat menambah beban pikiran, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah dengan kualitas udara buruk.
Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa kabut asap berkepanjangan dapat memicu stres dan kecemasan karena aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, serta pekerjaan masyarakat terganggu. Dampak psikologis tersebut perlu mendapatkan perhatian yang sama pentingnya dengan penanganan gangguan kesehatan fisik akibat paparan asap.
Ketika masyarakat harus membatasi kegiatan di luar ruangan, kekhawatiran terhadap kesehatan diri sendiri dan keluarga juga dapat meningkat. Orang tua, misalnya, perlu memikirkan keselamatan anak-anak ketika beraktivitas di luar rumah. Sementara itu, para pekerja dan pelaku usaha menghadapi tantangan untuk tetap menjalankan kegiatan ekonomi di tengah kondisi lingkungan yang kurang mendukung.
Kabut asap yang terus berulang juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Warga mungkin harus mengubah jadwal kegiatan, mengurangi aktivitas luar ruangan, atau menyesuaikan rutinitas keluarga demi menghindari paparan asap. Apabila situasi tersebut berlangsung lama, tekanan yang dirasakan masyarakat berpotensi semakin besar, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam mengakses tempat dengan udara lebih bersih.
Dari sisi kesehatan fisik, paparan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, gangguan pernapasan, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit tertentu. Partikel pencemar yang terkandung dalam asap juga menjadi perhatian karena dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama apabila paparan terjadi secara berulang dalam jangka waktu panjang.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, membutuhkan perhatian lebih. Selain perlindungan terhadap gangguan kesehatan fisik, kelompok tersebut juga memerlukan dukungan lingkungan dan keluarga agar tetap merasa aman selama kondisi kabut asap berlangsung.
Penanganan dampak kabut asap karena itu tidak cukup hanya berfokus pada upaya pemadaman kebakaran. Pemerintah perlu memastikan masyarakat memperoleh informasi kualitas udara yang mudah diakses, layanan kesehatan yang memadai, serta edukasi mengenai langkah perlindungan diri. Dukungan terhadap kesehatan mental juga perlu menjadi bagian dari upaya penanganan, terutama bagi warga yang mengalami tekanan akibat terganggunya aktivitas sehari-hari.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga perlu memperkuat koordinasi dalam menangani dampak karhutla. Kesiapan puskesmas dan rumah sakit, ketersediaan perlengkapan perlindungan, serta pelayanan bagi masyarakat terdampak menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. Di samping itu, penyampaian informasi secara berkala dapat membantu warga mengambil keputusan yang lebih tepat ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat diimbau untuk memperhatikan informasi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Ketika asap semakin pekat, kegiatan yang tidak mendesak sebaiknya dibatasi. Jika harus beraktivitas di luar, warga dapat menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, menjaga kondisi tubuh, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan kesehatan yang memburuk.
Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga berperan dalam mengurangi beban psikologis selama kabut asap berlangsung. Komunikasi yang baik, perhatian terhadap kondisi anggota keluarga, serta akses terhadap informasi yang benar dapat membantu masyarakat menghadapi situasi tersebut dengan lebih tenang. Apabila stres atau kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, warga sebaiknya mencari dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional.
Di sisi lain, pencegahan kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi langkah mendasar untuk mengurangi dampak kabut asap dalam jangka panjang. Pengawasan kawasan rawan kebakaran, penanganan titik api secara cepat, serta penegakan aturan terhadap praktik pembakaran lahan yang melanggar ketentuan perlu dilakukan secara konsisten.
Persoalan kabut asap di Kalimantan Selatan menjadi pengingat bahwa bencana lingkungan dapat memengaruhi kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui gangguan pernapasan, tetapi juga melalui perubahan pola hidup, tekanan ekonomi, terganggunya pendidikan, hingga potensi masalah kesehatan mental.
Oleh karena itu, penanganan karhutla membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mengutamakan keselamatan warga. Upaya pencegahan kebakaran, pemulihan kualitas udara, penguatan pelayanan kesehatan, serta perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat harus berjalan beriringan agar dampak kabut asap dapat ditekan dan kehidupan warga kembali berjalan normal.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !