BNPT Catat 620 Anak Terpapar Paham Kekerasan dan Radikalisme melalui Ruang Digital

BNPT Catat 620 Anak Terpapar Paham Kekerasan dan Radikalisme melalui Ruang Digital

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat sebanyak 620 anak terpapar paham kekerasan dan radikalisme sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa ruang digital menjadi salah satu perhatian penting dalam upaya mencegah penyebaran paham ekstrem yang menyasar kelompok usia anak dan remaja.

Kepala BNPT Eddy Hartono menyampaikan bahwa ratusan anak tersebut berada dalam rentang usia 11 hingga 18 tahun dan tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Data tersebut diperoleh dari aparat penegak hukum, termasuk Densus 88 Antiteror Polri, yang melakukan pemantauan serta intervensi terhadap anak-anak yang dinilai telah masuk dalam kategori terpapar paham kekerasan maupun radikalisme.

Menurut Eddy, paparan tidak hanya terjadi melalui satu jenis platform. Anak-anak dapat menemukan konten bermasalah melalui media sosial, podcast, forum daring, YouTube, maupun berbagai komunitas yang berinteraksi di ruang digital. Kondisi tersebut membuat lingkungan internet perlu mendapatkan perhatian lebih serius, terutama karena anak dan remaja merupakan kelompok yang masih berada dalam tahap perkembangan pola pikir dan pembentukan karakter.

BNPT menilai keberadaan komunitas di internet tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk memberikan label tertentu kepada seseorang. Ada komunitas digital yang membahas berbagai peristiwa kejahatan atau kasus kekerasan untuk kepentingan informasi, diskusi, maupun penelitian. Karena itu, pendekatan yang digunakan BNPT lebih menitikberatkan pada perubahan perilaku dan tingkat risiko yang muncul pada individu.

Perubahan perilaku menjadi perhatian ketika seseorang mulai menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar atau menunjukkan sikap yang semakin mengagungkan tindakan kekerasan. Dalam kondisi seperti itu, diperlukan langkah pencegahan dan pendampingan agar paparan informasi negatif tidak berkembang menjadi perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Sebanyak 620 anak yang masuk dalam data tersebut telah mendapatkan intervensi dari aparat penegak hukum. BNPT menegaskan bahwa pendekatan terhadap anak tidak semata-mata diarahkan pada penegakan hukum. Upaya rehabilitasi, pendampingan, pendidikan, serta penguatan lingkungan sosial menjadi bagian penting dalam membantu anak kembali berkembang dalam lingkungan yang sehat.

Peran Sekolah dan Keluarga Sangat Penting

BNPT juga menekankan pentingnya keterlibatan sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan lingkungan sekitar dalam mencegah penyebaran paham kekerasan. Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam lingkungan keluarga dan pendidikan sehingga kedua lingkungan tersebut memiliki peran strategis dalam mengenali perubahan perilaku sejak dini.

Guru dan tenaga kependidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membangun komunikasi yang baik dengan peserta didik. Pendekatan yang terbuka dapat membantu anak merasa lebih nyaman untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, termasuk ketika menemukan konten atau interaksi yang membuat mereka merasa tertekan maupun bingung.

Di lingkungan keluarga, orang tua juga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan penggunaan internet yang sehat. Pendampingan tidak harus dilakukan dengan cara membatasi seluruh aktivitas digital anak, tetapi dapat dilakukan melalui komunikasi, literasi digital, serta pemahaman terhadap jenis informasi yang dikonsumsi anak.

Internet Menjadi Perhatian dalam Pencegahan

BNPT menyebut internet memiliki peran besar dalam penyebaran propaganda, perekrutan, dan penggalangan dana bagi jaringan terorisme. Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi dapat berlangsung dengan cepat dan menjangkau masyarakat dalam jumlah besar.

Karena itu, peningkatan literasi digital menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan. Anak-anak perlu mendapatkan pemahaman mengenai cara mengenali informasi yang menyesatkan, membedakan fakta dan propaganda, serta memahami dampak dari mengikuti atau menyebarkan konten tertentu di internet.

Pemerintah juga mendorong kerja sama lintas sektor untuk memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di lingkungan pendidikan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan masyarakat dinilai diperlukan agar upaya perlindungan terhadap anak dapat dilakukan secara menyeluruh.

Data 620 anak tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi digital perlu diimbangi dengan kemampuan literasi dan pendampingan yang memadai. Ruang digital dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan dan komunikasi, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan pengawasan dan pemahaman agar anak tidak mudah terpengaruh oleh konten yang berisiko.

BNPT berharap penguatan kapasitas tenaga pendidik dan seluruh pihak yang berhubungan dengan anak dapat menghasilkan langkah pencegahan yang lebih efektif. Pendekatan yang mengutamakan edukasi, rehabilitasi, dan perlindungan anak diharapkan dapat membantu mencegah berkembangnya paham kekerasan sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

Jurnalis : Ghazy fikri izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !