Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah laut di barat daya Pangandaran, Jawa Barat, pada Rabu malam. Guncangan tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat di kawasan pesisir selatan Jawa Barat, tetapi juga terasa hingga sejumlah daerah seperti Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Sukabumi, Sumedang, Lembang, Ciwidey, dan beberapa wilayah lainnya. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episentrum gempa berada sekitar 87 kilometer barat daya Pangandaran dengan kedalaman sekitar 14 kilometer. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Sejumlah warga mengaku merasakan getaran yang cukup jelas meski hanya berlangsung beberapa detik. Sebagian masyarakat menggambarkan guncangan tersebut seperti ada truk besar yang melintas di depan rumah sehingga membuat lantai dan perabotan bergetar. Kondisi tersebut sempat membuat warga keluar rumah untuk memastikan situasi tetap aman, terutama mereka yang berada di bangunan bertingkat maupun kawasan padat penduduk.
BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut. Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber, gempa memiliki karakter pergerakan geser naik (oblique thrust). Meski guncangannya dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Barat, hasil pemodelan menunjukkan gempa tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami sehingga masyarakat diminta tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG.
Laporan intensitas guncangan menunjukkan beberapa wilayah di Kabupaten Bandung mengalami getaran pada skala III MMI, yaitu getaran yang dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti kendaraan berat melintas. Sementara di Sukabumi, Soreang, Pangalengan, dan Ciwidey, guncangan dirasakan dengan intensitas II hingga III MMI. Di sejumlah daerah lainnya, getaran hanya dirasakan oleh sebagian orang dan menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Hingga beberapa saat setelah gempa terjadi, belum terdapat laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang signifikan. Meski demikian, pemerintah daerah bersama instansi terkait tetap melakukan pemantauan guna mengantisipasi kemungkinan adanya dampak lanjutan. BMKG juga mencatat sempat terjadi satu gempa susulan berkekuatan kecil, namun aktivitas tersebut masih berada dalam kategori yang wajar setelah gempa utama.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta memastikan kondisi bangunan sebelum kembali masuk ke dalam rumah, terutama apabila terlihat adanya retakan atau kerusakan akibat guncangan. Selain itu, masyarakat disarankan mengikuti perkembangan informasi hanya melalui kanal resmi BMKG guna menghindari penyebaran hoaks yang dapat menimbulkan kepanikan.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana gempa bumi, mengingat wilayah Indonesia berada di kawasan cincin api (Ring of Fire) yang memiliki aktivitas tektonik cukup tinggi. Edukasi mengenai langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa diharapkan terus ditingkatkan agar risiko korban maupun kerugian dapat diminimalkan apabila terjadi gempa dengan kekuatan yang lebih besar di masa mendatang.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !