MAKASSAR – Hasil asesmen psikologis terhadap siswa Sekolah Rakyat mengungkap tantangan sosial dan emosional yang dihadapi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menyampaikan bahwa sebagian siswa membutuhkan pendampingan emosional, sementara sebagian lainnya telah mengalami kehilangan orang tua hingga harus bekerja sejak usia dini. Meski menghadapi berbagai kesulitan, sebagian besar siswa tetap menunjukkan kepedulian terhadap orang lain dan memiliki kebiasaan suka menolong.
Temuan tersebut disampaikan Gus Ipul dalam peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus peringatan Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026). Dalam kegiatan yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Sosial RI itu, ia menjelaskan bahwa kemiskinan tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dapat meninggalkan beban emosional yang memengaruhi kehidupan anak-anak.
Berdasarkan hasil asesmen yang dipaparkan, sekitar satu dari tiga anak Sekolah Rakyat memerlukan pendampingan untuk mengatasi persoalan emosional. Selain itu, sekitar satu dari enam anak diketahui telah kehilangan ayah, ibu, atau kedua orang tuanya. Ada pula anak yang sejak kecil harus bekerja, seperti siswa bernama Rifaldi yang disebut dalam pemaparan tersebut.
Gus Ipul menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi penyelenggara pendidikan untuk memahami latar belakang kehidupan setiap siswa. Anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dapat menghadapi persoalan yang tidak selalu terlihat dari kemampuan akademik mereka. Oleh karena itu, proses pendidikan perlu memperhatikan kondisi psikologis, pengalaman hidup, serta kebutuhan pendampingan masing-masing anak.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, hasil asesmen juga menunjukkan adanya potensi positif yang patut diperhatikan. Gus Ipul menyebut delapan dari sepuluh anak tetap tumbuh dengan karakter peduli dan suka menolong. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman hidup yang sulit tidak serta-merta menghilangkan kemampuan anak untuk membangun hubungan sosial yang baik dan menunjukkan empati kepada orang lain.
Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat dirancang untuk menjalankan dua pendekatan secara bersamaan, yakni pendidikan dan rehabilitasi. Program ini tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga berupaya membantu siswa memulihkan luka emosional, membangun rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan sosial. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruhi.
Pelaksanaan pendekatan tersebut melibatkan ribuan tenaga pendidik dan pendamping. Gus Ipul menyampaikan bahwa hampir 5.000 guru telah terlibat dalam proses pendidikan siswa Sekolah Rakyat. Sebagian besar guru tersebut berasal dari kalangan generasi muda yang menjalankan peran untuk mendampingi anak-anak dalam kegiatan belajar sekaligus membantu mereka mengembangkan potensi diri.
Selain guru, dukungan juga diberikan oleh hampir 7.000 wali asuh dan lebih dari 2.000 wali asrama. Para pendamping tersebut berperan dalam menemani aktivitas siswa sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat pada malam hari. Dalam lingkungan pendidikan berasrama, keberadaan mereka dinilai penting untuk membangun suasana yang aman, teratur, dan mendukung perkembangan karakter anak.
Gus Ipul menyebut para wali asuh dan wali asrama bukan sekadar petugas yang menjalankan fungsi pengawasan. Mereka juga diharapkan menjadi figur orang tua kedua bagi siswa selama menjalani kehidupan di sekolah. Kehadiran pendamping yang dekat dengan keseharian anak diharapkan dapat membantu mengenali perubahan perilaku, memahami kebutuhan emosional, dan memberikan dukungan ketika siswa menghadapi kesulitan.
Melalui sistem pengasuhan dan pembelajaran tersebut, Sekolah Rakyat menargetkan tiga perubahan utama pada diri siswa. Perubahan pertama berkaitan dengan kondisi fisik, terutama melalui perhatian terhadap pemenuhan gizi dan kesehatan. Aspek ini menjadi dasar agar anak dapat menjalani kegiatan belajar dan aktivitas sehari-hari dengan kondisi tubuh yang lebih baik.
Perubahan kedua menyangkut kondisi mental dan emosional siswa. Program pendampingan diarahkan untuk membantu memulihkan pengalaman yang membebani psikologis anak sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri. Dengan dukungan yang sesuai, siswa diharapkan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, membangun hubungan sosial, dan mengembangkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya.
Perubahan ketiga berfokus pada perkembangan akademik. Sekolah Rakyat berupaya membantu siswa mengejar ketertinggalan pembelajaran yang mungkin terjadi akibat keterbatasan akses pendidikan sebelumnya. Pendekatan belajar perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan siswa agar mereka memperoleh kesempatan untuk berkembang secara bertahap.
Untuk menunjang ketiga target tersebut, Sekolah Rakyat juga didukung berbagai fasilitas pendidikan dan penunjang kehidupan siswa. Sarana yang disiapkan meliputi asrama, ruang kelas, laboratorium, ruang makan, tempat ibadah, serta fasilitas olahraga. Keberadaan fasilitas tersebut dimaksudkan untuk menyediakan lingkungan belajar yang lebih terpadu, sehingga kebutuhan pendidikan dan keseharian siswa dapat terakomodasi.
Gus Ipul menyoroti bahwa sebagian anak sebelumnya hidup dalam keterbatasan, termasuk kondisi tempat tinggal yang tidak memadai. Melalui Sekolah Rakyat, mereka memperoleh akses terhadap lingkungan pendidikan yang lebih terstruktur. Namun, peningkatan fasilitas perlu berjalan beriringan dengan pendampingan yang memperhatikan kondisi psikologis dan perkembangan individual setiap siswa.
Hasil asesmen tersebut sekaligus menegaskan pentingnya melihat keberhasilan pendidikan dari berbagai sisi, bukan semata-mata nilai pelajaran atau capaian akademik. Perkembangan kesehatan, kemampuan mengelola emosi, kepercayaan diri, kepedulian sosial, dan keterampilan berinteraksi juga menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak.
Dengan pendekatan pendidikan dan rehabilitasi yang berjalan berdampingan, Sekolah Rakyat diharapkan mampu memberikan dukungan yang lebih sesuai bagi siswa dari keluarga prasejahtera. Keterlibatan guru, wali asuh, wali asrama, serta dukungan sarana pendidikan menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang membantu anak belajar, berkembang, dan mempersiapkan masa depan mereka.
Melalui peringatan satu tahun Sekolah Rakyat pada 28 Oktober 2026 tersebut, Kementerian Sosial kembali menyoroti pentingnya pendidikan yang tidak hanya memperhatikan kemampuan akademik, tetapi juga kebutuhan emosional dan sosial anak. Hasil asesmen menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan yang dialami sebagian siswa, terdapat potensi, kepedulian, dan kemampuan untuk berkembang yang perlu terus didukung melalui pendampingan yang tepat.
Jurnalis : Wafiq Qodriyatussoleha
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !