Jakarta – Pertanyaan mengenai keamanan hujan hasil modifikasi cuaca kembali muncul setelah sejumlah wilayah Indonesia mendapatkan guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir. Sebagian masyarakat mempertanyakan apakah air hujan tersebut mengandung zat berbahaya, terutama ketika air yang turun atau tertampung terlihat keruh dan kotor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut. BMKG memastikan hujan yang dihasilkan melalui kegiatan modifikasi cuaca tidak berbahaya bagi masyarakat.
Menurut BMKG, bahan yang digunakan dalam proses modifikasi cuaca antara lain garam dapur atau natrium klorida (NaCl) serta kalium klorida (KCl) dengan kualitas food-grade. Bahan tersebut bersifat non-toksik dan digunakan dalam jumlah yang sangat kecil dalam proses modifikasi awan.
BMKG juga menjelaskan bahwa keamanan air hujan hasil modifikasi cuaca tidak hanya didasarkan pada karakteristik bahan yang digunakan. Air hujan dari kegiatan tersebut juga telah menjalani pengujian di laboratorium.
Hasil pengujian yang disampaikan BMKG menunjukkan bahwa air hujan hasil modifikasi cuaca berada dalam kondisi netral hingga basa dan tidak menunjukkan karakteristik yang membahayakan.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu mengaitkan warna atau kondisi air hujan yang tampak kotor secara langsung dengan bahan yang digunakan dalam proses modifikasi cuaca.
BMKG menjelaskan bahwa air hujan, baik yang terjadi secara alami maupun melalui modifikasi cuaca, dapat membawa berbagai partikel yang berada di atmosfer ketika tetesan air bergerak menuju permukaan bumi.
Tetesan air hujan dapat menangkap partikel debu dan polutan yang berada di udara. Kondisi atmosfer yang tercemar membuat air hujan pertama yang turun setelah periode tertentu terkadang terlihat lebih keruh dibandingkan air hujan berikutnya.
Partikel yang terbawa tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk debu di udara, polusi kendaraan, maupun asap kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, kondisi air hujan yang tampak kotor tidak secara otomatis menunjukkan adanya kandungan bahan pembenih awan.
Fenomena tersebut dapat terjadi karena hujan berfungsi seperti proses pencucian atmosfer. Ketika tetesan air jatuh, sejumlah partikel yang sebelumnya berada di udara dapat ikut terbawa ke permukaan.
Akibatnya, air hujan yang turun pada awal kejadian hujan dapat terlihat lebih kotor apabila kondisi udara sebelumnya mengandung cukup banyak debu atau polutan.
Kondisi serupa pada dasarnya juga dapat terjadi pada hujan yang terbentuk secara alami. Artinya, keberadaan warna atau tampilan air yang keruh tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menentukan apakah hujan tersebut berasal dari proses modifikasi cuaca atau tidak.
Modifikasi cuaca merupakan upaya untuk memengaruhi proses pembentukan atau pertumbuhan awan dengan memanfaatkan kondisi atmosfer yang tersedia. Dalam pelaksanaannya, bahan tertentu digunakan sebagai inti kondensasi agar proses di dalam awan dapat berlangsung sesuai tujuan operasi.
Keberhasilan modifikasi cuaca tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang sesuai. Karena itu, kegiatan tersebut tidak berarti hujan dapat dibuat kapan saja tanpa memperhatikan kondisi cuaca.
BMKG terus melakukan pemantauan terhadap kondisi atmosfer dan memberikan informasi mengenai perkembangan cuaca kepada masyarakat. Penjelasan mengenai keamanan hujan hasil modifikasi cuaca juga diberikan untuk menjawab kekhawatiran masyarakat yang muncul di tengah berlangsungnya kegiatan tersebut.
Dengan adanya penjelasan BMKG, air hujan yang tampak kotor sebaiknya tidak langsung dikaitkan dengan bahan yang digunakan dalam modifikasi cuaca. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh partikel atmosfer yang ikut tersapu oleh tetesan air saat hujan turun.
Meski demikian, penampungan air hujan untuk kebutuhan tertentu tetap perlu memperhatikan kebersihan tempat penampungan dan lingkungan sekitarnya. Tampilan air semata juga tidak dapat menjadi dasar untuk menentukan kualitas air secara keseluruhan.
BMKG menegaskan bahwa berdasarkan hasil pengujian yang disampaikannya, air hujan hasil modifikasi cuaca tidak menunjukkan karakteristik yang berbahaya. Masyarakat diharapkan memperoleh informasi dari sumber resmi agar tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi mengenai kegiatan modifikasi cuaca.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !