Serangan Rusia di Zaporizhzhia Tewaskan 40 Orang, Sembilan Bom Hantam Pusat Bantuan Ukraina

Serangan Rusia di Zaporizhzhia Tewaskan 40 Orang, Sembilan Bom Hantam Pusat Bantuan Ukraina

Serangan udara yang dilancarkan Rusia ke wilayah Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, menewaskan sedikitnya 40 orang. Serangan tersebut menyasar sebuah bangunan bekas sekolah yang difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat distribusi bantuan kemanusiaan bagi warga setempat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebutkan, pasukan Rusia menjatuhkan sembilan bom ke lokasi tersebut pada Senin (2/11/2026), ketika masyarakat sedang berkumpul untuk menerima bantuan.

Peristiwa itu terjadi di Desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, yang berada tidak jauh dari garis depan pertempuran. Bangunan bekas sekolah tersebut sudah tidak digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar karena kondisi keamanan di kawasan itu semakin berisiko akibat perang yang masih berlangsung. Sebagai gantinya, tempat tersebut dimanfaatkan untuk menyalurkan kebutuhan kemanusiaan kepada penduduk yang masih bertahan di wilayah terdampak konflik.

Menurut keterangan Zelensky, serangan pertama terjadi ketika warga mulai berdatangan untuk mengambil bantuan kemanusiaan. Setelah bom dijatuhkan, situasi semakin memburuk ketika serangan kembali terjadi dan mengenai area tempat perlindungan bawah tanah. Serangan lanjutan tersebut juga dilaporkan menghantam petugas penyelamat dan aparat kepolisian yang datang untuk membantu korban serta melakukan evakuasi.

Hingga Rabu (4/11/2026), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 40 orang. Zelensky menyampaikan bahwa proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung. Ia memperkirakan lebih dari 30 orang lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Sejumlah jenazah juga belum berhasil diidentifikasi sehingga proses pendataan korban masih dilakukan oleh pihak berwenang.

Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan korban dari kalangan masyarakat sipil, tetapi juga petugas yang sedang menjalankan tugas penyelamatan. Berdasarkan laporan layanan darurat Ukraina, dua anggota tim penyelamat dan empat personel kepolisian termasuk di antara korban meninggal dunia. Kondisi ini menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi petugas ketika melakukan operasi pencarian dan pertolongan di tengah ancaman serangan lanjutan.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa serangan di kawasan tersebut ditujukan kepada personel militer Ukraina. Pihak Rusia mengklaim telah menewaskan sebanyak 25 anggota militer Ukraina dalam operasi tersebut. Moskow juga membantah sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran serangan. Pernyataan tersebut berbeda dengan keterangan pemerintah Ukraina yang menyebut lokasi pengeboman merupakan tempat penyaluran bantuan kemanusiaan dan perlindungan bagi penduduk.

Selain serangan di Zaporizhzhia, Rusia juga melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur energi Ukraina pada Selasa (3/11/2026). Serangan tersebut dilaporkan berdampak pada sejumlah fasilitas di 10 wilayah. Salah satu dampaknya dirasakan oleh penduduk Kyiv, ibu kota Ukraina, yang mengalami gangguan pasokan air bersih selama lebih dari 16 jam. Perusahaan penyedia air Kyivvodokanal menyatakan bahwa stasiun pasokan air dan pompa limbah di kota tersebut kembali beroperasi pada Rabu sore.

Situasi kemanusiaan di Ukraina juga menjadi perhatian dalam rencana pertemuan perwakilan Rusia dan Ukraina di Gedung Putih, Amerika Serikat, pada Jumat (6/11/2026). Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung bersama Melania Trump setelah sebelumnya ia membantu memediasi gencatan senjata sementara yang memungkinkan proses evakuasi warga sipil dan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Oleshky, sebuah kota di Ukraina selatan yang berada di bawah pendudukan Rusia.

Ukraina dijadwalkan diwakili oleh Komisaris Hak Asasi Manusia Dmytro Lubinets dan Davyd Arakhamiia, pemimpin fraksi parlemen pendukung Zelensky. Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut Rusia berencana mengirim utusan Kirill Dmitriev dan Komisaris Hak Asasi Manusia Yana Lantratova. Namun, Peskov menyampaikan bahwa persoalan visa berpotensi memengaruhi keberangkatan delegasi Rusia.

Menanggapi serangan di pusat distribusi bantuan tersebut, Zelensky menyatakan bahwa Ukraina akan memberikan respons terhadap tindakan Rusia. Ia juga kembali meminta dukungan internasional, khususnya tambahan rudal pencegat dan perlengkapan pertahanan militer lainnya untuk memperkuat perlindungan wilayah udara Ukraina. Zelensky menilai serangan terhadap lokasi bantuan kemanusiaan tersebut membutuhkan perhatian dan tanggapan serius dari masyarakat internasional.

Hingga Kamis (5/11/2026), proses penanganan dampak serangan di Komyshuvakha masih menjadi perhatian pemerintah Ukraina. Pencarian korban yang tertimbun reruntuhan, identifikasi jenazah, serta pendataan jumlah korban terus dilakukan. Sementara itu, perbedaan pernyataan antara Rusia dan Ukraina mengenai sasaran serangan masih menjadi bagian dari perkembangan konflik yang belum terselesaikan.

Jurnalis : Damara Rizky Elisyah

author avatar
Damara Rizky Elisyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !