Mahasiswa Didorong Perkuat Pengelolaan Sampah di Kampus

Proses pengelolaan sampah berdasarkan jenis sampahnya

 

Mahasiswa Didorong Perkuat Pengelolaan Sampah di Kampus

JAKARTA — Mahasiswa didorong untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi. Keterlibatan mahasiswa dinilai penting karena kampus bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan akademik, tetapi juga ruang strategis untuk membentuk kebiasaan dan kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan.

Dorongan tersebut disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq dalam rangkaian kegiatan World Cleanup Day 2026 di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Menurutnya, perguruan tinggi mempunyai posisi penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, termasuk dalam hal mengurangi dan mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.

Mahasiswa dapat berkontribusi melalui berbagai bidang, mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga aktivitas organisasi dan kegiatan kemahasiswaan. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui kampanye pengurangan sampah, pemilahan sampah sejak dari sumbernya, kegiatan daur ulang, hingga pengembangan berbagai inovasi yang dapat membantu mengatasi persoalan sampah di lingkungan kampus.

Pengelolaan sampah yang baik membutuhkan perubahan kebiasaan secara menyeluruh. Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga perlu dikelola berdasarkan jenis dan karakteristiknya. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik tertentu dapat dipilah untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

Kampus memiliki peluang besar untuk menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah yang baik. Dengan jumlah mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan aktivitas yang berlangsung setiap hari, lingkungan perguruan tinggi menghasilkan sampah dalam jumlah yang cukup besar. Kondisi tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk membangun sistem pengelolaan yang terintegrasi dan melibatkan seluruh warga kampus.

ULM sendiri didorong untuk menuju pengelolaan sampah secara mandiri hingga 100 persen. Target tersebut membutuhkan sistem yang kuat, konsisten, serta dukungan dari seluruh unsur kampus. Tidak hanya menyediakan tempat sampah, pengelolaan yang efektif juga membutuhkan pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga penanganan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Mahasiswa dapat menjadi salah satu motor penggerak dalam mewujudkan target tersebut. Kreativitas dan kemampuan berinovasi yang dimiliki mahasiswa dapat diarahkan untuk menghasilkan solusi praktis terhadap berbagai persoalan sampah. Kegiatan penelitian juga dapat dimanfaatkan untuk mencari teknologi maupun metode pengolahan sampah yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan kampus.

Selain itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk membawa pengetahuan mengenai pengelolaan sampah ke lingkungan sekitar. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya mengurangi produksi sampah serta memilah sampah sebelum dibuang.

Keterlibatan mahasiswa juga dapat diperkuat melalui organisasi dan komunitas lingkungan di kampus. Berbagai kegiatan seperti aksi bersih lingkungan, kampanye penggunaan barang yang dapat digunakan berulang kali, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta pengembangan bank sampah dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih.

Namun, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan sesaat. Diperlukan kebijakan kampus yang konsisten, fasilitas yang memadai, sistem pengawasan, serta keterlibatan seluruh warga perguruan tinggi. Mahasiswa dapat berperan sebagai penggerak perubahan, tetapi dukungan institusi tetap diperlukan agar berbagai gerakan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam proses pendidikan. Pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dapat dikembangkan melalui berbagai mata kuliah, kegiatan penelitian, seminar, maupun program pengabdian. Dengan cara tersebut, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari budaya akademik.

Pengelolaan sampah yang lebih baik di lingkungan kampus diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas. Kebiasaan positif yang terbentuk selama mahasiswa berada di perguruan tinggi dapat dibawa ketika mereka memasuki dunia kerja dan kembali ke tengah masyarakat. Dengan demikian, kampus dapat berperan sebagai pusat pembentukan perilaku ramah lingkungan.

Upaya tersebut juga sejalan dengan kebutuhan untuk mengatasi persoalan sampah secara lebih menyeluruh. Penanganan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, tetapi membutuhkan partisipasi masyarakat, dunia pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan generasi muda.

Melalui keterlibatan aktif mahasiswa dan dukungan penuh dari perguruan tinggi, pengelolaan sampah di lingkungan kampus diharapkan dapat berkembang dari sekadar kegiatan kebersihan menjadi gerakan lingkungan yang terencana dan berkelanjutan. Kampus pun dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam membangun kebiasaan mengurangi, memilah, menggunakan kembali, dan mengolah sampah secara bertanggung jawab.

Jurnalis : Danilo Fernandes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !