Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, Radea Respati Paramudhita, memberikan apresiasi terhadap program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung. Program yang mengusung konsep ecopreneurship berbasis pemanfaatan limbah plastik rumah tangga tersebut dinilai menjadi langkah positif dalam memberikan keterampilan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga binaan.
Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian pengetahuan mengenai pengolahan limbah, tetapi juga mendorong peserta untuk melihat potensi ekonomi dari barang-barang yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai. Melalui kreativitas dan keterampilan, limbah plastik dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi dikembangkan menjadi sumber pendapatan.
Radea menilai pemberdayaan warga binaan seharusnya tidak berhenti pada pelatihan teknis. Setelah memperoleh keterampilan, mereka juga membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan, terutama dalam mengembangkan produk, meningkatkan kualitas, melakukan promosi, hingga memperoleh akses ke pasar.
Menurutnya, konsep ecopreneurship memiliki manfaat ganda. Selain membantu mengurangi jumlah limbah plastik yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan ekonomi warga binaan. Dengan demikian, program lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya pemberdayaan masyarakat.
Radea juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pihak lembaga pemasyarakatan, dunia usaha, serta masyarakat. Sinergi antarpihak diperlukan agar hasil pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan dapat berkembang menjadi program pemberdayaan yang memiliki keberlanjutan.
Perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam memberikan pengetahuan, inovasi, serta pendampingan kepada masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, ilmu yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang ada di tengah masyarakat.
Dalam konteks warga binaan, keberhasilan program juga tidak semata-mata dapat diukur dari jumlah produk yang berhasil dibuat. Peningkatan keterampilan, tumbuhnya rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri setelah menyelesaikan masa pembinaan menjadi bagian penting dari hasil yang diharapkan.
Radea berharap program ecopreneurship yang dilaksanakan Universitas Widyatama dapat dilanjutkan dengan pendampingan yang lebih luas. Produk yang dihasilkan warga binaan, menurutnya, perlu mendapatkan kesempatan untuk diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai kanal pemasaran, termasuk jaringan pelaku UMKM dan ruang promosi yang tersedia di Kota Bandung.
Dukungan dari Pemerintah Kota Bandung juga dinilai dapat memperkuat keberlanjutan program tersebut. Pemerintah dapat berperan dalam membuka akses dan mempertemukan hasil kreativitas warga binaan dengan berbagai pihak yang berpotensi membantu pengembangan maupun pemasaran produk.
Program seperti ini diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya dalam aspek lingkungan, tetapi juga dari sisi sosial dan ekonomi. Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai dapat menjadi salah satu contoh bahwa kegiatan pemberdayaan dapat dirancang dengan menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dan penguatan kemandirian ekonomi.
Radea pun berharap kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan warga binaan dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih berkelanjutan. Dengan adanya pendampingan, akses pasar, serta dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat terus dikembangkan dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Nama Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !