A Riset IDI Ungkap Fakta di Balik Rasa Manis Tipis Air Mineral, Ternyata Dipengaruhi Komposisi Mineral - FAKTA HARI INI

Riset IDI Ungkap Fakta di Balik Rasa Manis Tipis Air Mineral, Ternyata Dipengaruhi Komposisi Mineral

Riset IDI Ungkap Fakta di Balik Rasa Manis Tipis Air Mineral, Ternyata Dipengaruhi Komposisi Mineral

JAKARTA – Sensasi manis tipis yang terkadang terasa saat meminum air mineral ternyata dapat dijelaskan melalui kajian ilmiah. Rasa tersebut tidak selalu berasal dari penambahan gula atau pemanis buatan, melainkan dapat berkaitan dengan komposisi dan keseimbangan mineral yang terkandung di dalam air. Temuan ini menjadi perhatian karena selama ini rasa air mineral kerap dianggap sebagai persoalan selera pribadi, padahal karakteristiknya dapat diteliti melalui analisis kimia dan pengujian sensorik.

Penelitian berjudul Linking Ionic Composition to Sensory Attributes in Mineral Water: A Temporal Sensory and Consumer Perception Study mengkaji hubungan antara kandungan mineral, persepsi rasa, dan tingkat penerimaan konsumen terhadap air mineral. Penelitian tersebut dipaparkan oleh principal researcher, dr. Dien Kurtanty, dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (21/10/2026). Kajian ini berupaya menjelaskan bagaimana perbedaan komposisi mineral dapat memengaruhi pengalaman seseorang ketika meminum air.

Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan dua pendekatan untuk mengevaluasi karakteristik rasa air mineral. Metode pertama adalah uji hedonik yang melibatkan 100 responden untuk menilai tingkat kesukaan terhadap rasa, sensasi setelah menelan air atau aftertaste, kesegaran, serta penerimaan secara keseluruhan. Metode kedua menggunakan Temporal Check-All-That-Apply (TCATA), dengan melibatkan 50 panelis semi-terlatih untuk mengamati perubahan sensasi rasa selama 40 detik setelah air dikonsumsi.

Penggunaan kedua metode tersebut memungkinkan peneliti menilai bukan hanya tingkat kesukaan konsumen, tetapi juga bagaimana karakter rasa muncul dan berubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, sensasi yang dirasakan ketika air pertama kali menyentuh lidah dapat dibedakan dari kesan yang tertinggal setelah air ditelan. Pendekatan ini membantu memberikan gambaran yang lebih terperinci mengenai pengalaman sensorik konsumen.

Salah satu temuan yang menjadi sorotan adalah munculnya sensasi thin sweet, yaitu rasa manis ringan yang terdeteksi pada salah satu sampel air mineral. Sensasi tersebut ditemukan pada Sampel A tanpa penambahan gula maupun pemanis. Menurut penjelasan peneliti, karakter rasa ini berkaitan dengan komposisi mineral dalam sampel, termasuk kandungan bikarbonat dan keseimbangan ion di dalamnya.

Berdasarkan hasil analisis, Sampel A memiliki kandungan bikarbonat sebesar 267 miligram per liter dan natrium 46,98 miligram per liter. Dalam pengujian TCATA, sensasi manis ringan pada sampel tersebut paling banyak terdeteksi pada rentang detik ke-10 hingga ke-20 setelah dikonsumsi. Persepsi tersebut kemudian berangsur menurun seiring berjalannya waktu.

Selain sensasi manis ringan, pengujian juga mengamati sejumlah karakter rasa lain, yakni segar atau fresh, pahit mineral atau mineral bitter, sensasi menyerupai logam atau metallic, serta rasa sepat atau astringent. Setiap sampel memperlihatkan pola persepsi yang berbeda. Sampel C, misalnya, menunjukkan persepsi pahit mineral yang lebih tinggi pada fase awal dan sensasi sepat pada fase akhir tertentu.

Hasil uji hedonik juga memperlihatkan bahwa jumlah total mineral yang lebih tinggi tidak otomatis membuat air lebih disukai konsumen. Sampel B memiliki total padatan terlarut atau Total Dissolved Solids (TDS) sebesar 260 miligram per liter, lebih tinggi dibandingkan Sampel A yang mencapai 198 miligram per liter. Sementara itu, Sampel C memiliki TDS sebesar 6 miligram per liter.

Meskipun Sampel B mempunyai nilai TDS tertinggi, Sampel A justru memperoleh skor penerimaan paling tinggi pada seluruh atribut yang diuji. Pada skala lima, Sampel A mencatat skor 3,60 untuk rasa, 3,36 untuk aftertaste, 3,92 untuk kesegaran, dan 3,78 untuk penerimaan keseluruhan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa preferensi konsumen tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan jumlah total mineral yang terkandung dalam air.

TDS merupakan parameter yang menggambarkan jumlah keseluruhan zat terlarut dalam air, termasuk berbagai mineral. Namun, angka tersebut tidak menjelaskan secara lengkap jenis mineral yang terkandung maupun proporsi masing-masing unsur. Karena setiap mineral dapat memberikan karakter rasa berbeda, keseimbangan komposisi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika menilai profil sensorik air mineral.

Secara umum, air mineral dapat mengandung sejumlah unsur terlarut, seperti kalsium, magnesium, natrium, kalium, bikarbonat, dan klorida. Komposisi tersebut dapat berbeda bergantung pada sumber air dan karakteristik geologis yang dilaluinya. Perbedaan jenis serta konsentrasi mineral memungkinkan air yang terlihat sama-sama jernih memiliki sensasi berbeda ketika diminum.

Meski demikian, sensasi manis ringan tidak boleh langsung dijadikan patokan tunggal untuk menentukan kualitas maupun keamanan air minum. Rasa yang dirasakan lidah merupakan salah satu karakteristik sensorik, sedangkan keamanan air perlu dinilai berdasarkan parameter yang sesuai, termasuk hasil pengujian kualitas air. Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan informasi produk dan memastikan air yang dikonsumsi memenuhi persyaratan kualitas yang berlaku.

Peneliti juga mengingatkan bahwa hasil kajian tersebut memiliki keterbatasan. Penelitian hanya melibatkan tiga sampel air mineral, sementara respondennya didominasi kelompok usia 18–23 tahun. Dengan cakupan tersebut, temuan mengenai hubungan antara komposisi mineral, sensasi rasa, dan preferensi konsumen belum dapat digeneralisasi untuk seluruh merek air mineral maupun semua kelompok usia.

Penelitian lanjutan dengan jumlah sampel produk dan karakteristik responden yang lebih beragam masih diperlukan untuk menguji konsistensi temuan tersebut. Kajian tambahan juga dapat membantu memperjelas bagaimana kombinasi mineral memengaruhi persepsi rasa pada kelompok konsumen yang berbeda. Dengan demikian, hasil penelitian saat ini dapat dipandang sebagai salah satu dasar untuk memahami karakteristik sensorik air mineral, bukan sebagai kesimpulan yang berlaku bagi seluruh produk.

Temuan ini memperlihatkan bahwa sensasi manis tipis pada air mineral dapat memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan komposisi mineral, bukan semata-mata persepsi subjektif. Namun, tingkat kesukaan terhadap rasa air tetap dapat berbeda pada setiap orang. Pemahaman mengenai komposisi mineral dan keterbatasan hasil penelitian diharapkan membantu masyarakat menyikapi karakter rasa air minum secara lebih informatif.

Jurnalis : Wulandari

author avatar
Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !