Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memicu banjir lahar hujan di sejumlah aliran sungai yang berhulu di gunung tersebut. Kondisi itu terjadi setelah hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu cukup lama di kawasan puncak Semeru.
Aktivitas banjir lahar tersebut terpantau di sejumlah daerah aliran sungai (DAS), terutama Sungai Besuk Kobokan yang menjadi salah satu jalur utama aliran material vulkanik Gunung Semeru. Peningkatan debit air terjadi seiring tingginya curah hujan yang mengguyur kawasan lereng dan puncak.
Berdasarkan pemantauan aktivitas Gunung Semeru, getaran banjir lahar tercatat oleh instrumen seismograf. Pada periode pengamatan tertentu, getaran banjir bahkan berlangsung selama beberapa jam dengan amplitudo yang cukup tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya aliran air dan material vulkanik yang bergerak mengikuti jalur sungai.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat bahwa hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu meningkatnya aliran air di sejumlah DAS yang berhulu dari puncak gunung. Ketika hujan turun deras, material vulkanik yang berada di lereng dan alur sungai dapat terbawa bersama aliran air sehingga meningkatkan potensi banjir lahar.
Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar aliran sungai. Sejumlah kegiatan di kawasan yang terdampak peningkatan debit air harus dihentikan sementara demi menghindari risiko keselamatan. Pembangunan sabo dam di kawasan Curah Kobokan, misalnya, sempat terganggu akibat kenaikan debit air yang cukup drastis.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan banjir lahar. Petugas juga menyampaikan informasi kepada masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar bantaran sungai agar meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras terjadi di kawasan Gunung Semeru.
Selain Besuk Kobokan, masyarakat diminta mewaspadai sejumlah aliran sungai lain yang berhulu di kawasan Semeru, seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Anak-anak sungai yang terhubung dengan aliran utama juga berpotensi mengalami peningkatan debit apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.
Gunung Semeru saat ini masih berada pada status aktivitas vulkanik Level III atau Siaga. Dengan kondisi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi masyarakat di sekitar gunung.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Di luar kawasan tersebut, warga juga diminta menjauhi sempadan sungai sejauh 500 meter dari tepi aliran Besuk Kobokan karena masih terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Selain ancaman banjir lahar, warga juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut masih memiliki potensi bahaya lontaran batu pijar. Masyarakat juga perlu memperhatikan perkembangan cuaca dan informasi resmi dari petugas sebelum melakukan kegiatan di sekitar lereng maupun aliran sungai.
BPBD Lumajang mengingatkan agar warga dan para penambang pasir tidak mengabaikan peringatan ketika hujan deras mengguyur kawasan puncak. Aktivitas di sekitar aliran sungai perlu segera dihentikan apabila debit air mulai meningkat atau petugas mengeluarkan peringatan bahaya.
Hingga saat ini, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Semeru dan potensi banjir lahar terus dilakukan oleh petugas. Masyarakat di kawasan rawan diimbau tetap mengikuti rekomendasi keselamatan serta mengutamakan informasi resmi guna mengantisipasi perubahan kondisi secara tiba-tiba.
Jurnalis : Damara Rizky Elisyah
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !