A
CILEGON – Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi yang sebelumnya mengalami kebakaran di perairan sekitar Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, dilaporkan terbalik hingga tenggelam pada Rabu malam, 21 Oktober 2026. Insiden tersebut terjadi ketika proses penanganan pascakebakaran masih berlangsung dan aparat kepolisian belum dapat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengungkap penyebab pasti munculnya api.
Kepolisian Daerah (Polda) Banten menjelaskan bahwa penyidik belum melakukan pemeriksaan langsung terhadap lokasi kebakaran karena kondisi badan kapal dan material di dalamnya masih memiliki suhu tinggi. Situasi tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan petugas apabila proses olah TKP dilakukan sebelum kondisi dinyatakan aman.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, mengatakan bahwa keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu pelaksanaan pemeriksaan. Setelah kebakaran terjadi, tim harus memastikan kondisi kapal memungkinkan untuk diperiksa secara menyeluruh tanpa menimbulkan risiko tambahan.
Menurut keterangan kepolisian, suhu panas yang masih tersisa pada badan kapal serta material di bagian dalam menjadi kendala utama dalam proses penyelidikan awal. Oleh karena itu, petugas belum dapat memaksakan pemeriksaan di lokasi sebelum situasi benar-benar aman. Penanganan dilakukan secara bertahap sambil menunggu kondisi kapal memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah mengalami kebakaran, kondisi KMP Batumandi terus dipantau oleh petugas yang berada di sekitar lokasi kejadian. Pada Rabu malam, posisi bagian belakang atau buritan kapal terlihat semakin menurun hingga akhirnya kapal miring ke sisi kiri dan terbalik.
Berdasarkan keterangan Polda Banten, peristiwa terbaliknya kapal terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Ketika kejadian berlangsung, kapal patroli polisi KP XXIII-2013 sedang melakukan pengamanan di sekitar lokasi KMP Batumandi yang sebelumnya terbakar.
Kapal diduga mengalami ketidakstabilan setelah kebakaran yang menyebabkan kondisi fisiknya mengalami kerusakan. Namun, penyebab pasti terbaliknya KMP Batumandi masih memerlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut dari pihak berwenang.
Insiden tersebut menambah rangkaian penanganan kecelakaan laut yang melibatkan kapal penyeberangan tersebut. Sebelumnya, KMP Batumandi mengalami kebakaran saat berada di perairan sekitar Pelabuhan Merak ketika menjalani proses menuju dermaga. Setelah api berhasil ditangani, kondisi kapal tetap menjadi perhatian karena kerusakan yang ditimbulkan dan potensi dampaknya terhadap keselamatan pelayaran.
Kebakaran KMP Batumandi pertama kali dilaporkan pada Selasa, 20 Oktober 2026. Kapal tersebut diketahui sedang melakukan perjalanan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak, Banten. Dalam perjalanan menuju dermaga, petugas mendeteksi adanya percikan api di bagian buritan kapal, tepatnya pada dek atas yang digunakan untuk mengangkut kendaraan berukuran kecil.
Berdasarkan informasi yang disampaikan PT ASDP Indonesia Ferry, tanda-tanda kebakaran terdeteksi sekitar pukul 16.15 WIB. Petugas gabungan kemudian melakukan penanganan untuk mengendalikan api sekaligus mengevakuasi penumpang dan awak kapal dari lokasi yang berpotensi membahayakan.
Penanganan melibatkan sejumlah unsur, termasuk kepolisian, petugas pelabuhan, dan tim penyelamat. Koordinasi dilakukan untuk memastikan proses evakuasi berjalan dengan aman serta mengurangi risiko terhadap penumpang, awak kapal, dan pengguna jasa penyeberangan lainnya.
Dalam proses penanganan tersebut, seluruh penumpang dan awak kapal dilaporkan berhasil dievakuasi. PT ASDP Indonesia Ferry menyampaikan bahwa sebanyak 420 penumpang berhasil diselamatkan. Sebagian penumpang sempat mendapatkan penanganan medis akibat keluhan seperti luka ringan, sesak napas, dan syok setelah kejadian.
Selain menyelamatkan penumpang, petugas juga melakukan upaya pengamanan terhadap kendaraan yang berada di atas kapal. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kapal dan risiko yang mungkin timbul selama proses pemadaman serta evakuasi berlangsung.
Hingga perkembangan yang disampaikan pada Kamis, 22 Oktober 2026, penyebab pasti kebakaran KMP Batumandi belum dapat dipastikan. Kepolisian menyatakan bahwa penyelidikan diperlukan untuk mengetahui sumber awal api serta faktor yang menyebabkan kebakaran terjadi.
Polri melalui unsur kepolisian perairan akan mendalami kemungkinan penyebab dari sisi teknis maupun nonteknis. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah kebakaran berkaitan dengan gangguan teknis pada kapal atau faktor lain yang perlu ditelusuri lebih jauh.
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia juga menyampaikan bahwa penyelidikan akan dilakukan secara mendalam. Namun, kemungkinan penyebab yang masih diperiksa tidak dapat dianggap sebagai kesimpulan sebelum didukung hasil pemeriksaan dan bukti yang memadai.
Selain kepolisian, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga diharapkan melakukan pemeriksaan sesuai kewenangannya, khususnya terkait aspek keselamatan dan teknis transportasi. Hasil pemeriksaan dari pihak berwenang nantinya akan menjadi bagian penting dalam menjelaskan kronologi serta faktor yang menyebabkan terjadinya kebakaran.
Keterangan saksi menjadi salah satu bagian yang diperlukan dalam proses penyelidikan. Polda Banten menyebut telah meminta keterangan dari sejumlah penumpang dan pengemudi kendaraan yang berada di KMP Batumandi ketika insiden berlangsung. Informasi tersebut akan digunakan untuk membantu menyusun rangkaian kejadian sebelum, selama, dan setelah kebakaran.
Terbaliknya KMP Batumandi di perairan Merak juga menimbulkan perhatian terhadap keselamatan lalu lintas kapal di sekitar Pelabuhan Merak. Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur penyeberangan penting yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra sehingga keberadaan bangkai kapal perlu ditangani secara terencana.
Polda Banten berkoordinasi dengan Vessel Traffic Service (VTS) Merak untuk mengantisipasi potensi gangguan terhadap aktivitas pelayaran. Koordinasi tersebut diperlukan agar kapal-kapal yang melintas dapat memperoleh informasi mengenai kondisi di sekitar lokasi kejadian dan mengambil langkah yang sesuai demi keselamatan.
Selain itu, kepolisian juga menjalin koordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk membahas langkah penanganan bangkai kapal. Salah satu upaya yang direncanakan adalah proses pengapungan kembali atau refloating guna mendukung pemeriksaan lebih lanjut.
Penanganan bangkai kapal membutuhkan perencanaan yang cermat dengan memperhatikan kondisi fisik kapal, keselamatan petugas, serta situasi perairan di sekitarnya. Proses tersebut juga perlu diselaraskan dengan kebutuhan penyelidikan agar bukti yang diperlukan tetap dapat diperiksa oleh pihak berwenang.
PT ASDP Indonesia Ferry menyatakan akan berkoordinasi dengan instansi terkait dalam penanganan lanjutan KMP Batumandi. Perusahaan juga mendukung proses pemeriksaan yang dilakukan aparat dan lembaga berwenang untuk mengetahui penyebab insiden secara menyeluruh.
Selain fokus terhadap penanganan kapal, ASDP sebelumnya memastikan bahwa seluruh penumpang berhasil dievakuasi dan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan. Perusahaan juga menyampaikan bahwa aspek keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi prioritas utama selama proses penanganan berlangsung.
Untuk penanganan dampak terhadap penumpang, ASDP turut berkoordinasi dengan pihak terkait mengenai pendataan kerugian material dan mekanisme penanganan klaim sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut diperlukan agar dampak insiden terhadap pengguna jasa dapat ditangani secara terkoordinasi.
Sementara itu, proses pemeriksaan penyebab kebakaran masih menunggu kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan secara aman dan menyeluruh. Kepolisian maupun pihak terkait diharapkan dapat menyampaikan perkembangan berdasarkan hasil verifikasi di lapangan sehingga informasi yang diterima masyarakat tetap akurat.
Peristiwa yang menimpa KMP Batumandi menjadi pengingat mengenai pentingnya penerapan standar keselamatan dalam transportasi laut, termasuk pemeriksaan teknis kapal, kesiapan peralatan penanganan keadaan darurat, serta koordinasi antara operator kapal dan petugas di pelabuhan.
Penanganan insiden tidak hanya berfokus pada pemadaman api dan evakuasi penumpang, tetapi juga mencakup penyelidikan untuk mengetahui penyebab kejadian, pengamanan lokasi, serta upaya mencegah gangguan terhadap jalur pelayaran. Seluruh tahapan tersebut harus dilakukan berdasarkan prosedur dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hingga informasi ini disusun, penyebab pasti kebakaran KMP Batumandi masih dalam proses pendalaman. Polisi belum dapat melakukan olah TKP sebelum kondisi kapal dinilai aman, sementara koordinasi untuk penanganan bangkai kapal dan pengamanan jalur pelayaran terus dilakukan oleh instansi terkait.
Masyarakat diharapkan menunggu hasil penyelidikan resmi dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh bukti diperiksa. Hasil pemeriksaan teknis dan keterangan para saksi diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai rangkaian peristiwa yang menyebabkan KMP Batumandi terbakar hingga akhirnya terbalik di perairan Merak.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !