Fadilah Bongkar Jaringan Ijazah Palsu Jalan Pramuka ke Bareskrim

JAKARTA – Upaya membersihkan praktik pemalsuan dokumen resmi negara kembali dilakukan melalui jalur hukum.

Fadilah secara resmi melaporkan dugaan jaringan pembuatan ijazah palsu yang berpusat di kawasan Jalan Pramuka, Jakarta Pusat, ke Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri pada Rabu, 13 Mei 2026.

Kehadirannya di kantor kepolisian tertinggi ini disertai dukungan penuh kekuatan hukum, dengan didampingi oleh sepuluh orang penasihat hukum, menegaskan keseriusan dan kesiapan menyelesaikan perkara ini hingga tuntas.

Usai menyerahkan berkas laporan, Fadilah memberikan keterangan kepada awak media dan menyampaikan bahwa pihak Bareskrim Polri telah menerima laporan tersebut dengan sikap terbuka dan responsif.

Proses hukum dipastikan akan segera berjalan sesuai mekanisme yang berlaku, dan ia berjanji akan senantiasa mengabarkan setiap perkembangan penting kepada publik.

“Hari ini kami melaporkan dugaan tindak pidana pemalsuan ijazah, termasuk dokumen yang mengatasnamakan Bapak Joko Widodo, ke Bareskrim. Alhamdulillah, kedatangan dan laporan kami diterima dengan baik, dan perkara ini akan segera diproses lebih lanjut. Saya berkomitmen untuk terus menyampaikan informasi terbaru mengenai langkah penyidikan ke depannya,” ujar Fadilah di hadapan wartawan.

Fadilah menegaskan posisinya secara tegas terkait penanganan kasus ini. Baginya, memalsukan dokumen negara bukanlah sekadar pelanggaran administrasi atau perselisihan perdata yang bisa diselesaikan lewat kesepakatan damai. Tindakan tersebut adalah kejahatan nyata yang merusak kepercayaan publik dan meruntuhkan kredibilitas sistem pendidikan nasional.

“Saya menuntut agar perbuatan ini diproses sepenuhnya sebagai tindak pidana, tidak boleh dikurangi atau dianggap urusan perdata semata. Alasan kami melaporkan hingga ke pihak percetakan dan seluruh rantai jaringannya adalah agar pelaku mendapatkan efek jera yang paling maksimal. Ini juga menjadi peringatan keras bagi siapa saja agar tidak berani lagi melakukan perbuatan tercela yang merugikan banyak pihak,” tegasnya.

Keterlibatan tim hukum yang besar dan lengkap menjadi bukti nyata bahwa kasus ini ditangani secara mendalam, cermat, dan berlandaskan hukum yang kuat.

Saat ini, pihak pelapor menunggu langkah selanjutnya dari penyidik Bareskrim, berharap aparat dapat menelusuri jejak kejahatan hingga ke akar, membongkar struktur jaringan, serta menjerat dan mempertanggungjawabkan seluruh pihak yang terlibat dalam produksi dan peredaran dokumen palsu tersebut.

Langkah hukum ini dipandang sangat strategis dan krusial demi menjaga kemurnian, keabsahan, serta kehormatan dokumen resmi negara.

Hal ini juga menjadi wujud nyata pengawasan masyarakat agar keadilan dan kepastian hukum senantiasa tegak berdiri, melindungi integritas institusi negara dari ancaman pemalsuan dan penipuan.

Reporter by Dery Leorna

author avatar
Wartawan Fakta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Suara Warga Gantar: Kehadiran Al-Zaytun Penghidupan Ekonomi, Kyai Panji Gumilang Diminta Terus Berkarya INDRAMAYU – Di tengah riuh rendah penolakan dan polemik yang menyelimuti keberadaan Pondok Pesantren Al-Zaytun, terdengar suara berbeda yang datang langsung dari halaman terdekat. Warga Kecamatan Gantar, wilayah yang menjadi lokasi berdirinya lembaga pendidikan besar tersebut, justru menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh. Bagi warga setempat seperti Ibu Komariah, kehadiran Al-Zaytun bukanlah ancaman, melainkan berkah besar yang telah mengubah wajah wilayahnya, membangkitkan roda perekonomian, dan mengangkat nama Indramayu hingga ke kancah dunia. Menurut penuturan Ibu Komariah yang telah merasakan langsung dampak keberadaan ponpes tersebut, kehadiran Al-Zaytun membawa perubahan positif yang sangat nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Gantar. Ia mencontohkan momen yang selalu dinanti warga setiap tahunnya, tepatnya pada tanggal satu Suro atau pergantian tahun Jawa. Pada momentum besar itu, ribuan warga berbondong-bondong membuka lapak dagangan di sepanjang akses jalan hingga ke pintu gerbang pondok pesantren. “Setiap tanggal satu Suro, kami warga Gantar boleh berdagang di depan pintu Al-Zaytun. Alhamdulillah, dagangan kami selalu laris manis diserbu para tamu dan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru. Keuntungan yang kami dapatkan sangat berarti untuk kebutuhan keluarga,” ungkap Ibu Komariah dengan penuh rasa syukur. Pengalaman nyata inilah yang membuatnya merasa heran dan bertanya-tanya, mengapa ada pihak-pihak yang begitu tidak menyukai atau menolak keberadaan Al-Zaytun. Sebab, bagi warga Gantar, dampak yang dirasakan justru sangat jauh dari kata merugikan. Sebaliknya, lembaga ini dinilai telah menjadi motor penggerak yang menghidupkan denyut nadi wilayah yang dulunya sepi dan tertinggal. “Kami sangat heran, kenapa ada saja orang yang tidak suka dengan aktivitas Al-Zaytun. Padahal, berkat keberadaan pondok ini, nama Kabupaten Indramayu dikenal hingga ke seluruh dunia. Nama daerah kami terangkat tinggi, dan kami sebagai warga asli merasakan langsung manfaatnya,” tambahnya. Daerah Menjadi Hidup, Peluang Usaha Terbuka Lebar Lebih jauh, Ibu Komariah menjelaskan bahwa kehadiran ribuan santri, tenaga pendidik, serta tamu yang berdatangan setiap hari membuat kawasan Gantar menjadi ramai, hidup, dan berdenyut. Keramaian ini membuka peluang usaha tak terbatas bagi warga sekitar. Mulai dari usaha kuliner, perdagangan kebutuhan sehari-hari, jasa transportasi, hingga penyewaan tempat tinggal, semuanya tumbuh dan berkembang pesat seiring berjalannya aktivitas di dalam kompleks Al-Zaytun. Sebagai warga yang telah merasakan manfaat ekonomi secara nyata, Ibu Komariah pun menyampaikan pesan tulus dan dukungannya sepenuhnya kepada pimpinan pondok pesantren, Kyai Panji Gumilang. Ia berharap pendiri dan pemimpin besar itu tetap teguh, terus berkarya, dan tidak terpengaruh oleh suara-suara penolakan yang datang dari luar wilayah mereka. “Pesan kami kepada Bapak Kyai Panji Gumilang: teruslah berkarya dan membangun. Jangan hiraukan mereka yang tidak suka atau menolak keberadaan Al-Zaytun. Kami warga Gantar sudah merasakan sendiri buktinya. Berkat pondok ini, daerah kami jadi hidup, ramai, dan kami bisa membuka usaha apa saja untuk menghidupi keluarga. Intinya, Al-Zaytun adalah penggerak utama ekonomi kami, wong Gantar dan sekitarnya,” tegasnya mantap. Dua Sisi Pandangan, Satu Harapan Kesejahteraan Pernyataan Ibu Komariah ini menjadi bukti nyata bahwa keberadaan Al-Zaytun memiliki dua sisi pandangan yang berbeda. Jika dari luar banyak yang menyoroti sisi kontroversi dan perbedaan pemahaman, maka bagi warga lokal Gantar, Al-Zaytun adalah pilar ekonomi, identitas wilayah, dan sumber penghidupan yang tak tergantikan. Bagi masyarakat Gantar, keberadaan lembaga ini telah membuktikan bahwa pendidikan dan ekonomi bisa berjalan beriringan, membawa kemajuan yang merata. Dukungan yang mengalir dari warga sekitar menjadi kekuatan moral tersendiri, yang menegaskan bahwa di tengah segala polemik, ada ribuan warga yang berterima kasih dan berharap agar Al-Zaytun tetap berdiri kokoh, terus berkarya, dan membawa kesejahteraan yang lebih luas lagi bagi masyarakat Indramayu.

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !