Lahan Sempit di Lapas Tabanan Disulap Jadi Peternakan Ayam, Hasilkan 90 Telur Sehari

Lahan Sempit di Lapas Tabanan Disulap Jadi Peternakan Ayam, Hasilkan 90 Telur Sehari

Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan, Bali, untuk menghadirkan program pembinaan yang produktif bagi warga binaan. Dengan memanfaatkan area yang sempit, pihak lapas berhasil mengembangkan peternakan ayam petelur yang kini mampu menghasilkan rata-rata 90 butir telur setiap hari. Program tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi dalam meningkatkan keterampilan sekaligus kemandirian warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

Peternakan ayam petelur tersebut telah berjalan selama kurang lebih delapan bulan. Saat ini terdapat sekitar 114 ekor ayam petelur yang dipelihara secara rutin oleh warga binaan yang sebelumnya telah memperoleh pelatihan mengenai cara beternak, mulai dari perawatan harian, pemberian pakan, hingga menjaga kesehatan ternak agar mampu menghasilkan telur dengan kualitas yang baik.

Hasil produksi telur dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kegiatan tata boga yang menjadi bagian dari program pembinaan kerja di lingkungan Lapas Tabanan. Selain itu, sebagian hasil panen juga dipasarkan kepada para petugas lapas sehingga memberikan nilai tambah bagi keberlangsungan program pembinaan produktif tersebut. Melalui pengelolaan yang baik, peternakan ini tidak hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi secara nyata.

Kepala Lapas Tabanan menegaskan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana bukanlah alasan untuk berhenti berinovasi. Menurutnya, berbagai potensi yang dimiliki lapas harus dimanfaatkan secara optimal agar warga binaan memperoleh bekal keterampilan yang dapat digunakan ketika kembali ke tengah masyarakat. Program peternakan ayam petelur menjadi salah satu contoh pembinaan yang mengedepankan aspek kemandirian sekaligus mendukung ketahanan pangan di lingkungan lapas.

Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti program peternakan. Ia belajar mengenai teknik pemeliharaan ayam petelur, pengelolaan kandang, hingga cara menghasilkan telur yang berkualitas. Menurutnya, keterampilan tersebut akan menjadi bekal berharga untuk membuka usaha mandiri setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali ke lingkungan masyarakat.

Keberhasilan memanfaatkan lahan sempit menjadi area peternakan produktif menunjukkan bahwa keterbatasan ruang tidak menghalangi terciptanya program pembinaan yang bermanfaat. Dengan perencanaan yang matang serta keterlibatan aktif warga binaan, area yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan internal lembaga pemasyarakatan.

Program tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan melalui penambahan kapasitas peternakan maupun diversifikasi kegiatan pembinaan lainnya. Selain memberikan keterampilan praktis, kegiatan produktif seperti ini juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta mempersiapkan warga binaan agar lebih siap menjalani kehidupan yang mandiri setelah bebas nanti.

Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi

“`

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !