SIDOARJO – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap dugaan penyebab ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan hasil investigasi awal, persoalan tersebut berkaitan dengan ketidakdisiplinan dalam proses distribusi makanan.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan makanan MBG seharusnya segera didistribusikan setelah proses memasak selesai. Batas waktu tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan keamanan makanan sebelum dikonsumsi oleh para penerima manfaat.
Namun, dalam kejadian di Sidoarjo, proses distribusi disebut berlangsung lebih dari batas waktu yang telah ditetapkan. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan makanan mengalami penurunan kualitas sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi mereka yang mengonsumsinya.
BGN menjelaskan bahwa makanan dalam program MBG tidak menggunakan bahan pengawet. Karena itu, makanan harus mendapatkan penanganan dan distribusi sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Semakin lama makanan berada dalam kondisi yang tidak sesuai standar, semakin besar pula risiko terjadinya pertumbuhan bakteri.
Peristiwa tersebut terjadi setelah para santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam mengonsumsi menu MBG pada Selasa, 1 September 2026. Sebelumnya, makanan yang dibagikan kepada para santri terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, serta buah apel.
Jumlah warga sekolah dan santri yang terdampak sempat mengalami perubahan seiring proses pendataan dan pemeriksaan. Dalam keterangan BGN pada Rabu, jumlah yang terdata mencapai 512 orang. Dari jumlah tersebut, sebagian masih menjalani perawatan, sementara lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatan membaik.
BGN bersama dinas kesehatan terkait kemudian melakukan investigasi untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap munculnya dugaan keracunan sekaligus mengevaluasi proses pengolahan, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan.
Selain melakukan investigasi, BGN mengambil langkah tegas terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan distribusi MBG di wilayah tersebut. SPPG Sidoarjo Talang Angin atau Kalitengah dikenai penghentian sementara dengan kategori berat selama 30 hari.
Ketut juga menyoroti pentingnya kepatuhan seluruh pihak terhadap prosedur operasional yang telah ditetapkan. Menurutnya, pengawasan terhadap pelaksanaan MBG sebenarnya dilakukan secara rutin, termasuk pada waktu-waktu yang dianggap krusial dalam proses penyediaan makanan.
BGN menerapkan pengawasan dua kali sehari untuk memastikan proses penyediaan makanan berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan dilakukan mulai dari penerimaan bahan makanan hingga proses memasak yang berlangsung pada dini hari. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memastikan kualitas bahan dan makanan tetap terjaga sebelum sampai kepada penerima.
Meski demikian, BGN mengakui masih terdapat sejumlah pelaksana yang belum menjalankan aturan secara disiplin. Tidak hanya pihak SPPG, ketepatan waktu dari pihak sekolah dalam membagikan makanan juga menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan keamanan makanan yang telah diproduksi.
Kasus di Sidoarjo menjadi perhatian karena terjadi dalam program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik dan kelompok penerima manfaat lainnya. Karena itu, aspek keamanan pangan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan MBG di setiap daerah.
BGN memastikan proses evaluasi akan terus dilakukan setelah kejadian tersebut. Setiap temuan dari investigasi akan menjadi bahan untuk memperbaiki pelaksanaan program, termasuk memperketat pengawasan terhadap dapur penyedia makanan dan memastikan seluruh petugas mematuhi standar yang berlaku.
Di tengah proses tersebut, penanganan terhadap para santri yang terdampak tetap menjadi perhatian. Mereka yang masih membutuhkan perawatan mendapatkan penanganan medis, sedangkan santri yang telah dinyatakan membaik diperbolehkan kembali ke lingkungan masing-masing sesuai kondisi kesehatan.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan bergizi. Proses pengolahan, kebersihan, penyimpanan, ketepatan waktu distribusi, hingga pengawasan harus berjalan secara konsisten agar makanan yang diterima masyarakat tetap aman untuk dikonsumsi.
BGN pun diharapkan dapat memastikan evaluasi tersebut menghasilkan perbaikan nyata di lapangan. Kepatuhan terhadap standar keamanan pangan menjadi hal penting untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !