A
Bandung – Kota Bandung tidak hanya dikenal dengan destinasi wisata dan udara sejuknya, tetapi juga memiliki beragam tempat kuliner yang menjadi pilihan masyarakat untuk berkumpul. Salah satunya adalah Kedai Roti Ibu Saya, sebuah tempat makan bernuansa vintage yang ramai dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, hingga keluarga. Menariknya, keramaian kedai ini tetap terlihat meskipun malam semakin larut.
Berdasarkan laporan detikTravel yang terbit pada Senin, 19 Oktober 2026, suasana ramai di Kedai Roti Ibu Saya masih terlihat sekitar pukul 21.00 WIB. Pada jam tersebut, pengunjung terus berdatangan untuk memesan makanan, menikmati roti, maupun menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga. Sebagian pengunjung bahkan harus mengantre sebelum mendapatkan pesanan.
Pengunjung yang datang memiliki latar belakang beragam. Ada pelajar yang baru menyelesaikan kegiatan sekolah, mahasiswa yang ingin bersantai setelah kuliah, pasangan muda, hingga pekerja kantoran yang mencari tempat untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas seharian. Keberagaman tersebut membuat kedai ini tidak sekadar menjadi tempat membeli makanan, tetapi juga ruang berkumpul yang diminati masyarakat di Bandung.
Salah satu daya tarik utama Kedai Roti Ibu Saya adalah konsep interiornya yang mengusung nuansa vintage. Sentuhan klasik terlihat melalui dekorasi dan berbagai pajangan bergaya tempo dulu. Penataan tersebut menghadirkan suasana hangat yang mengingatkan pengunjung pada kedai rumahan, sehingga cocok untuk mereka yang ingin menikmati waktu santai dalam lingkungan yang nyaman.
Konsep klasik tersebut juga diterapkan hingga ke sejumlah bagian ruangan, termasuk area kamar mandi. Detail dekorasi yang dibuat senada memperkuat karakter tempat ini. Di tengah tren kafe modern dengan desain minimalis, suasana vintage menjadi ciri khas yang memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Selain desain interior, kebersihan ruangan turut menjadi perhatian. Meski pengunjung datang silih berganti, kebersihan di berbagai sudut kedai tetap terjaga. Faktor kenyamanan seperti ini menjadi bagian penting bagi tempat makan yang sekaligus digunakan sebagai lokasi berkumpul dalam waktu cukup lama.
Harga makanan dan minuman yang relatif terjangkau juga menjadi alasan kedai tersebut digemari pelajar dan mahasiswa. Septia, seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang tinggal di kos, mengaku memilih tempat tersebut karena harga menunya sesuai dengan anggaran yang dimilikinya. Menurutnya, suasana estetik dengan dekorasi vintage menjadi nilai tambah selain harga yang ramah bagi kantong mahasiswa.
Bagi mahasiswa yang perlu mengatur pengeluaran sehari-hari, harga makanan menjadi salah satu pertimbangan penting ketika memilih tempat makan. Kedai dengan pilihan menu yang beragam dan harga terjangkau dapat menjadi alternatif untuk menikmati waktu bersama teman tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu besar.
Dari sisi kuliner, Kedai Roti Ibu Saya menawarkan berbagai pilihan makanan dan minuman. Pengunjung dapat menemukan aneka roti klasik yang dipajang untuk dipilih, beragam hidangan penutup atau dessert, serta minuman yang dapat dinikmati saat bersantai. Pilihan tersebut membuat kedai ini dapat dikunjungi untuk sekadar membeli roti maupun menikmati makanan sambil mengobrol.
Salah satu menu yang direkomendasikan Septia adalah milk bun. Roti tersebut memiliki tekstur lembut dan menurutnya tidak menimbulkan rasa enek saat disantap. Karakter roti yang ringan menjadikannya pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati camilan tanpa harus memesan hidangan berat.
Untuk pengunjung yang datang pada malam hari dengan kondisi lapar, tersedia pula pilihan makanan utama, termasuk mi Jawa dan mi Aceh. Kedua hidangan tersebut dapat dipesan dalam varian goreng maupun kuah. Kehadiran menu berat memberikan pilihan lebih luas bagi pelanggan yang ingin makan malam sekaligus menikmati suasana kedai.
Arina, seorang pelajar berusia 16 tahun, juga mengaku menyukai kedai tersebut karena pilihan makanannya beragam dan harganya sesuai dengan anggaran pelajar. Ia menilai tempatnya cukup luas untuk berkumpul bersama teman-teman setelah kegiatan sekolah. Salah satu menu yang menarik perhatiannya adalah pizza meat ukuran besar yang disebut dijual dengan harga Rp13.000.
Menurut Arina, popularitas Kedai Roti Ibu Saya juga terbantu oleh ulasan yang beredar di TikTok. Konten media sosial membuat lebih banyak anak muda mengetahui keberadaan tempat tersebut dan tertarik untuk berkunjung. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial dapat berperan dalam memperkenalkan tempat kuliner kepada calon pelanggan, khususnya kalangan muda yang aktif mencari rekomendasi tempat makan melalui internet.
Meski demikian, daya tarik sebuah kedai tidak hanya bergantung pada popularitas di media sosial. Harga yang sesuai dengan kemampuan pengunjung, pilihan makanan, kebersihan, serta kenyamanan tempat turut memengaruhi pengalaman pelanggan. Perpaduan berbagai unsur tersebut dapat menjelaskan mengapa Kedai Roti Ibu Saya tetap didatangi pengunjung, termasuk pada hari kerja ketika sebagian orang masih memiliki aktivitas pada keesokan harinya.
Keramaian pada malam hari juga memperlihatkan bagaimana tempat makan kini memiliki fungsi sosial bagi masyarakat perkotaan. Kedai tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar cerita, mengerjakan tugas, atau melepas penat setelah beraktivitas. Bagi pelajar dan mahasiswa yang memiliki keterbatasan anggaran, tempat dengan harga terjangkau dan suasana nyaman menjadi pilihan tersendiri.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, Kedai Roti Ibu Saya dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan kuliner di Bandung, terutama bagi pencinta roti dan tempat nongkrong bernuansa klasik. Pengunjung sebaiknya memperhitungkan kemungkinan antrean, khususnya pada malam hari ketika kedai ramai. Informasi mengenai alamat lengkap, jam operasional, dan harga menu terbaru dapat dipastikan melalui kanal resmi kedai sebelum berangkat.
Kedai Roti Ibu Saya memperlihatkan bahwa tempat kuliner tidak selalu harus menawarkan konsep mewah untuk menarik perhatian pengunjung. Suasana vintage, pilihan makanan yang beragam, harga yang bersahabat, dan tempat yang nyaman dapat menjadi kombinasi yang diminati berbagai kalangan. Dengan karakter tersebut, kedai ini menjadi salah satu gambaran berkembangnya budaya nongkrong dan wisata kuliner di Kota Bandung.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !